Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 September 2017

Musik Koplo dan Kecintaan Millenials akan Bahasa Lokal

Kompasiana.com

Biar tidak ada salah paham atau paham salah. Akan aku sebutkan musik koplo itu apa, jangan berprasangka dulu, oke? Karena sesungguhnya prasangka itu hanyalah prasangka. Apasih?

Jadi, musik koplo atau juga dangdut koplo adalah aliran suatu sub aliran dalam musik dangdut. Dengan ciri khas irama yang menghentak dari gendangnya. Aliran ini dipopulerkan oleh grup musik melayu atau yang biasa disingkat dengan OM.

Oke, itu kata wikipedia begitu, kalau mau lebih lengkap buka dan baca sendirilah, karena aku bukan mau menuliskan sejarah musik koplo, dan yang mau kubahas adalah musik koplo yang berbahasa Jawa, tahu kan?

Di antaranya yang berjudul Konco Mesra, Bojo Ketikung, Ditinggal Rabi, Kimcil Kepolen, Sayang, Jaran Goyang, dan lain-lain.

Nah, lagu-lagu itu lagi hits nih, aku tahu lagu-lagu itu gegara saat di kantor mahasiswa, kan sering tuh aku ngadem sekalian ngewifi gratis di situ, nah pertama denger, eh nih musik kok asik juga didengerin, lama-lama jadi suka, witing tresno jalaran soko kulino, wkwkwk....

Seperti dalam berteman yang gak pemilih, dalam menikmati musik pun, aku tidak pemilih, pemakan segala genre musik. Dari sholawat hingga murratal, dari pop hingga dangdut, dari jazz hingga hiphop, asalkan enak didengarkan mah lewat.

Dan yang membuatku senang, lagu itu berbahasa Jawa. Yang secara enggak langsung, tuh lagu ikut andil dalam upaya pelestarian budaya lokal, yakni bahasa Jawa. Asal kau tahu, aku ini termasuk manusia yang cinta budaya lokal.

Tapi kan bahasnya tentang percintaan, Net? Alah, alasan basi. Toh lagu-lagu sekarang tentang cinta semua, Bojo Ketikung dan Tak Selamanya Selingkuh itu Indah masih satu saudara, Konco Mesra dan Teman Tapi Mesra masih sedarah, Ditinggal Rabi masih sahabatan sama Melewatkanmu. Ah, dan bandingkan saja dengan lagu-lagu lain.

Masih mending tuh lagu bisa mengantarkan anak bangsa untuk mengerti dan suka bahasa Jawa. Toh Jaran Goyang dan Despacito lebih (sensor) mana coba?

Faktanya, bahasa daerah sekarang itu sudah mulai dilupakan orang tua dalam hal mengajari anaknya. Lihat saja, lebih banyak anak kecil yang bisa bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dibanding bahasa lokal, kek Jawa, Sunda atau pun Batak.

Dan, menurutku tidak terlalu buruk millenials yang suka musik koplo. (Ah itu pembelaanmu saja, Net.) Daripada Despacito? Nah loh nah loh... (Wah yo gapapa, asal gak tahu artinya.) Asem... wkwkwk.

Oke, pada akhirnya, harapanku adalah, bukan hanya ngefans sama pelantun lagunya wahai millenials, tapi ngefans jugalah sama budaya lokal, bahasa Jawa. (Ah, koe yo nulis nganggo bahasa Indonesia terus, Net) Ah, ribut koe.

23 September 2017, ditulis Inet Bean sambil mendengarkan “Konco Mesra”

Rabu, 20 September 2017

Tidak Perlu Berbagi Kesedihan

http://www.farizykun.net

“Kau baik-baik saja?” tanyaku.

“Iya, bahkan aku tidak pernah merasa sebaik ini, meskipun di sini aku sebagai mentor, tapi justru aku yang belajar banyak dari mereka.” katanya dengan menyunggingkan senyum.

“Tapi kau terlihat pucat.”

“Aku hanya sedikit kelelahan.”

Masih kuingat percakapanku denganmu ketika kita sama-sama menjadi mentor pesantren ramadan di sekolah menengah atas. Waktu itu matahari memang terik, di tambah berpuasa, jadi kukira itu menjadi alasan yang tepat untuk menganggapmu hanya kelelahan semata.

Sampai pada penutupan pesantren ramadan kau masih sehat-sehat saja, atau kau yang memang pintar menyembunyikannya dariku, dari kami, dari siswa-siswa.

Dan setelah lebaran, kabar itu begitu mengejutkanku, bagaimana mungkin? Kenapa tiba-tiba sekali? Kenapa tidak ada kabar apapun sebelumnya?

Tiba-tiba saja ada kabar bahwa kau meninggal dunia. Tapi kenapa? Ketika kulihat terakhir kali tidak ada tanda-tanda kau sakit parah atau sedang menjalani pengobatan dengan tubuh kurus, tubuhmu biasa saja.

Pagi-pagi aku dan teman-teman berangkat ke rumahmu, mengantarkanmu ke peristirahan terakhir. Terlihat teman-teman lain yang sudah berkumpul di sana dengan mata sembab, satu-dua terlihat masih menangis, yang lain menenangkan.

Ah, bahkan ternyata tetanggamu pun, tidak tahu perihal penyakitmu, seorang tetanggamu menceritakannya kepadaku tanpa kuminta. Baru setelah kau pergi, kita tahu sesungguhnya apa yang sedang kau rasakan beberapa waktu belakangan.

Aku belajar banyak hal darimu, kau paling rajin mengerjakan tugas kelompok, tidak sepertiku yang hanya kadang-kadang, kau murah senyum, suka berbagi kebaikan, dan tidak suka membagi kesedihan.

Bagaimana bisa kau menyembunyikan penyakitmu? Bukankah seharusnya kau butuh setidaknya dukungan moril? Bahkan kau hanya bilang pergi untuk berlibur yang sesungguhnya untuk kemoterapi. Kau terlalu kuat, aku belajar itu untukmu, tidak perlu berbagi kesedihan, tapi jadilah lilin yang menerangi, meski sakit dan akan lenyap pada waktunya.

Kini genap sebulan kau pergi, semoga kau ditempatkan di surga-Nya. Aamiin.

20 September 2017, ditulis Inet Bean setelah melihat puisi yang ditujukan seorang teman padanya.

Senin, 11 September 2017

Kepuasan antara jadi Objek Foto dan Fotografer

http://tipsfotografi.net/fotografer-harus-punya-flare.html

Di jaman sekarang, swafoto atau selfie sepertinya sudah menjadi kewajiban ketika ada acara tertentu atau sedang ada moment yang berkesan, bahkan adapula yang menjadikan swafoto sebagai obat, tiga kali sehari. Jika tidak swafoto dalam sehari, terasa ada yang salah dalam hidupnya.

Tetapi yang miris, sekarang swafoto tidak dilakukan ketika sedang bahagia saja, beberapa pernah kujumpai, abg yang swafoto saat dia sedang menangis, lalu diposting dengan caption tentang putus cinta yang memilukan, jujur saja postingan seperti itu membuat mataku pedih, dan buru-buru ingin mengenyahkannya dari beranda facebook-ku jika saja bisa.

Jadi, secara tidak langsung, swafoto dilakukan demi kepuasan hati, mereka melakukannya untuk mengungkapkan apa yang dirasakan, termasuk kepiluan hati dan disebarkan di media sosial. Hal itu bisa jadi adalah suatu bahaya psikologi.

Seperti pemuda Inggris yang depresi akibat sering berswafoto. Ia terobsesi untuk terlihat fotogenic, bahkan dalam sepuluh jam sudah 200 foto yang dia ambil, akibat dari tidak terpenuhi keinginannya, dia ingin mengakhiri hidupnya.

Beberapa bahaya psikologi dari hobi swafoto yang perlu diwaspadai yaitu gangguan penyakit mental, krisis kepercayaan diri, kepribadian narsis dan kecanduan. bahkan psikiater pemerintah Thailand telah mengimbau kepada pemuda-pemudinya agar tidak melakukan swafoto, karena bertambahnya pemuda galau yang membuat jumlah calon pemimpin generasi baru berkurang.

So, kurangilah berswafoto. Sebelum kecanduan hai pembaca blog lemping pena.
Lantas bagaimana soal kepuasan menjadi fotografer? Ah ini akan ku-share berdasarkan pengalaman pribadi saja, karena jujur saja aku lebih suka mengambil foto dari pada diambil foto. Aku sadar diri, aku ini tidak fotogenic, aku selalu pede dengan bilang kenyataannya lebih bagus daripada fotoku yang diambil tapi dalam hati bilangnya, heuheu.

Makanya aku lebih suka mengambil foto saja, tak jarang di beberapa acara, aku mendadak jadi fotografer, entah karena orang lebih berminat di foto, sehingga jika menjadi fotografer otomatis tidak difoto, atau karena memang aku yang bisa mengoperasikan kamera LDR, eh DSLR maksudku, padahal jujur saja aku tidak terlalu bisa mengerti pengaturannya, tapi setidaknya aku lumayan berwawasan soal mengambil angle, atau sukarela saja jadi fotografer, toh aku suka.

Saat mengambil foto, dan itu bagus, seperti ada kepuasan tersendiri, seperti mengabadikan moment istimewa, seperti menghasilkan seni yang estetik. Apasih? Aku bicara apa coba? Pahamkah? Untuk memahami, kamu coba saja sesekali jadi fotografer, ingat, tangkap moment istimewa, biasanya foto yang seakan bisa berbicara.


11 September 2017. Catatan Inet Bean.

referensi: http://doktersehat.com/hobi-selfie-waspadai-bahaya-psikologi-ini/

Testimoni pemateri yang puas atas foto yang kuambil, haha
agak narsis dikit gapapa yah.
Foto ini berbicara gak menurut kamu? Maksudku seperti menjelaskan ketiga objek sedang melakukan kegiatannya sendiri-sendiri.

Rabu, 09 Agustus 2017

Review Si Te

www.akibanation.com

Review     : Si Te
Penulis     : Wiwid Nurwidayati
Blog          : http://wiwid-nurwidayati.blogspot.co.id

Berdasarkan tugas kelas fiksi ODOP kali ini adalah me-review tulisan bergenre fiksi dari sesama teman ODOP. Nah, aku mendapat tugas mereview tulisan dari Bunda Wiwid. Mak-mak ODOP yang sekaligus menjadi PJ kelas fiksi. Wah, jadi agak gak enak. Tapi aku enak-enakin aja deh, daripada enggak ngerjain tugas, ya kan Bund?

Oke, jadi dilihat dari judulnya yaitu “Si Te” terdengar begitu singkat, padat dan misterius. Jadi, begitu baca judulnya, minat untuk membaca tiba-tiba meningkat secara signifikan. Untuk apalagi selain ingin tahu Si Te itu apa? Makhluk yang seperti apa? Atau jangan-jangan makanan dari mana?

Maka, akupun mulai membaca paragraf awal, dimulai dari sang Aku yang memaparkan kebiasaan seseorang, di sini penulis begitu detail menjelaskan ciri-ciri fisik seseorang yang dia tuturkan.

Lalu pada paragraf selanjutnya, penulis mulai memperkenalkan perangai tokohnya yang baik namun agak royal, yaitu ketika si tokoh mempersilakan tempat duduknya untuk seorang Ibu yang sudah tua dan saat si tokoh mengeluarkan rokok yang berkelas. Dan di paragraf selanjutnya masih tetap memaparkan perangai baik si tokoh.

Di paragraf terakhir, penulis membiarkan pembaca menebak kenapa si tokoh misterius tersebut disebut Si Te oleh sang Aku.


Tulisan tersebut bisa disebut flashfiction, di mana hanya terdapat konflik yang sederhana, namun penulis dapat menarik pembaca untuk menuntaskan membacanya. Mengenai kekurangan, tidak begitu besar, hanya terdapat typo sedikit.

Inet Bean, 9 Agustus 2017

Senin, 31 Juli 2017

Simple saja Menghadapi Writer's Block

https://www.theodysseyonline.com/10-stages-writers-block-writing-article

Tidak akan mudah untuk menuliskan bagaimana aku terbebas dari writer’s block. Maka dari itu aku memilih mengetik, agar lebih mudah. Mungkin saja. Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah, seperti mencoba memaparkan cara berhenti cegukan saat aku sendiri sedang cegukan.

Writer block (selanjutnya ditulis dengan WB, sekadar informasi, WB adalah akronim dari writer’s block) sendiri merupakan penyakit yang menyebalkan bagi penulis. WB adalah ketika semuanya terasa hambar,tiada lagi yang menarik untuk ditulis, tak ada gairah menulis, seperti segalanya terasa buntu dan stag. Setidaknya itu yang kurasakan.

Singkatnya WB itu mentok nulis. Penyebabnya tentu banyak, mulai dari penyebab yang mengada-ada sampai ada-ada saja. Seperti sibuk karena banyak tugas, itu sudah pasti masuk kategori mengada-ada. Sebab menulis bisa di mana dan kapan saja. Aku tidak sedang menyindir siapa-siapa, tapi aku menyindir diriku sendiri. Dengan sangat keras. Ah!

Adapun sebab lain, yaitu karena patah hati atau sakit hati. Ini masuk kategori ada-ada saja. Tetapi ini serius, benar adanya.  Tapi bukankah patah hati jadi bisa nulis apa yang dirasakannya, Net? Kau pernah sakit hati? jika pernah takkan pernah bertanya seperti itu.

Patah hati itu semacam alasan yang sangat pas untuk bermalas-malas. Benar-benar ada-ada saja kan? Tapi itulah hati, tidak bisa ditebak. Rumit. Tapi sudahlah, sekarang aku sedang tidak patah hati, jadi kemungkinan WBku agak sembuh. (Memalukan, silakan tertawakan aku, hahaha)

Jadi apa yang dilakukan untuk menyembuhkan WB?

Segala sesuatu pastinya dimulai dengan NIAT. Niat aja dulu untuk sembuh dari WB, atau niat menulis. Kalau niat aja enggak, gimana mau ke tahap selanjutnya?

Setelah itu, kau tutuplah matamu. Rasakan aura positif disekitarmu. Pastikan kau lakukan di tempat yang aman, sebab kalau tidak dikhawatirkan ketika kau membuka mata, barang-barangmu telah hilang. Aku tidak tanggung jawab ya...

Perlu diketahui, bahwa WB itu berbeda dengan tidak punya ide, WB lebih mengacu pada sulitnya mengungkapkan suatu ide ke dalam tulisan.

Maka dari itu, pada step selanjutnya, jika kau merasa sudah cukup tenang dan bisa mulai menulis, maka langsung tulis saja. Jika tidak, pergilah ke toko buku, jika dompetmu tidak memungkinkan, maka kusarankan ke perpustakaan saja, Baca Buku.

Bacalah buku yang menarik menurutmu, tidak perlu buku berat seperti sejarah Kerajaan Nusantara. Membaca buku ringan pun cukup. Karena pada dasarnya WB itu bisa disebabkan kurangnya nutrisi kosa-kata, dengan kata lain kurang baca.

Menurutku pribadi sih WB itu males aja intinya. Segalanya menurutku hanya alasan yang mengada-ada. Itu hanya menurutku saja sih, jika kau tidak percaya, itu hakmu.

#TugasFiksi5

Sabtu, 27 Mei 2017

APAKAH AGAMA ITU WARISAN? BUKAN, TENTU SAJA BUKAN.


Saya tidak akan menggunakan dalil salah satu agama untuk beragumen. Tentu itu dapat dengan mudah dipatahkan dengan mengatakan itu hanyalah klaim agama itu. Tetapi untuk mengatakan agama adalah warisan pun, itu tidak lebih dari opini semata. Maka kita akan lihat dengan kacamata sejarah, karena warisan tidak lepas dari yang namanya sejarah.

Tidak usah jauh-jauh, di Indonesia agama mayoritas adalah Islam. Apakah itu merupakan warisan? Perjalanan agama di Indonesia tidaklah singkat, dulu sekali paham animisme dan dinamisme yang menjadi kepercayaan di Indonesia, kemudian Hindu-Budha, lalu Islam dan Kristen.

Jika agama itu warisan, maka tidakkah sekarang seharusnya orang Indonesia beragama animisme dan dinamisme? Itu produk asli Nusantara, maka itulah warisan sejatinya, begitu bukan? Namun sayangnya beberapa kali Nusantara berganti-ganti agama. Jadi agama warisan itu tidak lestari dengan baik, maka agama bukanlah warisan, teman.

Lantas jika bukan warisan? Maka agama adalah pencarian tiada akhir. Lihatlah sekarang, masih adakah paham animisme dan dinamisme? Ternyata dalam pencariannya, Nusantara akhirnya mempunyai lima agama, itu tentu tidak terlepas dari pencarian, suatu pencarian tidak dilaksanakan dalam satu tahun dua tahun, namun beratus bahkan beribu tahun.

Manusia mempunyai akal tentu untuk berpikir, dalam pencarian agama, tentu manusia menggunakan segala inderanya untuk menyimpulkan agama apakah yang sempurna, setidaknya bagi pencariannya. Dan benar, kita tidak bisa memaksakan agama kita yang paling benar, tetapi kita harus mengimani bahwa agama kita yang paling benar.

Sang Budha harus meninggalkan segala gemerlap kerajaan, menjalani sikap hidup penuh kesucian, bertapa, berkalwat mengembara untuk menemukan kebenaran, dekat tujuh tahun lamanya, dan di bawah sebuah pohon, iapun memperoleh hikmat. Nabi Muhammad SAW harus berkhalwat di Gua Hira. Menghabiskan banyak waktunya sendirian untuk berdoa dan berspekulasi tentang aspek penciptaan. Ia mulai prihatin terhadap kesenjangan sosial, ketidak adilan, diskriminasi, perang antar suku, dan penyalahgunaan kekuasaan, tiga mil jauhnya dari Mekah untuk berkontemplasi dan berefleksi diri.

Tidak hanya dua agama di atas, begitu pula agama-agama lain diperoleh tidak dengan cara instan. Apa yang mereka dapat dari hal itu? Agama, Keimanan. Semua ada proses pencariannya, tidak lantas orangtua mereka memberi maklumat bahwa mereka harus beragama seperti orangtuanya.


Dan jaman sekarang tidak ada paksaan atas agama yang mau kamu anut, Teman. Kita bebas menentukan agama mana yang akan kita anut. Jika kamu merasa agamamu warisan, maka boleh jadi kamu belum melakukan pencarian tiada akhir, cari agamamu, dan katakan, agamaku bukan warisan, sebab aku lebih suka warisan berupa emas atau tanah.

1 Ramadhan 1438 H.

Jumat, 26 Mei 2017

Habib Luthfi


Siapa yang tak kenal Habib Luthfi? Tentu saja banyak yang belum kenal beliau, boleh jadi malah mendengar namanya pun baru kali ini. Tapi beliau pasti dikenal anak kecil yang menyenandungkan sholawat nabi, remaja-remaja yang cinta maulid Nabi, orang dewasa yang hobi mengunjungi majelis Rasulullah, dan tentu saja ulama-ulama, hingga ulama luar negeri.

Habib Luthfi adalah alim ulama asal Pekalongan, beliau sosok ulama berhati teduh, tatapan matanya tajam tetapi menentramkan, ucapannya berserasian dengan petuah Baginda Nabi Muhammad SAW, perangainya memanusiakan manusia, dan yang tak kalah penting cinta tanah air.

Tetapi siapa yang peduli selama masih ada ulama yang tiap hari diberitakan tv? Entah itu pemberitaan negatif atau positif, tetap saja itu ulama. Apa saja yang dilakukannya selalu benar. Begitulah sebagian orang berfikir. Ulama selalu benar. Benarkan? Bukankah yang Maha Benar adalah Tuhan? Bahkan Rasulullah yang dijamin perangainya pernah berlaku kurang baik hingga mendapat teguran dari Allah. Ingatkah saat Allah menegur Nabi dengan menurunkan surat Abasa yang artinya Bermuka Masam?

Jadi ungkapan ulama selalu benar tidak bisa diterima oleh akal. Ulama juga adalah manusia yang mempunyai nafsu dan iman, yang tentu saja dapat berbuat khilaf. Percaya pada ulama itu dianjurkan, tetapi manusia diberi akal, agar tahu membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Jadi percayalah selama ucapannya berserasian dengan Rasulullah, tetapi ingkarilah jika ada sesuatu sebab yang melatarbelakanginya. Sebab, masih banyak ulama yang bisa dijadikan panutan.

Pada orang-orang yang merasa kehilangan sosok ulama dan membutuhkan sosok ulama untuk diikuti, maka kuperkenalkan ulama sederhana yang ceramahnya menyejukkan, menyatukan, sekaligus menentramkan. Beliau adalah Habib Luthfi bin Yahya.

Memang beliau tidak riwa-riwi masuk tv, tapi tanyakan pada tetanggamu yang sering menghadiri majelis maulid Nabi, pasti beliau tahu, bahkan mengidolakan sosoknya. Jika beliau mau, beliau bisa muncul di tv setiap waktu, itu mudah saja. Beliau ini ketua perkumpulan ulama internasional (mudahnya bisa dikatakan seperti itu), sudah dua kali beliau mengadakan perkumpulan ulama internasional, jika beliau mau, pasti konferensi itu dengan mudah akan ditayangkan di tv.

Apalagi mengerahkan massa? Itu sangat mudah, setiap kali beliau diundang dalam acara maulid, dihadiri sekitar seribu orang, kalikan dengan setiap malam tiada henti beliau selalu diundang untuk menjadi penceramah dalam acara maulid, maka jumlahnya akan sangat banyak. Itu mudah sekali bagi beliau, satu kali saja perintah, tidak ada yang menolaknya.

Tetapi Abah (Panggilan akrab untuk beliau) adalah sosok ulama sederhana, mana mau beliau begitu? Bagi beliau yang terpenting adalah kesatuan NKRI, NKRI Harga mati, cinta tanah air, beliau mewarisi perangai ulama Indonesia yang menjadi kontribusi bagi kemerdekaan negeri ini, Hubbul Wathon Minal Iman, begitu jargon yang dilantangkan KH. Hasyim Asy’ari, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Maka, lihatlah, beliau begitu menghargai pemimpin negeri ini, begitu pula sebaliknya.



Tahukan? Negara akan maju jika pemimpinnya amanah, ulamanya mendukung pemerintah, dan tentu saja rakyatnya mendukung pemimpinnya. Maka, negeri akan aman, bahkan maju. Tetapi lihatlah negeri ini, terpecah, seolah ada dua golongan, yang sebenarnya mereka adalah satu.


Jika saja, penduduk negeri ini kenal pada sosok ulama sekeren, sehumanis, secerdas, sealim, seulama (dan sese yang lain) beliau. Pasti kalimat berikut bukan angkan kosong; Alangkah indah negeri ini.

1 Ramadhan 1438 H.

Senin, 01 Mei 2017

Yang Media Tidak Katakan


Tidak ada yang lebih menarik bagi mahasiswa selain diskusi idealisme. Mungkin demikian teorinya, tetapi untuk generasi millenium, bahasanya akan lain, menjadi tidak ada yang lebih menarik bagi mahasiswa selain berselancar di media sosial, atau wifi gratis, atau view yang unik untuk selfie.

Walaupun demikian, percayalah masih ada mahasiswa yang mengaku tertarik dengan idealisme, mereka adalah kumpulan kecil dari mahasiswa yang berdiri di atas independensi. Berbicara tentang kebenaran, mencoba melawan ketidakadilan dengan jurnalisme, lalu menyejarah melalui sastra.

Berbicara tentang generasi millenium, mereka adalah generasi yang akan meneruskan negara ini, baik atau buruknya nanti, mereka yang akan menentukan. Tetapi berbagai tantangan global menggempur mereka dari sudut manapun, salah satunya media sosial. Mereka asik mengupload foto selfie, sementara tidak tahu bahwa dibelahan dunia lain terjadi perang. Mereka asik mengupload foto makanan yang tengah dibeli di cafe, sementara di sudut pulau lain bahkan untuk mendapat air bersih pun sulit.

Belum lagi akhir-akhir ini adu domba media tidak terelakkan lagi, mereka saling menjatuhkan sesama saudara setanah air hanya karena pemilihan pilkada di Ibu Kota. Saling mencela, menghina, menyindir, dan entah apa yang didapatkan dari melakukan hal-hal tersebut.

Hal itu tentu tidak terlepas dari banjir informasi yang dengan mudah didapatkan. Entah dari TV, koran, media sosial, dan lainnya. Tetapi sadarkah akan hal yang sebenarnya terjadi di negeri ini?

Berangkat dari hal-hal tersebut, tentunya sangat penting bagi kita untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di negeri ini, dan untuk itu, kita harusnya mengerti bagaimana memanfaatkan keterbukaan informasi tanpa termakan oleh informasi yang disuguhkan.

Maka, terbentuklah ide untuk mengadakan seminar yang bertema Analisis Framing Media: Yang Media Tidak Katakan.

Seminar tersebut terselenggara dengan lancar, dengan dua pemateri, yaitu Bapak Alex Sobur (Pakar Jurnalistik, Dosen Unisba) dan Muhammad Haeychal (Direktur Remotivi-Lembaga Kajian Media).

Analisis Framing Media itu sendiri sederhananya adalah menganalisis bagaimana media membingkai suatu berita. Berita tersebut tidaklah hoax atau fake, tetapi berita tersebut menggiring opini publik pada pesan yang ingin disampaikan.

Misalnya pemberitaan seputar pilpres tentang judul yang bertajuk: Paslon X menang di daerah pelacuran, berita tersebut seakan mengatakan bahwa yang memilih paslon x adalah pelacur, padahal banyak pula daerah lain yang memenangkannya, demikian pula dengan berita dari media lain yang bertajuk Paslon Y menang di rutan koruptor, seakan mengatakan yang memilih paslon y adalah para koruptor.

Siapa yang memback up? Tentu saja pemilik media yang pendukung salah satu paslon.

Framing media bukan terbatas hanya kepentingkan politik, tetapi ekonomi juga. Bentuk pemberitaan framing media pun berbagai jenis, penyebutan kata sifat dalam pemberitaan, juga termasuk framing media.

Maka, berhati-hatilah dalam menyerap informasi.

Inet Bean
1 Mei 2017

Sabtu, 11 Maret 2017

Kita Hanya Sedang Lupa

http://otakcerdasalami.blogspot.co.id/2015/03/cerdas-mengingat-angka.html

Hidup adalah melawan lupa. Sejak lahir manusia sudah dipaksa lupa dari masa sebelum ia terlahir. Kemudian lupa masa-masa kecil, dan seterusnya. Manusia dituntut untuk mengetahui asal-usulnya, super ego berusaha mengingatkan hal-hal tersebut, agar mengetahui sesungguhnya id yang ada dalam diri manusia. Dan ego berperan dalam hal keduanya. Dorongan untuk menyejajarkan keduanya. Barangkali begitu jika psikoanalisa Freud diaplikasikan.

Kelupaan-kelupaan ini, akan menimbulkan bencana bagi si pelupa, maupun akan berimbas pada orang-orang disekitarnya. Lupa serupa penyakit yang menular, yang tanpa sadar seseorang telah terjangkit. Maka dari itu dibutuhkan pengingat, agar kelupaan ini tidak semakin bertambah. Karena apabila kelupaan dibiarkan, akan sulit si pengingat untuk mengingatkan.

Pada akhir tahun sampai dengan bulan Februari kemarin, ada fenomena kelupaan masal. Kita melihat betapa ramainya saat pilkada serentak diselenggarakan, baik saat masa kampanye hingga saat hari-H.

Pilkada dilakukan di 101 daerah di Indonesia, tetapi pemberitaan di media, maupun pembahasan-pembahasan di dunia maya, terforsir hanya pada satu daerah, Jakarta. Bahkan ketua KPU Jakarta menyampaikan hal bernada demikian ketika debat ke tiga pilkada Jakarta.

Rakyat Indonesia seolah terbagi menjadi dua kubu. Kubu Ahok dan Kubu yang penting bukan Ahok. Barangkali penyebab ini adalah Ahok diduga telah menistakan agama. Kita masih ingat bagaimana jutaan massa berdemo di Jakarta.

Pasca kejadian itu, semakin bertambahlah jarak orang yang pro dan kontra Ahok. Mereka perang opini di media sosial, tidak jarang menyebarkan aib yang belum tentu benar. Di sini hoax mempunyai jalan, yaitu kelupaan seseorang.

Mereka telah lupa pada hati nurani, karena derasnya informasi, baik yang benar ataupun hoax. Pemberitaan-pemberitaan dari media pun dari judul sudah terlihat memprovokasi. Akibatnya banyak yang tersulut, kemudian orang-orang yang tadinya tidak menanggapi, akan mulai tertarik menanggapi.

Manusia cenderung mengikuti arus, mereka mengikuti arus agar dilihat eksistensinya, apalagi jika menyangkut SARA. Para bedebah memanfaatkan hal tersebut untuk maksud jahatnya dan bisa dikatakan hal itu berhasil. Para bedebah adalah kejahatan yang secara halus menelusup di hati manusia, itulah penyebab manusia hipokrit tercipta.

Di bulan yang baru ini, kita harus berusaha mengingat apa yang telah terlupa di bulan-bulan sebelumnya. Tidak ada manusia yang terbebas dari kelupaan, karena manusia memang hakikatnya terlahir untuk mengingat suatu kelupaan. Kelupaan pada Sang Penguasa Semesta.


Membenci adalah suatu kewajaran. Tapi membenci seseorang adalah suatu kesalahan. Karena bukan personal manusia yang layak dibenci, tapi suatu kekejian yang telah melekatinya. Semua manusia ingin dimanusiakan dan harus memanusiakan manusia. Hal satu ini yang sering terlupakan.

11 Maret 2017

Jumat, 03 Maret 2017

Membaca Sejarah dapat Melembutkan Hati

http://psikologan.blogspot.co.id/2015/08/3-cara-agar-anak-gemar-membaca.html

Membaca Sejarah dapat Melembutkan Hati. Demikian kesimpulan saya setelah membaca buku biografi Rasulullah. Selang dua hari setelah membaca, ada suatu kejadian yang membuat saya marah, bukan karena marah pada seseorang itu, tapi marah karena betapa orang-orang sekarang barangkali tidak sedikit yang begitu, acuh terhadap kesusahan orang lain, ketika dirinya sudah mendapat kenyamanan dan diusik.

Pagi itu saya masuk kelas, sudah ramai, tapi belum ada dosen. Tampak temen-temen sudah duduk melingkar bergerombol dengan kelompok seperti biasa. Terlihat tidak ada kursi tersisa di kelompok saya, lantas pandangan saya menyapu kelas, mencari kursi sisa.

Di pojok kelas masih ada kursi tersisa, mungkin sulit untuk diambil, karena di depannya sudah membentuk lingkaran pula kelompok lain, sementara itu kelompok saya ada di depannya.

Saya meminta seorang perempuan yang saya kenal, untuk bergantian kursi. Mengingat pasti sulit untuk membawa kursi yang tersisa menuju ke kelompok saya. Dia tidak mau, menggelengkan kepala dengan mimik wajah masam. Kemudian saya minta tolong perempuan sebelahnya, dia tidak berekspresi, sambil menggelengkan kepala.

Di gedung kampus lama, kursinya memang menggunakan dua jenis kursi, kursi dari kayu dan kursi pekuliahan seperti biasa. Mungkin mereka malas untuk duduk dikursi kayu, setelah itu saya permisi untuk mengambil kursi tersebut. Tidak lama seorang laki-laki menawarkan saya untuk bergantian kursi ketika melihat saya baru saja mau memindahkan kursi.

Pada mulanya saya mau marah pada dua perempuan tersebut. Tapi ketika saya mengingat perkataan Nabi saw. Kemarahan itu lenyap, berganti dengan rasa kasih. Mereka melupakan sesuatu, melupakan akhlak panutannya, Muhammad saw.

Pada saat diposisi mereka, tidak menutup kemungkinan saya juga bersikap acuh, namun dengan kejadian tersebut, mengingatkan diri saya bahwa sekecil apapun bantuan dari kita pada orang yang membutuhkan, akan berarti besar bagi orang yang sedang kesusahan.

Rasulullah bersabda, “Permudahlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira, bukan kabar buruk.” (HR al Bukhari-Muslim)

Nabi saw. Menekankan keringanan yang diberikan kepada umatnya untuk mempermudah pelaksanaan ajaran agama, dan membawa kabar baik, yaitu yang membuat hati gembira, bukan kabar buruk yang melahirkan kesulitan dan ketidaksukaan.

Dilain kesempatan, beliau pernah berkata, “Orang kuat bukanlah orang yang dapat mengalahkan musuhnya!” Para sahabat merenungkan kalimat tersebut, kemudian bertanya. “Jadi, siapakan orang yang kuat itu?” Nabi saw menjawab dengan jawaban yang membuat mereka harus merenung lagi, “Orang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan diri ketika sedang marah.” (HR. Al-Bukhari-Muslim)

Nabi Muhammad bersabda, “Kekayaan tidak terletak pada harta yang kalian miliki!” para sahabat memikirkan hal itu, kemudian beliau menjelaskan, “Sesungguhnya kekayaan sejati adalah kaya hati.” (HR. Muslim)

3 Maret 2017

Rabu, 08 Februari 2017

Layla-Majnun

http://tamanbacarindang.blogspot.co.id/2014/08/jual-novel-layla-majnun-syaikh-nizami.html
Layla-Majnun, siapa yang tidak tahu kisah Layla-Majnun? Walau tidak tahu bagaimana kisahnya, setidaknya banyak orang yang sudah pernah mendengar kedua nama pecinta itu. Dua insan dengan satu jiwa, pemilik cinta demikian suci nan jernih.

Siapapun yang membaca kisahnya akan larut dalam getaran cinta mereka, ikut meratap saat Majnun alias Qays merintih merindukan dahaga cinta, dan merasakan penderitaan Layla ketika permata bening jatuh dari matanya yang hitam laksana keindahan mata rusa.

Tuh kan, saya saja jadi puitis banget begini, membaca kisah Layla Majnun tidak cukup sekali, rasanya walau berkali-kali akan tetap terasa indah dan tidak membosankan. Keindahan gaya bahasanya begitu sampai pada hati.

Kisah Layla-Majnun di angkat dari kisah nyata dari kisah cinta Qays al Mulawwah, ia hidup pada masa Daulah Amawiyah (Bani Umayyah). Menurut riwayat, Qays meninggal sekitar tahun 65 H atau 68 H, membawa cinta yang membara. Ketika meninggal, ia hanya sendiri, kesepian dan terpencil.

Lalu kisah Qays, si Majnun yang terkenal karena keindahan gubahan syairnya. Diceritakan dari mulut ke mulut dalam bentuk syair, maka dari itu terdapat berbagai versi. Hingga pada tahun 1188 Syaikh Nizami menghimpun dan menuliskan kisah tersebut.

Duhai betapa dunia akan bermuram durja
Bila engkau tidak pernah
Berkunjung ke rumah seorang kekasih
Dan tidak memiliki seorang kekasih
Untuk menghiburmu
Demikian syair pembuka kisah Layla-Majnun

Diceritakan, Qays dan Majnun adalah buah hati dari dua kabilah termasyhur. Sehingga mereka di sekolahkan di sekolah yang berkualitas. Pertama kali mereka bertemu, cinta segera hadir di antara keduanya. Jiwa mereka bergetar. Api asmara segera berkobar dalam dada.

Namun jalinan cinta mereka mendapat banyak onak dan duri. Selalu saja dunia tidak berpihak pada sepasang pecinta itu. Cinta mereka dianggap aib karena berbenturan dengan adat, hingga Layla dikurung di dalam rumahnya.

Qays dirundung kerinduan yang mendalam tak kuasa menahan gejolak cintanya. Ia menjadi liar, seperti orang gila, berlari ke gurun hingga gunung tanpa alas kaki dan pakaian copang-camping sembari meneriakkan nama Layla, sesekali ia bersyair. Begitulah ihwal Qays dipanggil Majnun. Gila. Meskipun sejatinya ia tidak gila, ia menderita karena cinta.

Para pecinta, jadi, tunggu apa lagi? Baca kisah ini, dan tenggelamlah dalam cinta suci yang jernih bagai permata di kedalaman laut yang murni.

Sepenggal syair Majnun
“Kesengsaraan ini milikku
Kesedihan telah menyatu dalam jiwaku
Kenangan tentang bibir yang begitu manis
Telah membelenggu lidahku untuk mengungkapkan pesonanya
Saat sayap cintaku terluka dan tidak dapat terbang
Burung indah memesona yang telah lama aku cari datang di hadapanku
Sesungguhnya, engkau merangkai pesona bidadari
Dan apalah artinya diriku?
Aku tidak mengetahui apapun selain bayangmu
Tanpa engkau aku tiada.
Khayalan telah menyatukan ita berdua
Kita melebur menjadi satu
Menyatu dalam ketetapan cinta.
Kita adalah dua tubuh dengan hati yang satu dan jiwa yang sama
Dua lilin dengan satu nyala api murni, semurni surga
Dari bentuk-bentuk yang sama
Digabung menjadi satu
Dua titik menjadi satu
Tiap jiwa mendukung satu sama lain.”

8 Februari 2017

Minggu, 05 Februari 2017

Mitos Hermaphrodite

http://blogjolemo.blogspot.co.id/2016/07/apa-itu-cinta.html
Mencintai seseorang bukan berarti menyatu dengan orang itu. Mitos Hermaphrodite mencoba menjelaskan mengapa manusia sangat condong untuk menyatu dengan kekasihnya.

Dalam dialog Plato yang terkenal, Symposium, Aristophanes memutuskan membantu kawannya untuk mempelajari rahasia kekuatan cinta. Dia mulai dengan mengisahkan kembali mitos bahwa manusia pada dasarnya hermaphrodite: setiap manusia mempunyai dua kelamin sekaligus, dengan empat kaki dan empat tangan, dan mampu berjalan ke segala arah, atau berlari dengan cara berputar-putar.

Diceritakan bahwa sang manusia berkelamin ganda itu sangat kuat, penuh percaya diri dan perkasa sehingga mereka menjadi ancaman pada dewa. Para dewa kemudian berdebat tentang bagaimana cara mengurangi kekuatan manusia berkelamin ganda ini.

Akhirnya Zeus, sang pemimpin dewa memutuskan untuk memisahkan kelamin itu dan mengatur agar reproduksi dilakukan dengan cara hubungan kelamin. (17+)

Hasilnya adalah pembagian yang penuh: masing-masing bagian terpaksa mencari partner untuk memulihkan kekuatannya yang dahulu pernah ada. Cinta, Aristophanes menyimpulkan, adalah nama untuk keinginan dan pencarian akan keseluruhan. Kembali ke cinta yang universal.

Oke, jadi menurut mitos tersebut. Manusia cenderung ingin bersatu dengan kekasihnya, karena memang dulunya mereka adalah satu. Dan untuk menyatukan mereka kembali, mereka mengandalkan kekuatan, yang bernama cinta.

Hidup adalah mencari jawaban. Manusia selalu bertanya-tanya dan berusaha mencari jawaban. Mereka menggunakan akalnya untuk mencari jawaban dari sesuatu. Barangkali itulah kenapa manusia membuat mitos untuk jawaban dari sesuatu yang belum mereka ketahui.

Jaman sekarang teknologi sudah berkembang pesat, hal-hal yang dulunya belum terjawab, sekarang teknologi bisa menjawabnya, mitospun ditinggalkan seiring dengan pengetahuan yang telah menjawabnya.

Namun menurut saya mitos adalah kekayaan imajinasi manusia, sastra yang tidak tertulis, dan sejarah manusia berpikir.

Kembali ke mencintai seseorang bukan berarti menyatu dengan orang itu, jadi bagaimana menurutmu?

5 Februari 2017

Sabtu, 04 Februari 2017

Menjadi Guru Seperti Korosensei

http://movfreak.blogspot.co.id/2016/04/assassination-classroom-graduation-2016.html

Tidak ada kepastian seseorang kelak akan berprofesi sebagai apa. Tulisan ini saya dedikasihkan kepada orang-orang yang secara misterius dituntun takdir untuk menjadi guru, juga bagi guru-guru.

Saya pernah mendengar cerita-cerita seseorang yang tidak bercita-cita menjadi guru, namun akhirnya menjadi guru. Saya sendiri tidak bercita-cita menjadi guru, namun tidak tahu kenapa saya kuliah di jurusan pendidikan.

Seiring dengan berjalannya perkuliahan, dan melihat situasi moral anak bangsa saat ini, saya jadi tergerak untuk menjadi guru. Walau jika melihat diri sendiri, rasa-rasanya belum pantas menjadi guru. Teladan apa yang bisa saya berikan? Bagaimana cara mendidik bukan hanya sampai pada ranah intelektual saja, namun juga emosional dan spiritual?

Bagi saya sesuatu harus dilakukan dengan hati. Kalau sesuatu itu dari hati, pasti akan sampai pada hati. Seperti Korosensei. Guru dadakan yang bersungguh-sungguh untuk menjadi guru. Ia menggantikan menjadi guru dan wali kelas di kelas E (kelas buangan) atas permintaan wali kelas sebelumnya, Yukimura Sensei.

Saat detik-detik terakhir hidup Yukimura Sensei, ia berkata kepada Korosensei, “Jika kau ingin menggunakan waktumu. Tolong ajari anak-anak itu sepertimu. Mereka tersesat dalam gelap. Pandang lurus mereka. Aku yakin, Kau akan menemukan jawabanmu.”

Korosensei menjadi guru yang tulus. Ia memberi semangat baru pada murid-muridnya, sehingga mereka tidak merasa tak berguna. Semangat mereka tumbuh kembali. Ia juga membantu murid-muridnya menentukan tujuan hidup, cita-cita mereka kelak.

Dalam bersikap, Korosensei memperlakukan muridnya layaknya teman. Tahu saat harus membantu atau membiarkan murid-muridnya menemukan jawaban dari sesuatu.

Film Assassination Classroom – The Graduation, banyak terdapat slentingan-slentingan bagaimana seharusnya mendidik, bagaimana seharusnya dunia pendidikan memperlakukan murid, bagaimana seharusnya guru menempatkan diri.

Di akhir film, ada ucapan yang sederhana, tapi tidak sesederhana kenyataannya. “Ini bukan masalah benar atau salah. Siswa SMP mampu memecahkan formula kimia tak terpecahkan. Mereka melakukannya demi menyelamatkanku. Sungguh luar biasa. Mereka membuat obat itu. Yang penting adalah prosesnya.”

Yah, yang terpenting segala sesuatu adalah prosesnya, hasil adalah bonus. Oh ya Korosensei itu manusia yang berubah menjadi makhluk aneh (emoticon bertentakel, haha), Kalau penasaran, mendingan download dan tonton deh filmya.

4 Februari 2017