Tampilkan postingan dengan label Kisahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisahku. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Oktober 2017

Tentang Alasan, Pertemuan, dan Perpisahan


Kenapa orang suka mencari alasan? Atau selalu penasaran dengan alasan? Tapi bukankah hidup ini juga adalah untuk mencari alasan? Segalanya soal alasan. Jadi apa alasanku menulis ini? Kamu penasaran? Baiklah akan segera kutuliskan alasannya biar rasa penasaranmu terjawab.

Ini adalah soal pertemuan. Tapi juga perpisahan. Ini soal hidup yang katanya setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dengan seorang laki-laki berketurunan Jawa tulen katanya. Kukira sudah bisa kutebak dari namanya. Benar-benar Jawa. Aku suka, namanya maksudku, sudah kubilang, aku cinta budaya lokal, kutulis ditulisan aku tempo hari.

Sebenarnya ini tidak adil, aku harus menulis sesuatu tentangnya tapi aku tidak terlalu banyak tahu, dia soalnya yang banyak nanya sih. Tapi okelah, akan kuusahakan, biasanya orang yang suka nulis banyak akal.

Malam itu aku seperti orang hilang di kota orang, dua teman perempuanku tega meninggalkanku sendiri. Okelah mereka sedang ada perlu. Perlu untuk pulang, karena ada keperluan. Jadi ceritanya aku sedang mengikuti acara workshop jurnalistik selama dua hari, dan sehari untuk Deklarasi PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia) DK Purwokerto, tentu saja di Purwokerto. Dan dia itu BPNas Media PPMI, baru tadi aku tahu, pun karena nanya via dirahasiakan.

Setelah mandi dan istirahat sejenak di kos teman kenalan saat di sana, aku balik ke tempat workshop yang terasa sepi, sunyi, sendiri, aku benci. Dan tidak ada gelas yang bisa dipecahkan. Beruntung ada yang memanggilku agar gabung ngobrol.

Dari situ kita akhirnya kenalan dan ngobrol. Setelah sesaat dikacangin pada ngobrol, lagian aku gak tahu pada ngobrol apaan, alhasil menjadi pendengar setia saja.

Dia nanya namaku, setelah kujawab, lalu aku balik nanya namanya, namanya Joko katanya, benar-benar Jowo kan namanya? Aku kira nama Joko hanya menjadi cerita di legenda, cerita rakyat, atau mitos, ternya ada juga di tulisan blog Lemping Penaku.

Lalu obrolan lebih banyak tentangku, tentang nama Inet, tentang blog Lemping Pena, yang tidak perlu kutuliskan menurutku. Dia juga blogger loh, yeah aku nemu temen blogger, alamat blognya jokomanunggal.blogspot.co.id silakan bagi yang mau main. Mungkin ada tulisan tentang aku atau belum, soalnya dia sendiri yang ngajakin buat tulisan tentang kita, eh, tentang aku dan dia, ah gimana sih bahasanya, jadi dia nulis tentang aku, aku nulis tentang dia. Nah gitu.

Terus dia juga suka nggambar, wah kok sama lagi sih? Tapi bedanya dia nggambar di hape, aku juga sempat dikasih aplikasinya. Walaupun sampai sekarang masih bingung gunainnya, meski sempat diajarin dikit. Tapi makasih ya. Pasti akan bermanfaat.

Yaudah sih ya, gitu aja, besok malamnya dia pulang, lebih dulu pulang daripada aku, dia bersama Bruno Mars, konco mesranya katanya, mirip Bruno Mars sih, jadi kupanggil Bruno Mars. besok lusa mungkin kutulis ditulisan yang khusus nulis tentang Bruno Mars.

Satu lagi tentang dia, orang bilang aib itu gak boleh diumbar, tapi menurutku ini bukan aib, ini adalah soal pilihan hidup. Dia tiga hari enggak mandi, sedangkan aku di sana mandi dua kali sehari, lebih giat mandi aku di sana, ah ini benar-benar fenomena aneh. Padahal di sana airnya dingin dan mendung mulu. Kata Bruno Mars dia mau mandinya di Malang aja. Memangnya mandi di Purwokerto sama di Malang apa bedanya sih? Apa bedanya Mas? Jawab Mas Joko....


2 Oktober 2017, ditulis Inet Bean di Hari Batik Nasional, dengan bangga memakai batik Pekalongan.

Kamis, 14 September 2017

Catatan Skripsweet Inet (ACC Judul)


Proses skripsi itu identik dengan berbagai halangan, ujian dan cobaan yang menerpa. Kadang ditanya udah punya judul atau belum saja sudah membuat mahasiswa akhir sensitif. Gak percaya? Coba deh praktekkan. Kalau terjadi sesuatu hal yang tidak menyenangkan, aku tidak tanggung jawab ya.

Akupun tidak lepas dari ujian yang menimpaku saat mau mengajukan judul skripsi ke wali dosen. Bayangkan? Aku melihat teman-teman seangkatanku sudah pada seminar proposal dengan bangganya, sedangkan aku mau menemui waldos saja susahnya masyaAllah.

Iri? Iyelah, siapa juga yang kagak ngiri? Seakan mereka bilang, “Dadah Inet, duluan yaa, yang sabar nunggu bisa ketemu waldos.” Dan ketawa jahat. Iiih, sebal sekali.

Aku sempat terkaget-kaget sih, loh loh, tuh anak-anak kok tiba-tiba udah pada seminar aja sih? Jadi aku pun berkeyakinan secepatnya harus menyusul, tidak boleh tidak!

Tapi? Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Susah sekali mau ketemu sama waldos. Pertama aku WA, waldos lagi di rumah sakit, gak bisa ditemui, minggu depannya waldos udah masuk kata temanku, tapi aku yang lagi sibuk ada acara, jadi aku WA waldos minggu depannya lagi, dan tahukah?

Ternyata bedrest di rumah sakit lagi, ah ya Tuhan Yang Maha Esa. Waldos malah bilang gini, “Saya lagi di rumah sakit lagi Mba, kalau mau ke sini gapapa, di Semarang.”

Ah! Bagai tertusuk sembilu aku. Lalu kubalas dengan nada yang semanis mungkin, sabar mah aku orangnya. Kupikir waldosnya lagi sensi. Ya sudahlah. Saat kau berharap... bertemu waldosmu, lagi-lagi gagal, ya sudahlah.... hohoho...

Seminggu kemudian, aku denger dari temen, kalau waldos sudah masuk lagi, jadi saat itu juga aku WA waldos, buat apalagi selain mau ketemuan?

Balasnya gak bisa katanya, bisanya besoknya, itupun di kelasnya mengajar ketemunya, baiklah tidak apa-apa, asal masih di kampus, gak di rumah sakit apalagi di Semarang.

Tadi pagi kutemui waldos, jiah, kaget aku, ketemu-ketemu perutnya udah besar, hamil keknya, kurasa memang hamil, pantesan bedrest di rumah sakit. Aku mah mahasiwa yang tidak hobi perwalian, jadi ya kaget tiba-tiba ketemu waldos udah hamil besar aja, wkwkwk. Kapan mulai hamil sih?

Agak dagdigdug sih ngajuin judul, sebab kudengar dari cerita temanku ngajuin disuruh bolak-balik tiga kali dulu, baru di-ACC. Nah ini aku baru satu kali ini. Pasrah dah.

Kusalami waldos, lalu kuserahkan proposalnya, lalu beliau nyuruh aku buat dibelikan spidol boardmarker dua. Setelah kujelaskan sedikit soal istilah di judul yang ternyata belum diketahui waldos, lalu aku langsung meluncur beli spidol. Tentu saja dengan uang beliau, hehehe.

Setelah beli, segera aku menemui waldos yang sedang duduk, sementara mahasiswa semester satu sedang asik mengerjakan entah, tidak kuperhatikan. Kalau mereka memperhatikanku? Terserah, aku gak peduli.

“Begini Mba, untuk LBM tidak ada masalah, overall saya pikir kamu sudah tahu alurnya, nalar kamu sudah jalan, dan tinggal ini pengaturan tulisan aja.” Lalu waldos menunjukkan cara untuk mengecek pengaturannya. Saya mah angguk-angguk aja.

“Jadi sudah bawa surat buat ACC? Ini langsung saya ACC aja.”

Ah, tidak terkira senangnya, duh, seperti melayang, speechless.

“Eh, belum bawa Bu.” Jawabku, kan kupikir belum mau di ACC, kata temenku harus ketemu tiga kali dulu, ini benar-benar di luar dugaan. Ya Tuhan Yang Maha Esa, terimakasih.

“Kamu print dulu aja, ntar ke sini lagi ya?”

Kujawab dengan senyum sumpringah, segera ngeprint suratnya, dan kuserahkan, lalu ditandatangani sudah. Aaaaah, hatiku senang sekali hari ini. Pokoknya lagi mau senang, kamu jangan ganggu kesenangan aku!

14 September 2017, ditulis Inet Bean di graha mahasiswa LPM Al-Mizan, dengan perasaan senang.

Rabu, 26 April 2017

Ilmuan Lukisan



“Kamu tahu kenapa banyak orang menyukai seni?”

“Kenapa?”

“Sebagian karena hanya menyukai seni, sebagiannya lagi karena mereka penghasil seni.”

“Maksudnya?”

“Di dunia ini, ada orang yang bertugas menjadi pembuat seni, sisanya adalah orang yang hanya menjadi penikmat, tanpa bisa membuat.”

“Yang ke dua seperti kita?”

Aku tertawa, “Kali ini mungkin iya.”

            Suasana Pasar Seni di waktu matahari hampir meninggi tidaklah ramai, hanya satu dua orang yang kebetulan luang, lalu berpikir untuk datang dan melihat-lihat dan berselfie, tidak terlalu berbeda dengan tujuan kita ke sini.

            Baiklah, tidak ada penjaga tiket, dan gerbang terbuka. Mungkin mereka mempersilakan masuk tanpa membeli tiket. Jadi, sebelum mereka berganti pikiran, sebaiknya kami masuk saja tanpa tiket, alias gratis. Tapi catat, ini bukan upaya kami untuk tidak menghargai seni, menghargai seni bisa dengan cara yang lain kan? Dengan mengagumi sepenuh hati contohnya, jangan katakan ini alibi, oke?

            Kita melanjutkan melewati pintu gedung. Sudah kukatakan tidak ramai, hanya ada dua perempuan muda seumuran kita yang sedang merentangkan tongkat selfienya membelakangi lukisan. Lalu aku dan temanku pura-pura menjadi penikmat lukisan ulung dengan tidak segera selfie, kami memerhatikan lukisan dengan sungguh-sungguh (yang ini tidak pura-pura) dan sesekali mengomentari lukisannya, seolah kami adalah ilmuan lukisan.

“Mana ada ilmuan lukisan? Biasanya ilmuan itu bergerak di bidang sains.”

“Tentu saja ada, tahu tidak? Lukisan Monalisa?”

“Tahu dong....”

“Yaudah, bagus kalau tahu.”

“Begitu doang?”

“Kalau iya?” Aku tertawa. Sementara raut muka temanku jengkel.

“Baiklah, sedikit kujelaskan. Anggap saja yang bicara ini adalah ilmuan lukisan,” Air mukanya semakin makin muntah. “Jadi, lukisan Monalisa itu sampai sekarang masih misterius, sebenarnya perempuan yang dilukis oleh Leonardo Davinci itu siapa? Nah, banyak yang berspekulasi, atau anggap saja berhipotesis. Mereka layak lah disebut ilmuan lukisan. Lukisan-lukisan terdahulu itu mengandung pesan-pesan tertentu, dan studinya tidak mudah untuk menangkap pesan apa yang terkandung dalam lukisan. Tahu film The Davinci Code?”

“Iya tahu, kenapa?”

“Tidak apa-apa, nanya aja.” Aku tersenyum manis, yang segera disambut cubitan dari temanku.

            Sekarang di depan kami terpajang lukisan seorang perempuan berkebaya yang sedang membatik menggunakan canting. Warnanya tidak mencolok, coklat dengan ornamen seperti lilin untuk membuat batik. Matanya terlihat sendu, tetapi damai.  Sementara itu di sudut lain dua perempuan masih asik berselfie.

            Lalu pandangan kami beralih ke lukisan perempuan berkerudung bendera Amerika yang berjudul Islamopobia. Dua perempuan yang berselfie mengakhiri sesi selfie di ruang ini, dan bergegas menuju ruang sebelah. Itu berarti tinggal aku dan temanku. Maka kami bebas untuk mengambil foto. Lagipula kenapa juga kami menunggu mereka pergi untuk mengambil foto? Entahlah.


            Di sudut lain ada lukisan bocah yang tengah belajar, berlatar jaman dahulu, karena dia ditemani lampu templok. Baiklah kali ini aku bisa mengambil fotoku bersama lukisan. Berjarak beberapa lukisan, ada lukisan Sang Proklamator, Bung Karno yang tengah duduk.



            Setelah semua lukisan kami lihat, kami bergegas ke ruang sebelah. Lalu tersuguh lukisan para tokoh, seperti KH. Hasyim Asy’ari, Abdurrahman Wahid, Gus Muh, ada juga beberapa artis dan lain-lain.



            Puas mengelilingi tiap inci gedung, kami keluar dengan rasa penuntasan terhadap rasa penasaran.  Tetapi sepertinya ada yang berbeda. Apa ya?

“Loh, ada penjaga tiketnya, Net!”

“Eh, iya ada.”

“Terus gimana nih?”

“Gak gimana-gimana, ya tinggal keluar, yok....”


Dan kamipun keluar dengan selamat. :D

Inet Bean
26 April 2017

Kamis, 09 Februari 2017

Saat Terakhir dengan Bapak

http://www.caradesain.com/15-foto-pemandangan-langit-yang-mengagumkan/
Sampai sekarang yang kusesali adalah aku gagal memenuhi keiginan Bapak menjelang hari-hari terakhirnya. Malam itu, Bapak bilang ingin wedang ronde. Sederhana. Tapi enggak tahu kenapa malam itu aku nggak nemu penjual wedang ronde.

Sudah kupacu motor ke tempat-tempat yang kuketahui ada penjual wedang ronde. Namun secara ajaib satu pun tidak aku temui. Akhirnya aku pulang dengan rasa yang hampa dan kecewa. Aku juga tidak bisa mencari secara maksimal karena terkendala malam yang mulai larut.

Walaupun Bapak bilang tidak apa-apa, tetap saja ada angin kekecewaan yang menjalar di diriku.

Beberapa hari kemudian, Bapak dilarikan ke rumah sakit. Bapak memang sudah sakit-sakitan sejak aku SMP. Sakitnya musiman, tetapi kalau sudah sakit, ia tidak berdaya, untuk jalanpun susah. Walau begitu, ia tidak berkeluh kesah kepada anak-anak dan istrinya. Barangkali dari situ aku menirunya.

Yang membuatku terenyuh. Ibu selalu sabar merawat Bapak, walau di antara mereka tidak terucap kata cinta. Namun cinta terlihat dari ketulusan Ibu mendampingi Bapak dengan telaten dan diamnya Bapak yang tidak kuasa menambah kesedihan Ibu dengan meratap. Meski aku tahu, rasa sakit yang menjalar dalam tubuhnya begitu menyiksa. Itulah bahasa cinta mereka.

Sekitar lima hari Bapak di rawat di rumah sakit. Tiba-tiba Ibu bilang kalau Bapak mau dibawa pulang. Sementara itu dari cerita Ibu, keadaan Bapak tidak menuju pada kesembuhan. Malam pertama aku menghadapi Ujian Kelulusan SMA justru tidak bisa berkonsentrasi belajar. Pikiranku melayang ke Bapak.

Aku dan tiga kakakku menunggu di teras rumah. Aneh sekali, tidak biasanya kami berkumpul dengan formasi seperti ini. Ketiga kakakku sudah menikah, kalaupun sedang kumpul biasanya bersama dengan suami atau istri mereka. Dua suami kakakku justru ikut menjemput Bapak, dan anak-anaknya menunggu di rumah.

Jalanan sepi. Angin tidak terasa dingin, hawa juga tidak panas. Walau tanganku memegang buku, aku tidak bisa konsentrasi untuk membaca. Sementara itu kakak-kakakku hanya diam duduk disebelahku. Tetiba aku mencium bau harum, seperti aroma bunga mawar tapi lebih wangi. Mungkin perpaduan wangi bunga mawar, melati, dan entahlah. Aku celingak-celinguk, tidak ada orang yang baru lewat. Ada rasa yang bergejolak dalam hatiku.

Beberapa detik kemudian, kakak sulungku memecah kesunyian di antara kami, “Ada yang memcium bau melati nggak?”

“Iya, tapi keknya bukan bau melati deh,” kata kakakku nomor tiga.

Aku kira hanya aku yang mencium aroma itu. Tapi ternyata kami mencium wangi yang sama. Entah, wangi siapa yang tiba-tiba menyeruak itu. Kami tidak tertarik untuk membahas lebih lanjut. Pikiran kami masih sibuk memikirkan Bapak.

Tidak lama kemudian, ada mobil yang berenti di depan rumah, ya... itu Bapak, Ibu, dua kakak iparku dan Bibi. Keadaan Bapak demikian lemah, entah kenapa Ibu membawa Bapak pulang dengan kondisi seperti itu. air hangat menggenang di pelupuk mataku.

Di samping bapak terbaring, kulantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Sementara itu Ibu yang tak kuasa lagi melihat Bapak tetiba pingsan. Tidak pernah aku melihat Ibu pingsan seperti itu, keadaannya begitu rapuh. Tidak lama kemudian setelah Bibi mendekatkan minyak kayu putih di hidungnya, Ibu siuman. Ia ditenangkan oleh Bibi, Paman, dan kakak perempuanku.

Ajal tidak ada yang tahu kapan menjemput. Bapak menghembuskan nafas terakhir pukul 23:30. Isak tangis menyeruak di rumahku. Ibu memelukku erat, menguatkan aku, walau kutahu saat itu dia yang begitu rapuh. Hingga pagi, air mata rasanya tak ada habisnya. Hari pertama Ujian Kelulusan Sekolah, aku tidak berangkat.

9 Februari 2017

Senin, 23 Januari 2017

Tradisi Input KRS


Seperti rindu, mager harus dibayar tuntas. Ini bukan sekadar alibi, lebih dari itu, tapi adalah upaya untuk bersikap adil terhadap keseluruhan anggota tubuh saya. Semenjak semester lima dimulai, porsi mager saya berkurang secara drastis, bisa dibilang mager itu emas, karena langka dan istimewa.

Tapi over dosis mager juga gak baik karena ada efek candu di dalamnya, oleh sebab itu saya bertekat untuk mengakhiri masa mager saya yang sudah dimulai dari hari jum’at, saat itu malemnya saya begadang, demi tradisi yang harus dilakukan setiap akan menghadapi awal semester. Demi terciptanya jadwal yang berperi kemahasiswaan dan dosen yang beradab.

Tradisi Input KRS, saya lebih setuju kalau kepanjangannya adalah Kuliah Rebutan Kelas, walaupun yang sebenarnya Kartu Rencana Studi. Konon, input KRS itu salah satu penyebab mahasiswa frustasi, merasa kalah sebelum berperang, dan fenomena-fenomena psikologis lain yang memiriskan.

Saya adalah termasuk korban dari Input KRS. Karena biasanya nama korban disamarkan, jadi sebut saja Maudy, kepanjangan dari Mauy Ayunda. Dulu, waktu input KRS pertama kali, di mana kakak-kakak senior hobi menakut-nakuti, entah dengan bilang harus nunggu jam dua belas malam, sinyal yang secara misterius mendadak hilang, hingga SIKADU (Sistim Informasi Akademik Terpadu) yang enggak bisa dibuka.

Ndilalah, laptop saya mendadak mati di jam dua belas malam. Hape saya belum berstandar bisa untuk buka sikadu. Tekanan batin-tekanan batin deh saya. Beneran deh saya nangis, gegara ditakut-takuti kakak tingkat, gak kebagian kelas. Untungnya, ada temen yang berbaik hati mau nginputin KRS saya. Walaupun jadwalnya jadi sejadi-jadinya deh, asal dapet kelas.

Kalau di semester tiga, saya udah agak beruntung nih. Berbekal kegagalan semester dua. Saya menyiasatinya dengan bagadang bareng-bareng di rumah temen. Selain itu saya juga udah punya notebook sendiri, gak pake laptopnya kakak yang error itu, terus hape saya juga udah agak bisa lah buat buka SIKADU.

Dan tahukah? Apa gerangan yang terjadi di jam dua belas malam? Ternyata Input KRS belum dikeluarkan! Dan saya pun tersadar satu hal saat itu, bukan hanya cowok yang bisa PHP, SIKADU juga! SIKADU enggak tahu, bahwa kami mahasiswa dengan prodi tebanyak diminati di fakultas pendidikan, udah seperti zombie yang maniak terhadap SIKADU. Mata kami enggak sedetikpun teralihkan dari SIKADU sebelum Input KRS dibuka.

Setidaknya itu berakhir happy ending bagiku, karena perjuanganku menjadi zombie enggak sia-sia. Jadwal yang udah kerancang berujung pada kesesuaian.

Tibalah input KRS untuk semester empat, masih seperti di atas, kumpul bareng temen. Tapi kali ini lancar, jam dua belas udah bisa di input. Hanya saja terkendala seperti yang sudah-sudah. Loading lamaaaaa banget. Udah gitu hujan deras, sinyal ilang-ilang. Dan saya pasrah menunggu LOLA yang begitu keterlaluan.

Nah kalau di semester lima, SIKADU agak manusiawi. Karena input KRS jamnya ditentuin jam setengah tujuh. Walaupun jam enam ternyata udah dibuka sih. Yang jadi masalah kali ini adalah, saya dilema, karena ditawari kerja jadi guru TK. Bagaimanapun kalau bukan rejeki mah gak bakal dapet. Yaudah deh, mending saya fokus kuliah aja.

Di semester enam, yakni di jum’at tanggal 19 kemarin, SIKADU kembali bereksperimen pada jam penerbitan input KRS, yaitu jam setengah lima. Kita pun dibuat dilema, antara sholat shubuh dulu atau input KRS dulu, atau sholat shubuh sambil input KRS.

Kalau temen-temen saya menyiasatinya dengan jam empat sudah bermekena sambil ancang-ancang mau sholat, begitu adzan go... langsung sholat. Lagi-lagi kendalanya loading yang lemot sih.

Tapi setidaknya saya sukseslah untuk input kali ini. Nih saya kasih tips cara agar input sukses.

Pertama, pastikan kuota internet aman. Kalau perlu sedia dua kartu sekaligus, mengantisipasi kendala cuaca yang kadang menelan sinyal habis-habisan. Kedua, dari satu atau setengah jam udah stay di input KRS. Ketiga, buka semua browser, dari mulai Chrome, Mozilla, Opera, stay semua di SIKADU, kalau perlu hape androit yang punya dua biji, gunakan semua deh.

Nah kalau input KRS udah buka, satu browser buat ambil satu makul, selesai deh tuh dalam satu klik. Tentunya keerroran dan keberuntungan berlaku di sini.

Saya bakalan kangen input gak ya? yang buat hati saya dag-dig-dug, ah inikah yang namanya cinta? Semester depan saya udah gak perlu lagi rebutan kelas. Materi saya sudah selesai. Tinggal PPL, KKN dan Skripsweet. Doakan ya, semoga lancar semuanya. Aamiin.




Inet Bean
23 Januari 2017
#Catatanakhirkuliah.

Selasa, 10 Januari 2017

Senja di Batas Kota

Abaikan dua sosok berjilbab yang terfoto :D

Ahad, 8 Januari 2017, aku bersama teman dan keponakanku menunggu di Jetayu untuk melihat pawai panjang jimat. Siang itu sangat terik, kami duduk di pinggir taman yang cukup teduh. Suasana sekitar cukup ramai, anak kecil bersama kedua orangtuanya, anak sekolah yang masih berseragam, hingga remaja cewek-cowok yang bergerombol.

Sudah menjadi kebiasaanku, mengamati tiap inci sejauh mata memandang. Tidak jauh dari tempatku duduk, aku melihat kalimat puitis, “Senja di Batas Kota” tertulis di gerobak mie ayam. Aku antara takjub, terpana, lucu, apalagi ya? Aneh, iya aneh kan? Gerobak mie ayam bertulis kalimat puitis kek gitu?

Mungkin si Bapak Tukang Mie Ayam itu dulunya sastrawan? Penyair? Seniman? Atau yang nulis istrinya? Anaknya? Aku bertanya-tanya dalam hati sekaligus sama teman dan keponakanku. Karena enggak ada jawaban (iyalah? Tanya sama diri sendiri mana kejawab?) akhirnya karena aku lumayan laper dan sekaligus penasaran, aku beli mie ayam deh, sendiri, karena temen dan ponakanku masih kenyang katanya.

“Pak, mie ayam satu”

“Iya, silahkan duduk, Mbak....”

“Eh iya, Pak....”

“Monggo Mbak, silahkan di sana.”

Si Bapaknya mungkin berpikiran gimana-gimana, soalnya aku disuruh duduk iya-iya aja tapi masih didekat gerobaknya. Bingung juga mau mulai nanya dari mana, masa’ tiba-tiba nanya tulisan di gerobak sih?

Untuk membuka obrolan, basa-basi aku nanya-nanya, ini beneran konyol deh keknya aku. Saking penasarannya sama tulisan “Senja di Batas Kota” bayanginnya tuh keknya romantis banget.

“Pak, biasa di sini ya?”

“Iya, udah biasa di sini, Mbak”

“Oh, rumah Bapak deket dari sini?”

“Iya, paling belakang gedung itu, kalau rumah Mbak?”

“Saya Buaran, Pak...”

Setelah bla bla bla ngobrol, istri si Bapak Tukang Mie Ayam datang ngebantu si Bapak nyiapin mie ayam. Sedangkan aku gelisah, soalnya mie ayam untuk aku udah mau jadi, tapi belum sempet nanya. Duhh...

Oke, daripada mati penasaran, akhirnya aku sok ngelihat tulisannya gitu dengan pandangan terpesona.

“Eh, Pak... tulisan ini Bapak yang buat?”

Si Bapak Cuma senyum, tersipu gitu deh. Aku jadi ikut senyum gaje, dalem hati, ‘Yaelah kok Cuma senyum, please Bapak, aku tidak butuh senyumanmu, aku butuh jawabanmu.’ Karena si Bapak senyum aja, jadi aku langsung lanjut nanya istrinya, “Yang buat Bapaknya ya, Bu?”

Kali ini si Ibu yang tersenyum, tapi sambil menjawab, “Iya, itu Bapak yang buat....”

Lalu kami bertiga tersenyum dan bahagia selama-lamanya, sebenarnya masih pengen nanya lebih banyak, tapi karena mie ayamku sudah jadi dan makin rame yang beli mie ayam, yasudahlah. Padahal waktu itu aku berharap pembuatan mie ayam bisa selama satu atau dua jam.

Yang pasti, aku harus ke sana lagi!

Inet Bean
10 Januari 2017


Rabu, 23 November 2016

Kopdar dengan Si Gadis Gitar ODOP

Dari hp si Gadis Gitar


Oleh: Inet Bean

Si Gadis Gitar ODOP itu sebenarnya adalah aku, tapi berhubung itu masih dalam rangka salah satu impianku dan aku belum bisa bermain gitar, maka gelar itu akan kuberikan kepada... (jeng jeng jeng.... biar dag dig dug dulu)

Tapi aku yakin sih warga ODOP udah mafhum, tentu saja si Bulek Hacker, jadi udah tahukan? Yups, Heni (Lusi) S Kagie.

Jadi, untuk kopdar alias kopi darat alias bertemu dengan Mbak Heni, bener-bener drama. Betapa tidak? Mbak Heni berulang kali ke Pekalongan tapi baru kali ini kita akhirnya bertemu. Rasanya seperti bertemu dengan teman lama yang terpisahkan, ketemu ketawa-ketiwi muluk.

Beberapa bulan yang lalu Mbak Heni ke Pekalongan dalam rangka menemani temennya yang mau penelitian, gak tahu deh kenapa penelitiannya di Pekalongan, padahal di Pemalang aku kira juga ada anak SMA.

Waktu itu kita mau kopdar, tapi gagal. Karena kita seperti kejar-kejaran. Ketika Mbak Heni ngabari di tempat A, aku pun OTW ke tempat tersebut tapi ternyata Mbak Heni sudah berganti tempat B, begitupun setelahnya ke tempat C, D, sampai Z.

Dan minggu lalu Mbak Heni ke Pekalongan dalam rangka untuk mempresentasikan mars dan hymne ciptaannya bersama Mas Urip dan satu lagi aku lupa. Keren kan si Gadis Gitar ini? Hebat. Empat jempol deh. Sayangnya kami waktu itu belum berjodoh bertemu. (hiks)

Walaupun gak juara pertama, setidaknya juara ketiga. Nah, tadi si Gadis Gitar ini ke Pekalongan lagi tepatnya kampusku, dalam rangka menanda tangani dan mengambil sertifikat kemenangan atas karyanya.

Sebelum bertemu pun aku masih harus towaf di gedung Akademik, padahal jelas-jelas SMS dari Mbak Heni bilangnya di utara Auditorium. Ini murni otakku yang agak konslet gegara baru saja dikerjain dosen (baca: Ngerjain Tugas)

Nah, untungnya aku cepat siuman, jadilah kita bertemu. Ah kitapun berpelukan erat sekali, sampai-sampai seperti ada lem di badan kita. Begitu erat, sampai ditereakin orang-orang, dikira lesbiyan. Eh, enggak. Sebenernya bukan begitu kok, itu murni khayalanku saja.

Yang sebenarnya terjadi adalah, aku liat dari jarak kira-kira lima meter ada coklat-coklat. Ternyata benar itu jilbab coklatnya Mbak Heni, aku pun memanggilnya.

“Mbak Heni...” teriakku.

“Inet...” teriak Mbak Heni.

Kita berlari-lari seperti di sinetron-sinetron yang adegan larinya dipelankan.
Tangan kita berpelukan erat sekali sambil ngakak-ngakak.

Dan tahukah yang dikatakan Mbak Heni terhadapku setelah itu?

“Net, suaramu seksi loh.” (Hening)

NB: Makasih makan-makannya, ciee yang juara. Sekali lagi Makasih amplop putihnya, maksa sih, aku terima deh. Lain kali jangan segan untuk paksa aku lagi yah Mbak Hen? (Becanda-becanda :D)


Dari hp si Gadis Gitar

Dibuang sayang :D

Kamis, 26 Mei 2016

KURA-KURA BERAGENDA


Sebetulnya harusnya aku menuliskan hasil seminar. Namun karena dirasa butuh permenungan mendalam. Jadi aku tunda aja deh. Biar lebih maksimal penulisannya.

Acara seminar nasional berjalan lancar tanda adanya yang pingsan karena saking terpesonanya dengan Prabu Revolusi, tak ada juga yang kesurupan, ayan, atau lain-lainnya. Adanya paling mereka yang nge-fans artis. Karena aku gak nge-fans, jadi biasa saja lah ya. Biarkan yang hobi selfie berekspresi. Jadi, tadi yang lain asik ngajak selfie Prabu Revolusi, aku malah nonton saja. Haha… lupa tidak aku foto.

Setelah acara seharian tadi, besok masih ada acara yang menyambut. Yaitu acara jalan sehat penghuni-penghuni kampus. Karena organisasiku pers, jadi ditugaskanlah meliput acara tersebut. Selain meliput juga ikut sih, lumayan juga ada doorprizenya, walau aku jarang dapat doorprize, siapa tahu dewi fortuna tetiba menghampiriku. Jadi sambil menyelam minum jus gitulah.

Nah, dilanjutkan rapat keredaksian menbahas tentang tema majalah yang akan diterbitkan. Pasti akan memakan waktu yang lama. Dan itu tandanya besok aku pulang sore bingit lagi, tak jarang maghrib. Makanya nih tubuh jadi letoy, otak jadi penat, maka tulisan curcol inilah yang keluar.

Padahal, malamnya masih ada acara lagi nih. Acara maulid nabi yang diselenggarakan organisasi remaja di kampungku. Seharusnya besok jam sembilan acara gladi bersih, tapi karena ada acara kampus, terpaksa aku tinggalkan. Aku ikutnya pas acara saja, yaitu malamya. Maaf ken, tidak bisa ikut gladi bersih ketua.

Nah, itulah kegiatan yang membuatku lumayan loyo, letoy, lesu, lunglai dan sebagainya. Padet banget agendanya. Kadang ada yang bertanya sebetulnya apa sih yang aku cari dari ikut organisasi? Padahal kan capek, kuliah aja juga sudah capek. Ini malah ditambahi ikut organisasi?

Realita kehidupan mahasiswa saat ini sangat beragam. Meminjam analisis Ricardi seperti dikutip oleh Masrukhi  (2009), dalam konstelasi relasi sosial akan tampak lima wajah mahasiswa sebagai reaksi realitas diri dan sosialnya.

Pertama adalah kelompok idealis konfrontatif, dimana mahasiswa tersebut aktif dalam perjuangannya menentang kemapamanan  melalui aksi demonstrasi.

Kedua, kelompok idealis realistis adalah mahasiwa yang memilih koperatif dalam perjuangannya menentang kemapanan.

Ketiga, kelompok oportunis adalah mahasiswa yang cenderung mendukung pemerintah yang berkuasa.

Keempat adalah kelompok profesional, yang lebih berorientasi pada belajar atau kuliah.

Kelima adalah kelompok rekreatif yang berorientasi pada gaya hidup yang glamour dan menyukai pesta.

Dari survei yang dilakukan di bidang kemahasiswaan (Masrukhi, 2009), wajah terakhir menunjukkan kecenderungan yang tinggi yaitu 90%. Untuk kelompok 1 sampai dengan kelompok 4 berkisar hanya 10%. Namun demikian, kendatipun kelompok idealis persentasinya kecil dibandingkan dengan kelompok yang lain, akan tetapi secara bersama-sama mereka memiliki energi besar, yang disebut collective consciousness.

Organisasi itu penting bagi mahasiswa, Tapi sayangnya mahasiswa sekarang sudah terkapar oleh media sosial.

Melalui organisasi begitu banyak manfaat yang diperoleh. Semoga besok aku tidak cukup lelah untuk menuliskan kenapa sekaligus manfaat organisasi.

Inet Bean
26 Mei 2016

#OneDayOnePost

Rabu, 25 Mei 2016

KURA-KURA SEDANG LETOY


Kura-kura ternyata belum bisa melunasi hutangnya. Yang penting tidak nambah hutang deh. Padahal kura-kura sudah lelah dengan semua ini, aku lelah dipermainkan seperti ini. Lah malah baper.
Aku mau jawab sajalah kenapa kura-kura sampai ngutang?

Pertama, menjelang UAS. Dosen berlomba-lomba memberi tugas yang tidak berperi kemahasiswaan. Udah gitu, aku juga presentasi semua di akhir perkuliahan. Itulah yang menyebabkan kura-kura jadi kewalahan membagi waktu. Ada makalah-makalah yang menumpuk dan juga tugas yang melimpah.

Selain itu, kura-kura juga rapat tentunya. Karena agenda bulan ini dan bulan-bulan setelahnya sangat padat di organisasi kampus yang aku ikuti. Istilah kerennya sih aktivis. Tapi aku adalah aktivis yang elegan, karena tidak menyuarakan dengan retorika lisan, melainkan dengan tulisan. Contohnya dengan tulisan ini aku menggugat hutang. Eh, maksudnya berusaha melunasi hutang.

Dan sekarang-sekarang ini sedang persiapan acara seminar nasional tentang jurnalistik, yaitu Prabu Revolusi. Setelah itu ada acara training leadership. Jadi panitia pula, disamping itu mikirin tugas yang belum kelar. Semua ini benar-benar membuatku senang aja deh, karena toh emang itu sudah menjadi konsekuensi aktivis, cieh aktivis.

Besok adalah acara seminarnya, jika aku bisa mendengarkan tanpa adanya gangguan, pasti aku rangkumkan deh materinya, semoga bermanfaat, terutama bagi yang tidak tahu bagaimana menyikapi media yang dewasa ini pemberitaannya kadang berbeda-beda antar media. Karena temanya sadar atau terkapar media. Wuih, agak serem gimana gituh ya…

Media, dewasa ini memang tidak bisa dipercaya 100% keakuratannya. Padahal media esensinya sebagai wadah penyampai informasi untuk rakyat. Namun justru sekarang media terasa kabur, karena media yang satu dengan yang lain tak jarang terindikasi berseberangan.

Oke, kembali lagi ke kura-kura. Sesuai judulnya. Kura-kura sedang letoy, soalnya tadi pulang petang dari kampus, untuk gladi bersih acara besok. Besok kura-kura harus berangkat pagi juga. Maka dari itu, sebaiknya kura-kura segera tidur. Agar badan lebih fit besok.

Maka dari itu, aku akhiri tulisan ini dengan suatu puisi, entah aku rasanya sedang ingin berpuisi….

Alunan Malam

Hitam kemeja meluruskan jalan
Kelam berderu bersama hening
Kian alunan musik jiwa hakikat
Esok kan lebih berembun berendah
Menyatu dengan merah muda

Bisikmu mawar merah dan melati putih
Rasaku berselimut hangat kasih
Biar saja suara hentakan mengabur
Namun jiwa kita membahasakan hati
Resah kan memudar bersama purnama
Hakikat kan menuntunnya

Inet Bean
25 Mei 2016


#OneDayOnePost

Untukmu aku Menulis

Kenapa Aku menulis?

Ibu, Kau bilang, “Belajarlah pedih akan hidup ini!” setelah khotbah panjangmu yang kudengar dengan hati. Kuanggap itu adalah khotbah, hingga aku tak kuasa berkomentar apa pun. Bibirku kelu, nafasku berat, hatiku sesak. Aku mencoba bertahan agar tak menangis dihadapanmu, kutahan sekuat mungkin.

Maafkan, setelah itu aku mengurung diri di kamar. Aku tak kuat lagi, tersedu tanpa bisa kukendalikan keluarnya air mata. Kau tidak boleh melihatku menangis, aku ingin kau melihatku sebagai anak yang tegar. Bukan anak cengeng. Namun ternyata aku hanya perempuan biasa yang bersenjatakan air mata. Seberapa kutahan tetap saja air mata mengalir deras dipipiku.

Hingga aku terlalu lama di kamar. Kau mungkin khawatir apa yang sedang kulakukan. Kau memanggilku namun tak kuasa aku menjawab. Tangisku makin menjadi-jadi. Tidak mungkin aku menyahut dalam keadaan seperti itu, aku akan ketahuan menangis.

Kau menggedor pintu kamarku. Aku menahan tangisku. Ibu, tenang saja, anakmu ini tidak mungkin bunuh diri, tidak sependek itu pikiranku. Butuh beberapa menit untuk menenangkan diri sampai aku membuka pintu dengan wajah tertunduk.

Ibu, kau bilang aku itu pendiam. Mungkin karena itu terbesit dalam benakmu aku akan melakukan hal-hal bodoh. Sama sekali tidak Ibu. Karakterku memang begini. Kenapa aku pendiam? Karena aku dipertemukan dengan orang-orang yang suka bercerita. Maka rasa yang tertampung di hati hanya bisa kumuntahkan dengan kata-kata, kurangkai menjadi kalimat, dan selanjutnya menjelma paragraf secara bersambung-sambung.

Bukankah aku sudah belajar pedih, Ibu? Kau bilang aku yang paling beruntung diantara kakak-kakakku. Dari segi pendidikan mungkin iya, namun jiwaku begitu rindu. Rindu bersama keluarga utuh. Ketika aku mulai mengenal dunia, satu per satu kakak meninggalkan rumah. Hingga puncaknya Ayah bukan hanya meninggalkan rumah, namun dunia ini. Sejak saat itu aku lebih menghargai arti memiliki setelah ditinggalkan.

Kini hanya ada aku dan kau. Sudah seperti sinetron-sinetron saja hidupku. Kadang aku merasa iri pada kehangatan kebersamaan mereka. Tapi aku harus mencintai duniaku sendiri. Kenapa aku menulis? Karena itulah caraku menghibur diri, menceritakan keluh kesahku. Maaf Ibu, aku tidak bermaksud menyembunyikan apa yang kurasa. Namun cukuplah aku menjadi pendengar keluh-kesahmu akan hidup ini.

Keajaiban demi keajaiban datang dalam perjalananku dari masa ke masa. Keajaiban kerja keras mu, Ibu. Aku bisa mengenal dunia kepenulisan. Walau studi sastra yang kuinginkan tidak terwujud. Barangkali ini adalah ketersesatanku yang baik. Dia mendampingi tiap langkahku. Semua itu berkatmu, wahai Ibu.

Kau tidak tahu apa yang dicita-citakan anakmu ini. Tapi cukuplah tiap aku mencium tanganmu sebelum mencari ilmu, kau doakan aku sukses dalam tiap langkahku. Dan ketika aku sukses kau akan terkejut siapa anakmu ini.


Pada tanggal 25 bulan Mei tahun 2016. Demi kau, Ibu. Dengan rasa takjimku padamu, dengan rasa di kedalaman hatiku, aku mengizinkan diriku menjadi penulis dengan menerbitkan minimal satu buku pada tanggal 03 bulan November tahun 2018. Dan menjadikannya best seller atau lebih baik dari itu.

Dari kedalaman kalbu.
Aku, anakmu.
Inet Bean.

Senin, 23 Mei 2016

KURA-KURA NGUTANG

http://sikodokpesek.blogspot.com/2015_12_01_archive.html

Jadi dalam rangka melunasi hutang yang menumpuk, akan aku mulai dari melunasi hutang yang bahula alias terdahulu tentang kegiatan sehari-hariku. Sekaligus sebagai penjawab kenapa diriku sampai berhurang ria. Padahal utang yang menumpuk menyebabkan ketagihan, eh maksudnya dihantui tagihan.

Bicara mengenai tagihan. Hidupku gak jauh-jauh dari tagih-menagih. Karena hidup tanpa tagihan bagai hape jomblo yang sepi bagai kuburan. Sepi, sunyi, sendiri, aku benci. Jadi kuputuskan untuk berkecimpung di dunia tagihan. Agar hape ini ada notifikasi, walau itu tagihan dari operator agar mengisi ulang kuota.

Aku Adalah Kura-Kura.

Jika ditanya kegiatan sehari-hari ya kurang lebihnya jawabku kura-kura alias kuliah-rapat kuliah-rapat.  Jadi seorang Inet itu suka mencoba hal-hal baru. Apalagi yang menantang, memacu adrenalin, bikin dag dig dug, lah aku ngomongin apa sih?

Oke, sudah tahu maksud kura-kura kan? Jadi bukan binatang kura-kura, melainkan suatu akronim. Tapi kalau diamati, aku emang kek kura-kura deh, karena kura-kura itu sepertinya pemalas, bukan sih sebenernya kura-kura itu lambat. Nah, iya aku sepertinya lambat kalau tidak dipaksa cepat, jadi aku harus melawan kelambatanku itu dengan menyeburkan diri dalam ranah tagihan.

Karena aku lambat dan sedikit pemalas. Akhirnya terjebak dalam ranah hutang di ODOP. Apakah aku kalah dengan kelambatanku? Sama sekali tidak pernah terlintas dalam benakku untuk hutang, karena kalau sudah hutang aku jadi terbuai, terlena, terpuruk seperti ini. Help me …, help me, please…

Pernah nonton film animasi Turbo? Di situ dikisahkan seorang siput yang kita tahu jalannya lambat bermimpi ingin jadi seorang pembalap. Wait, tadi aku menyebut seorang siput? Koreksi, siput hewan ya, bukan orang.

Siput itu setiap hari berlatih agar bisa berjalan lebih cepat, tanpa rasa lelah dan letih. Namun, siput-siput lainnya hanya menertawakannya, bahkan menganggapnya gila. Lagian impiannya tinggi banget sih, pingin jadi pembalap. Haduh put, siput…

Sampai pada suatu hari siput itu menyendiri di malam hari. Dia menonton pertandingan balapan mobil liar. Hingga entah bagaimana, dia ada di salah satu mobil balap tersebut. Pada saat mobil itu melaju dengan kecepatan super, karena ada suatu cairan di mesin mobil yang menyebabkannya berpacu sangat cepat. Siput terjebak jatuh ke dalam cairan di mesin mobil.

Esoknya, tahukah apa yang terjadi? Siput itu mati. Bagaimana kalau akhirnya mati? Kecewa kah rasanya? Oke, jadi yang sebenarnya terjadi, impian siput itu terwujud. Jalannya secepat cahaya, efek dari percampuran gen siput dengan cairan mesin mobil balap. Dan, akhirnya siput itu bisa mengikuti lomba kejuaraan mobil balap internasional. Aneh emang, namanya juga film.

Setidaknya kita bisa mengambil hal yang sangat indah dari film itu. Oh ya, nama siput itu adalah Turbo, sesuai nama filmnya. Bagi yang mau nonton silahkan download sendiri. Jika melihat perjuangan dari siput itu yang berusaha melawan takdir. Memang lucu, sudah kodratnya lambat, tapi berkat impiannya yang kuat, akhirnya terwujud juga walau datang dari sudut yang tidak disangka-sangka.

Mungkin saat ini aku hanyalah siput yang bermimpi jadi pembalap. Berusaha melawan takdir lambat dengan tagihan-tagihan. Namun, suatu saat nanti. Aku yakin akan datang keajaiban dari sudut-sudut yang belum kuketahui.

Eh, ini jadi membahas siput. Padahal kan judulnya Kura-kura Ngutang?
Aku, Kura-Kura Ngutang…, Yang bermimpi melunasi hutang dulu deh…

Akankah Kura-Kura melunasi utang?
Apa sih yang dirapatkan Kura-kura, sampai ngutang?

Inet Bean
23 Mei 2016

#SemangatBayarUtang

#OneDayOnePost