Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 September 2017

Kerjarlah Dia

izwie.com
Menurutku kata cinta terlalu indah untuk diucapkan dengan bercanda. Jadi aku tidak suka pada siapapun yang bermain-main dengan kata itu. Itu bagiku, tentu saja siapapun juga boleh berbeda denganku.

Termasuk kamu, terserah jika kamu anggap itu biasa saja. Tapi tidak bagiku, maka ketika kamu bilang mencintainya, jangan pupuskan sepercik harapannya bahwa kata-katamu itu memang benar adanya menurutnya, jikapun tidak, mungkin belum.

Maka kerjarlah dia, dan pastikan dengan sepasti-pastinya dia juga mencintaimu, aku ini perempuan, jadi tidak mau menyakiti hati sesama perempuan, kamu sudah memutuskan untuk mengejarnya, jadi kejarlah.

Dan jangan menggodanya dengan sesuatu yang membuatnya merasa tidak pasti kepadamu, karena dia juga butuh kepastian, bukan hanya kamu.

Aku kira memang aku tidak berarti apa-apa buatmu, jadi aku sudah mengambil keputusan yang benar. Bukan karena aku cemburu, aku hanya tidak ingin menyakiti perasaan perempuan.

Aku pernah merasakan disakiti, jadi kukira tidak perlu perempuan itu merasa tersakiti juga. Jika dia tidak sekuat aku gimana? Ah, itu mengerikan, aku dengar perempuan kalau sakit hati bisa sampai bunuh diri. Dan aku tidak mau membunuh siapapun, walau secara tidak langsung sekalipun.

Dan kamu pun tak perlu mengkhawatirkanku, tapi apakah kamu mengkhawatirkanku? Kurasa tidak. Aku hanya ingin kamu tahu, aku baik-baik saja. Aku sudah pernah merasakannya, jauh lebih menyakitkan, jadi yang terjadi sekarang tidak ada apa-apanya.

Cinta selalu butuh kepastian, kamu membenci sesuatu yang tidak pasti, aku juga, makanya aku membiarkanmu mencari kepastian hatimu. Membantumu mencari kepastian hatimu.

Aku telah mencoba sesuatu yang seharusnya tidak perlu kucoba, tapi tidak perlu kusesali, setidaknya aku merasa lebih berani daripada kamu.

26 September 2017, ditulis Inet Bean saat sedang duduk.

Jumat, 22 September 2017

Intinya Saja

vemale.com

Pernahkah kamu seolah dipaksa menjadi peramal yang harus tahu apa saja maunya, tanpa dia katakan. Dan pernahkah, perbuatanmu serba salah dimatanya? Hanya dia yang seolah benar, hanya dia saja yang sibuk mengertimu, hanya dia saja yang berjuang.

Jika pernah, berarti kita senasib. Pernah dalam sehari dia tidak mengabariku, lalu untuk menunjukkan perhatianku, aku mengirim pesan dan menelponnya, tapi tidak ada balasan. Selang beberapa jam aku kembali menghubunginya.

Entah dia itu ke mana, apakah sedang amat sibuk dengan pekerjaannya atau apa. Paginya dia baru mengabariku, dan aku agak kesal karena dia baru mengabariku paginya. Memangnya semalam semenit saja tidak bisa menyempatkan untuk mengirim pesan padaku?

Dan alangkah terkejutnya aku, justru dia yang marah-marah padaku. Katanya aku seharusnya mengerti dia, katanya aku tidak perlu kesal padanya, katanya aku harus peka, katanya kalau dia tidak mengabari berarti sedang sibuk. Kenapa jadi aku yang jadi terdakwa sih?

Di lain waktu saat dia seharian tidak ada kabar, aku pun tidak menghubunginya sama sekali. Bukan karena aku marah padanya, tapi bukankah itu kemauannya? Paginya dia tidak mengabariku lagi.

Baru malamnya dia mengirim pesan padaku. Pesan yang menyebalkan. Dia menyalahkanku karena aku tidak menghubunginya. Damn!

Itu orang maunya apa sih? Kok kzl ya?

Jika kamu mengira dia itu perempuan, kamu salah. Dia seoarang laki-laki. Jadi, perempuan selalu benar itu bagiku mitos. Mitos tersebut sengaja dibesar-besarkan, justru agar terlihat bahwa laki-laki sesungguhnya yang selalu benar. Merekalah yang selalu tersiksa. Padahal sesungguhnya semua itu hanyalah relativitas.

Dan please. Siapapun kamu, laki-laki atau perempuan. Katakan intinya saja. Terlebih jika dia tidak peka. Pasanganmu bukan peramal. Tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu inginkan.

22 September 2017, Pekalongan kota spesial.

Jumat, 15 September 2017

Sejujurnya Aku Pecemburu

aceshowbis.

Saat kau bilang cinta, aku ingin hanya kepadaku saja kau katakan kata itu. Aku tidak suka jika kata cinta kau umbar begitu saja dengan perempuan lain, sekalipun itu sekadar becanda.

Bukan aku terlalu mengekang, kubiarkan kau becanda dengan perempuan manapun, tapi tidak perlu kau ucapkan dengan murah kata cinta, karena perempuan itu perasa, bagaimana jika dia pikir kau serius? Atau kau memang serius?

Saat kau bilang cinta, aku ingin kau membuktikannya dengan perilakumu, bukan sekadar berkata-kata saja, jika hanya berkata, banyak yang hanya bisa begitu. Lalu apa bedanya kau dengan laki-laki yang tidak serius itu?

Aku tidak memaksamu, tapi kau seharusnya sadar diri. Tidak perlu kukatakan, atau jika kau punya caramu sendiri, setidaknya katakan padaku bagaimana, biar aku yakin setidaknya, tidak perlu berlebihan. Aku selalu lebih suka yang sederhana. Entah, dengan bagaimana, terserah kau.

Saat kau bilang sayang, bisakah kau buktikan dengan setidaknya tidak membuatku berpikir negatif terhadapmu? Tidak perlu kau melaporkan tiap hari apa yang kau lakukan, jaga saja hatiku lewat apa-apa yang kau lakukan.

Apa aku berlebihan? Jika iya, kau tanyakan saja pada perempuan-perempuan. Bisa jadi mereka bahkan lebih menuntut dariku. Atau bahkan mereka akan kasihan padaku.

Saat kau bilang sayang, bisakah kau hanya bilang padaku saja? Tidak peduli itu bercanda, aku tidak suka kau bilang pada perempuan lain, karena sejujurnya aku pecemburu.

Aku tahu, cemburu hanya untuk orang-orang yang tidak yakin pada dirinya sendiri, tapi itulah yang terjadi, kadang aku tidak yakin pada diriku sendiri. Aku cemburu... aku cemburu... aku cemburu....

Jadi, siapkah kau begitu ketika memutuskan untuk bilang cinta padaku?

Seharusnya harus siap, bahkan semua pasangan memang harus menjaga hati pasangannya kan?

15 September 2017, ditulis Inet Bean saat sedang bingung mau nulis apa, di graha mahasiswa LPM Al-Mizan, ih kok aku kek aktivis ya sering nulis di sini?

Rabu, 13 September 2017

Dia yang Datang dan Berlalu Tanpa Pamit

http://www.animepjm.com

Kemarin aku melihatmu, pergi kondangan bersama perempuan, aku tidak tahu dia siapa kamu dan aku pun tidak mau tahu. Tapi kamu seakan menghindar untuk bertemu denganku, bertemu tatap saja seolah kamu takut.

Entah apa yang membuatmu seperti itu, kukira karena kamu dulu pernah meninggalkanku tanpa sepeser kata pun, hilang begitu saja, tertelan tempat, tertelan waktu, tertelan sikapmu.

Atau kamu merasa tidak enak hati, karena kamu datang bersama perempuan dan bertemu denganku? Hampir saja mata kita bertemu, namun kamu buru-buru mengalihkan tatapanmu, apakah kamu tidak berani menatapku? Kurasa itu wajar saja, kamu merasa bersalah bukan? Tapi kamu memanglah bersalah, dan pengecut.

Sebenarnya aku tidak mau kita seperti itu, aku ingin menyapamu, bersikap biasa saja, layaknya teman lama yang bertemu. Hanya sesederhana itu saja, tapi kamu bahkan minta maaf saja tidak berani, walau begitu, aku sudah memaafkanmu, karena aku pun berhak untuk bahagia.

Kamu pernah datang begitu saja setelah lama tak bersua, saat itu kita seru-seruan berchatting, juga kamu main ke rumahku, lalu tidak lama kamu mengajakku ke pasar malam. Di situ tiba-tiba kamu mengungkapkan perasaanmu.

Masih ingatkah? Mungkin kamu berusaha keras melupakannya, tapi aku tidak pernah lupa akan hal itu, dan bagiku tidak perlu kulupakan, untuk jaga-jaga, jika kamu datang, tak akan lagi aku tertipu.

Aku tidak menjawab perasaanmu saat itu juga, entah, walau dulu aku pernah menyukaimu, tapi kedekatan itu terlalu cepat bagiku. Dan selepas itu, kamu justru menghilang, tidak ada kabar lagi tentangmu.

Beberapa minggu kemudian aku melihatmu mengupload foto bersama perempuan, dan kalian saling berkomentar mesra, tambahkan teman-temanmu yang berkomentar menggoda. Dan aku jadi tahu, saat kamu mengungkapkan perasaanmu, sesungguhnya kamu sudah punya dia.

Mulai sekarang, jika kamu membaca ini, saat bertemu denganku, bersikaplah biasa saja. Karena aku pun menuliskan ini dengan biasa saja, tidak ada rasa marah dan kecewa beberapa tahun lalu. Rasa itu sudah menguap, habis. Hingga kering, dan tak ada lagi yang bisa kurasakan saat bertemu denganmu.


Terimakasih, sudah membuat hatiku semakin kuat.

13 September 2017, Ditulis Inet Bean ditengah keramaian muskam kampus Ijo.

Selasa, 31 Januari 2017

Jomblonesia

http://beritafox.blogspot.co.id/2014/04/tipe-jomblo-di-dunia-nyata.html
Bayangkan! Dalam dua hari ini, ada tiga orang yang menghina-dinaku atas nama status jombloku. Jangan-jangan mereka berkonspirasi agar aku menuliskan sesuatu tentang jomblo? Atau alam mengingatkan statusku yang jomblo agar tidak terlalu sering menonton film romance? Yang paling masuk akal adalah karena aku merasa tersindir. Sedikit.

Yang paling aneh, coba renungkan, yang aneh aku atau Emakku. Liburan ini saking bosennya Emak lihat aku tiap hari di rumah. Akhirnya dia bilang, “Kamu liburan nggak keluar? Misalnya sama pacar?”

“Enggak punya pacar,” jawabku.

“Ya cari lah”

“Cari di mana?”

“Di pesbuk, cari pacar sekarang mah gampang, kalo dulu susah.”

Di sini aku merasa waktu seketika berhenti. Beku. Nih Emak, anaknya duduk manis di rumah, malah disuruh pergi, ntar giliran mau pergi diprotes. Kadang menjadi anak itu sesulit ini. Mencoba patuh dan durhaka akan menjadi seperti berjalan di atas lapisan es di laut ketika musim semi akan tiba. Harus hati-hati melangkah, salah sedikit akan tenggelam.

Oke kembali ke jomblo. Secara harfiah, jomblo itu ya single, jadi gak usah merasa lebih keren deh dengan menyebut diri single. Pada hakikatnya sama aja, enggak punya pasangan.  Tapi kalau ngomongi soal jomblo, jadi ingat di suatu hari....

“Net kamu tuh dari lahir udah jomblo terus sekarang pun kok masih jomblo-jomblo aja sih?”

“Lihat sekeliling kita? Sejauh mata memandang sekolahan ini, sejenis dengan kita. Gimana bisa terjadi reaksi tarik menarik kalau semuanya bermuatan positif? Nih kalau diumpamakan batu baterai, jadi blunder, enggak bisa nyala kalau buat nyalain lampu.”

“Net, aku itu ngomongin jomblo, bukan batu baterai. Ingat, kita ini berada di jurusan IPS. Undang-undang di jurusan IPS, dilarang membuat ujaran yang bermuatan IPA!”

“Okey okey... maaf, terkadang otak Einsteinku keluar dengan begitu aja, masih liar, maklum lah, belum dijinakkan.”

“Sekali lagi kamu ngomong mengeluarkan ujaran bermuatan IPA....”

“Stop. Jadi begini, aku akan menjelaskan tentang jomblonesia dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bahwasanya kemerdekaan ialah hak segala jomblo. Melihat ketimpangan sosial yang terjadi di sekolah kita ini, tidak memungkinkan untuk dilakukannya mobilitas sosial yang menjurus kepada interaksi asmara. Melihat rakyat sekolah kita yang homogen. Lihatlah, kita terbentur oleh tembok yang melebihi tembok Berlin di China...”

“Jepang, Net!”

“China!”

“Jepang!”

“China!”

Okay, cukup flashbacknya. Pada akhirnya mereka asik berantem dan obrolan itu melupakan tujuan awalnya, yaitu jomblo. Obrolan itu mirip dengan dua hari ini yang menimpaku. Persamaannya kalo mereka bertengkar ngotot tembok Berlin ada di China atau Jepang, padahal kan mudah, Tembok Berlin ya ada di Berlin, iya kan? Dan kalo obrolan dua hari tentang jomblo, kita sama-sama jomblo dan sama-sama saling hina.

(Sebenernya persamaannya di mana Net?)

Sebenernya sih, aku juga ragu apa yang aku katakan. Piss.... ☺

Inet Bean
31 Januari 2017