Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 September 2017

Hilang Derita


Canda warnai pertemuan kita, di sudut dunia
Ketika sang surya mulai malu
Tampakkan sinarnya
Sepasang mata beradu dalam diam
Tenggelam temukan taman surga
Hilang derita
Merengkuh asa
Jatuh ke dalam diri

Tak ada kita
Tinggalah aku
Bersama rembulan tanggal tengah
Malam tak berbintang jatuh
Segalanya tampak sempurna
Sempurna....

19 September 2017, Ditulis Inet Bean ketika sedang diare.

Selasa, 28 Maret 2017

Layang-layang

http://suryamalang.tribunnews.com/2016/05/09/layang-layang-bikin-helikopter-polisi-mendadak-mendarat-dan-melabrak-pemilik-layang-layang-mengapa

Aku tak ingin mencintaimu seperti layang-layang
Menarik ulur lalu dilepaskan
Aku tak ingin mencintaimu seperti layang-layang
Mengikat untuk kemudian diterbangkan
Jangan pula meniru layang-layang
Begitu lepas lalu jadi rebutan
Dipegang-pegang karena mainan
Cintaku lebih mengangkasa dari senar layang-layang
Melampaui batas-batas imajiner

Aku mencintaimu, Sayang

Senin, 27 Maret 2017

Utopia Khotbah Cinta

https://pixabay.com/en/heart-love-romance-valentine-700141/

Bagaimana musafir mengembara dari satu naungan ke naungan yang lain
Perasaan macam apa yang tengah berbisik ketika berkunjung lalu beranjak.
Bagaimana jalan filsuf dilalui tanpa air mata
Ketika mensabdakan cerapannya akan alam semesta
Bagaimana skeptis tak dapat diam pada dogma
Rasio dipatenkannya menjadi sumber keajaiban yang pernah ada
Dalam buku kantongnya tak ada kata persepsi
Yang harus diketahui mereka berasal dari kampung halaman yang sama.

Bagaimana jalan sufi digambarkan dengan cawan-cawan anggur yang tertandas habis
Dalam tariannya seirama dengan berputarnya bulan yang cahayanya cemerlang
Bagaimana aku menafsirkan cinta
Ketika cinta datang dalam berbagai bentuk
Mereka menjelma sebagai musafir, filsuf, skeptis, lalu sufi.
Wahai hati aku tak memaksamu mendengarku
Kini aku lelah pada utopia cinta yang mereka ciptakan
Aku ingin melebur pada pikiran murni
Semurni mata air yang bergemerincik


Inet Bean
27 Maret 2017

Kamis, 09 Maret 2017

Tentang Aku

By. Pixabay
Terimakasih untuk pengalaman perasaan yang Kau berikan kepadaku. Bahwa sesungguhnya aku terlalu dini untuk mengerti apa arti sesungguhnya rasa yang tak terjelaskan dengan kata dari belahan dunia manapun.

Terimakasih atas sebuah pemahaman yang Kau bisikkan kepadaku. Bahwa aku terlalu naif menerjemahkan kata-kata yang berasal dari bibir manusia, tidak terkecuali dari bibirku. Tidak semua kata yang terucap dapat terwujud.

Terimakasih, pada orang-orang tak terduga yang Kau kirimkan kepadaku. Bermacam-macam karakter mewarnai hidupku, hingga aku mampu mengambil jawaban dari pertanyaan yang secara rahasia Kau lontarkan kepadaku.

Terimakasih, telah Kau sadarkan. Banyak yang harus kuperbuat selain sibuk dengan rasa yang belum kumengerti. Tak kutaruh dendam pada rasa sakit yang pernah ada, semua itu adalah kuliah kehidupan yang secara gratis kudapatkan, tetapi mahal untuk didapatkan.

Rasa sakit, kecewa, terluka, biarlah menjadi atribut kehidupan yang menyejarah, begitu juga kenangan indah yang kan jadi nostalgia. Dan kini, kubiarkan hidupku mengalir seperti sungai kehidupan. Dengan mimpi-mimpi yang telah menunggu untuk kugapai.

Dan mari kita dengarkan lirik yang indah ini

I know my life ain’t perfect
Aku tahu hidupku tidak sempurna
But I don't have to worry
Tapi aku tidak perlu khawatir
‘Cause I've got all that I need
Karena aku punya semua yang aku butuhkan
Right here in my, in my life
Disini, di diriku, di dalam hidup ku
I know my life ain't perfect
Aku tahu hidupku tidak sempurna
But I like the way it's going
Tetapi aku suka perjalanan hidupku
‘Cause I've got all that I need
Karena aku punya semua yang aku butuhkan
Right here in my, in my life
Disini, di diriku, di dalam hidup ku
Thank You for the good life, good life
Terima kasih untuk kehidupanku yang baik, kehidupan yang baik
Allah I want to thank You for the good life
Allah, aku ingin berterima kasih atas kehidupanku yang baik
I leave it all in Your hands, oh
Aku meninggalkan semua itu di tangan Mu, oh


(Good Life, Harris J)

9 Maret 2017

Rabu, 08 Maret 2017

Hakikat Hidup

By. Pixabay

Mereka datang dan berlalu pergi
Meninggalkan rasa terdalam lalu mencabut dengan kejam
Membiarkan senyum mengembang lalu menghapus tak bersisa
Aku masih di sini
Entah sekarang mereka sedang apa
Aku masih menetap
Hakikat hidup, benarkah tentang datang dan pergi
Sahabat, bolehkah aku menyebut mereka sahabat?
Melalui tulisan aku tersedu
Lebih dari sekedar bulir permata
Kemarin ada tawa yang tertoreh
Kini giliran tangis menghias

Memangnya aku ini siapa?
Tentu saja mereka hanya menjawab “bukan siapa-siapa”
Di sudut senja aku menari
Tarian yang kan mengantarkanku pada perpisahan
Akulah tuan rumah para pengembara
Menyuguh ramah tak melarang mereka lanjutkan mengembara

Pekalongan, Juli 31 2016

8 Maret 2017

Senin, 06 Maret 2017

Atribut Kehidupan

http://id.pility.com/bunga-indah-vektor-siluet-wanita/

Ketika aku bergeming, semua ingatan tentangmu begitu saja merasuk dalam pikiranku. Entah sudah berapa kali aku berusaha menghapusnya. Tetapi usahaku belum cukup berhasil.

Apakah kau merasakan yang kurasakan? Aku pernah bilang bahwa aku adalah seorang yang pengecut dengan masalah hati. Aku selalu takut merasakan sakit hati.

Ingatkah ketika kau berusaha mencuri hatiku? Dan aku tak acuh kepadamu. Tidak meresponmu seketika. Kau menunggu dengan harap cemas hingga kau terlihat berpeluh.

Jika ternyata akhirnya kau dengan keputusanmu dan aku dengan pendirianku. Tak apa, aku yang penakut ini akan pura-pura tegar. Tak kutunjukkan air mata yang begitu saja keluar melalui sudut mata. Biar rasa itu kukenang sendiri, hingga tak kan pernah terlupa. Menyejarah dan menjadi prasasti tentang kita.

Kau pikir aku bercanda? Aku memang suka bercanda, tetapi aku hanya manusia biasa yang bisa menangis. Karena luka dan duka.

Pada kesempatan tertentu aku memang dapat tertawa di atas tangis. Hanya diriku dan Sang Maha Tahu yang mengerti bagaimana rasanya bersandiwara seperti itu. Kau tentu tak pernah tahu, yang kau tahu aku selalu bahagia.

Pada saat sunyi aku melihat bayangmu pada buah hati kita, matanya, bibirnya, suaranya, semuanya mengingatkanku padamu. Aku bimbang, antara sedih tak bisa lepas seutuhnya darimu dan senang ketika kerinduan diam-diam menelucup di celah jiwa, malaikat kecil itu sebagai pengobatnya.

Walau kutahu, kau seolah tak peduli lagi padaku, tetapi hati mana yang mempercayai hal itu? Ketika kau melumerkan hatiku, aku percaya hatimu tak mungkin tandus.

Namun, sudah kutetapkan dalam hatiku. Setiap orang mempunyai jalannya sendiri, dan kini aku melihat kau semakin jauh. Kau seperti orang yang tak ku kenal. Kau kehilangan kenanganmu, amnesia.

Untuk kenangan yang kau lupakan, untuk malaikat kecil yang kau acuhkan, untuk hidupku yang masih berjalan, untuk mentari dan bintang yang masih benderang. Aku kan berjuang, menunggu isyarat semesta yang belum sampai.

Takdir hanyalah sebagian kecil atribut kehidupan. Dan bagaimana aku memandang dunia, semesta telah berbisik, meneguhkanku, bahwa aku selalu pantas mendapat seseorang yang tak pernah berhenti berjuang denganku. Menghapus dukaku, mewarnai tawaku, dan mencintai malaikat kecil yang begitu meneduhkanku.

NB: Untuk seorang wanita hebat dan malaikat kecilnya.

6 Maret 2017

Minggu, 05 Maret 2017

Sesaat Setelah Senja

http://tipsfotografi.net/tips-fotografi-memotret-bulan.html

Sesaat setelah senja, atas dukungan semesta mata kita bertemu. Lalu untuk beberapa waktu kita tertegun, seolah kau adalah bayanganku dan aku adalah bayanganmu. Sebuah perjumpaan yang melenakan.

Kita selalu berpikir pertemuan itu adalah paradoks. Di satu sisi itu terlalu mudah bagimu dan di sisi lain sulit untukku terjemahkan. Sementara itu semesta tidak peduli dengan kebingungan-kebingungan yang ditimbulkannya.

Nikmati saja, katamu. Ketika pelangi tidak sengaja muncul di tengah gersang padang pasir, tetap harus dinikmati keindahannya. Keindahan yang langka. Meskipun sebelum pelangi menghilang, dahaga telah mencekik tenggorokan.

Lalu aku mengeryitkan dahi. Sebelum pelangi menghias, akanku tampung butiran-butiran air sebelum terjatuh ke pasir, hingga tak lenyap begitu saja. Dan seharusnya aku bisa menikmati warna-warni itu dengan mereguk kesegarannya.

Pada kesimpulannya kita adalah paradoks. Pada perdebatan-perdebatan yang kau luncurkan dan pada asumsi-asumsi yang kulontarkan. Dan semesta semakin tidak tahu malu.

Sesaat setelah senja, harus kuakhiri perdebatan dalam hatiku. Tidak terlena dengan keramahan semesta atau kebengisannya. Keduanya menjadi benalu. Aku telah terbiasa membuang keduanya, membakarnya, melarungkannya ke samudera maha luas.

Dan kini aku berdiri di atas kakiku sendiri. Dengan segenap mimpi-mimpi yang belum sempat melompat dalam ranah realis. Janji itu ada dan selalu terngiang sesaat sebelum mataku terpejam dan ketika dinginnya fajar kedua membuka kelopak mataku.

Kau dengan persepsimu, dan aku dengan sebenarnya diriku. Seharusnya kau tahu itu, dan tak perlu tawar-menawar dengan diriku. Hanya diriku yang mengetahui apa yang menjadi impianku. Tidak ada yang boleh mengusik mimpiku, tidak juga kau.

Karena walau sudah kugenggam mentari dan kuikuti cahaya rembulan, namun tetap ku hanyalah manusia biasa yang bisa terluka.

Sesaat setelah senja, telah kupendam segala hal yang membuat dingin dapat menelusup pada celah-celah hati. Menatap mentari dengan sejuta mimpi, dengan hati sebening embun, dan menapaki jalan menuju dunia yang lebih baik.

Sesaat setelah senja, Bulan bersinar anggun.

5 Maret 2017

Inet Bean

Sabtu, 04 Maret 2017

Bukan Sebentuk Keraguan



Adakah keraguan menelusup dalam hatimu? Apakah sebentuk kegelisahan? Ataukah sebentuk kerinduan? Tetapi bukankah cinta tak dapat bersanding dengan keraguan? Cinta tak mengijinkan ragu menyusup pada hati-hati yang tengah mencinta.

Sesungguhnya apa yang menggelisahkan? Sedangkan sepasang pecinta telah mengetahui bisikan-bisikan hatinya

Adalah kerinduan, tiada sedetik berlalu tanpa kerinduan dari dua hati yang telah menyatu, seumpama api yang berasal dari dua lilin, hingga tiada diketahui sesuatu yang dapat membedakan asalnya.

Kita telah mengabarkan pada sunyi tentang apa-apa yang menjadi rahasia dari hati yang tengah merindu. Melalui bisikan angin, bulan, rasi bintang, dan samudra jiwa.

Aku dan kau telah melebur dalam sebentuk kita. Segala rasa, duka lara, dan canda tawa adalah adalah satu rasa kita.

Maka, ketika waktu memanggil,

Biarkan jiwa dan tubuh menyelaras panggilan tersebut, dan semesta selalu berpihak pada pecinta, sebab adanya semesta karena Cinta.

Cinta yang telah menyatukan sepasang pecinta.

Kamis, 26 Januari 2017

Apakah Aku Terlalu Berlebihan?

http://fiksitira.blogspot.co.id/2014/12/pelangi-setelah-hujan.html

Tak ada lagi, tak ada lagi rahasia dibalik hujan. Kita sudah menyingkapnya. Menjadi sederhana, atau mungkin menjadi lebih rumit. Dengan kata-kata seakan menjadi mudah sekaligus sulit.

Bagaimana menikmati rinai jika sudah tak ada lagi tanda tanya? Apakah sekarang kau kesulitan untuk menemukan kata-kata darinya? Saat rintik pertama mengirimkan pertanda. Kadang menyakitkan, kadang menyembuhkan.

Kau bilang ini terlalu mudah, dan dalam kesempatan lain katamu keadaan terlalu sulit. Tapi dengan begitu kita benar-benar merasa hidup. Jika semesta kembali membuat jiwa kita hidup, berapa panjang jarak wajar yang kau inginkan?

Tak ada lagi, tak ada lagi rahasia dibalik pelangi. Kita sudah memahaminya. Lalu dalam hitungan detik hanya langit kosong yang tertinggal. Begitu yang kau rasakan?

Jika begitu, pita rekaman ini biarlah menjadi kotak kecil tempat cinta kita tersimpan. Kenangan untuk diri kita sendiri. Di mana kita selalu mendengar, hati kita tak pernah patah, dan waktu selamanya bukan penghalang.

Hingga kau bisa menyimpanku dalam kata-kata di hatimu. Memelukku ketika gigil mendekapmu. Dan tak ragu untuk selalu merindukanku. Karena rindumu adalah rinduku juga.

Dan jika kau menyakitiku, tak apa. Aku pernah merasakan itu, semuanya sudah terlambat. Terlambat yang begitu menyenangkan. Aku pernah takut untuk memulainya, di hatimu kau mendekapku.

Walau aku hanyalah mimpi. Tapi kita tahu, mimpi adalah awal dari segalanya. Kau tak perlu takut, kau tak sendiri, aku selalu bersamamu. Kita tuntaskan kegagalan ini, hingga di suatu waktu, tak ada kesempatan bagi kegagalan merusak keberhasilan mimpi kita.

Selalu ada pelangi selepas hujan. Entah di belahan bumi bagian mana. Kita hanya perlu menemukan tempat yang tepat dan di waktu selepas hujan.

Kau bergeming. Apakah aku terlalu berlebihan?

26 Januari 2017

Rabu, 18 Januari 2017

Yâ ‘âsyiqol Mushthofâ


Yâ ‘âsyiqol Mushthofâ | Absyir binailil munâ
Bagaimana mungkin meragukan perindu yang tak pernah melihatmu, dengan haru menyenandungkan syair-syair pilihan. Kusunggingkan senyum demi mempercayai untaian kata padang pasir hingga permadani padi. Yang kutahu, kelak kau pun akan membalas senyumku. Lebih dari harapan manusia, sebuah ikatan janji.
Qod rôqo kâ,sush-shofâ | Wa thôba wafdul hanâ
Cahaya dari ufuk nun terbentang, tiada menghalangiku melihatnya. Dengan hati. Apakah kau mengsangsikan pecinta yang tiada pernah bersua? Cinta seperti apa yang melebihinya? Jika cinta sudah tercipta, ribuan jarak bukan halangan. Hingga suatu moment terindah kan terajut. Garis nasab yang jauh berbeda mencintaimu tanpa syarat.
Nûrul jamâli badâ | Min wajhi syamsil hudâ
Serupa mentari pada embun yang menjadikannya bersinar. Aku melihat di mimpi-mimpi indahku. Kau menjelma menjadi apa saja dari kebutaanku akan dirimu. Lalu di fajar terindah, hadirmu kian nyata dengan segala rasa yang membuncah di dadaku. Kicau burung, gesekan dedaunan dan gemericik air, serupa alunan orkestra semesta. Sunyi, hanya kau dan aku.
Thôhalladzî billiqô
Qod fâza lammâ-rtaqô
Lalu di mihrab perjumpaan. Sebuah penuntasan janji yang sempurna, pelunasan rindu yang tiada berakhir, cinta yang mengalir semurni rinai. Pada akhir ketika keberuntungan hanyalah alasan sepasang sayap mengantarmu demi kebahagiaanku. Kembali pada suatu titik yang sama sebelum yakin benar, pada titik itu kita akan bersama.
Min fadl-lihi ‘ammanâ
Engkau, tiada yang kucinta melebihi kecintaanku padamu. Yang tanpa pernah kujumpai mampu membuatku cinta, segala tentangmu adalah yang membuat cinta begitu saja bersemayam di dalam hatiku. Bagiku, kau yang utama. Juga tidak ada yang menyamai cintaku, cintaku akan selalu berbeda.
Dûnal warô robbunâ
Tentu saja, dengan restu-Nya.

Inet Bean
18 Januari 2017

Minggu, 08 Januari 2017

Betapa Kami Merindu pada Negeri ini

https://web.facebook.com/pageKataKita/photos/pb.803774136380640.-2207520000.1483885060./1220940037997379/?type=3&theater

Betapa kami merindukan sosok panutan yang santun di Negeri ini
Betapa kami mencintai sosok pemimpin yang rendah hati
Betapa kami merindukan wajah Indonesiaku yang ramah
Betapa kami mencintai jiwa Indonesiaku yang gagah

Wahai Habib... kekasih Allah... kami begitu bangga memilikimu, senyum di bibirmu laksana oase yang muncul di gersang Negeri ini, Engkau tahu Negeri ini sedang ramai saling tuduh mencaci Tuhan atas nama Tuhan, tetapi mengapa Engkau tidak menunjukkan wajah marahmu? Engkau justru tersenyum bersama para pecinta Rasulullah... seakan Engkau bilang, masih banyak jalan menuju kebahagiaan tanpa kemarahan....

Habib... sungguh hati ini bergetar, terenyuh melihat Engkau bergandengan tangan dengan Orang Nomor Satu di Negeri ini, hati kami basah, begitulah yang kami harapkan antara ulama dan umaro, bergandengan tangan memajukan Negeri ini. Sungguh, Negeri ini sudah terlalu lelah melihat perseturuan antar saudara setanah air.  Melihat saudara bagai musuh, memperlakukan musuh seakan saudara, luruskanlah mereka wahai ulama dan umaro kami....

Wahai Presiden... sesungguhnya kami melihat gurat kerja kerasmu walau Engkau sembunyikan pada senyum sumpringahmu. Kemarin kami melihat saat Engkau mengurusi permasalahan politik yang begitu memanas di Negeri ini. Kami melihat Engkau berusaha sebaik mungkin melayani rakyat. Namun Engkau hanya manusia biasa yang punya khilaf, tapi jangan biarkan khilaf melenakan Engkau... Pemimpin Kami....


Hari ini, kami melihat secercah cahaya bagi Negeri kami saat Ulama dan Umaro kami bergandengan tangan .... saatnya Kita begandengan tangan menjayakan Negeri ini, mempersatukan Bangsa ini, mengharumkan namanya, Indonesia.

Inet Bean
8 Januari 2017

Selasa, 29 November 2016

Hujan di Tengah Malam

http://www.teropongsenayan.com

Oleh: Inet Bean

Hujan di tengah malam adalah kutukan bagi mata-mata yang tak bisa terpejam. Alunan rintikannya menghantarkan pada satu persatu kenangan, lalu membawa pada satu kerinduan.

Adakah kau merasakan kerinduan yang sama? Semacam kerinduan menikmati dinginnya malam yang berselimut sepi. Saat kita muak dengan percikan panas dunia ini. Saat tak bisa kita temukan di siang hari. Saat jiwa-jiwa kebohongan terlelap dalam sunyi.

Dan rinai hujan masih terdengar hingga selarut ini. Jika hujan menjelma menjadi seseorang, maka dia tidak akan mencapku sebagai pendiam. Karena hanya padanya kusampaikan rahasia-rahasiaku.

Ini adalah rahasia terbesarku. Setelah ini, kau bisa menanyakan padanya tentangku. Dia akan menjawabmu, karena kau adalah rahasia keduaku.

Kau tahu? Aku bisa mengerti seseorang hanya dengan respon dari pertanyaanku. Aku mengerti sesuatu yang tulus dan sesuatu yang hanya berselimut ketulusan. Aku mengerti seseorang yang tanpa sadar berbuat jahat. Aku mengerti seseorang yang senang dengan persahabatan. Aku mengerti seseorang yang membenciku. Aku mengerti...

Sampai saat ini, rintikan hujan masih terdengar. Tapi aku tidak cukup mengerti tentangku. Mengapa aku kadang cukup menyenangkan untuk disukai, dan kadang cukup pantas untuk dibenci. Aku berpikir hanya kau yang mengerti.

Tiba-tiba aku ingin mendengar suaramu. Tapi suaramu ternyata sudah ada di ingatanku, aku hanya butuh memilih puisi mana yang ingin kudengar. Hujan sudah reda.

29 November 2016

Minggu, 24 April 2016

Aku Cuma Punya Hati



Bolehkah aku berharap. Walau hanya akan sampai pada mimpi
Bukankah hidup ini hanya mimpi yang begitu nyata?
Bisakah kita bersama
Hanya kau yang membuatku terpukau
Pandanglah aku walau sedetik

Bagaimana aku tahu perasaanku berbalas ketika kau mengacuhkanku
Tak menganggapku Ada, hanya sebatas ada saja
Perlihatkan padaku secuil petunjuk untuk kujadikan peganggan cinta yang terus bersemai

Salahkah aku jika masih saja merindukanmu
Dia muncul dengan sendirinya tanpa komando dari otakku
Aku hanya bisa tersiksa akan siksaan yang menurut peggubah syair sebagai siksaan yang mengasyikkan

Pernahkah kau berdusta kepadaku
Aku tidak ingin mengingatkanmu akan itu
Bukankah aku adalah si pemaaf
Kau terlalu sakti hingga meluluhkan pertahanan hatiku.

Sekali lagi, ketika kau bercanda mesra dengan mereka
Aku tidak pernah berfikir untuk melarang
Walau sesekali kadang hatiku merasa tertusuk sembilu
Dan lagi-lagi aku tetap menerimamu di sisi hati ini.

Inikah cinta sejati?
Aku bertanya pada bulan yang masih terlihat di pagi sebelum matahari membuka matanya
Ataukah sebuah perbudakan di abad ke dua puluh satu
Adakah cinta yang membuat hati begitu luluh ketika siksaan terus mendera dari si pencuri hati

Mengapa?
Aku bertanya-tanya pada hatiku yang mulai kronis
Otakku selalu tumpul saat diajak berdiskusi tentang cinta
Lalu, ketika matahari mulai membuka matanya
Aku tahu, bahwa aku cuma punya hati.

Walau kau menghilang dari pandanganku
Tetapi dari hatiku kau tak pernah menghilang
Bukankah kita akan sempurna bila bersama?

Khikmah Al-Maula
24 April 2016

#OneDayOnePost

Jumat, 22 April 2016

Syair Sahutan



Mengapa tidak andaikan awan mendung meluruh bersama tetes butiran-butiran bening
Karena kesenyapanku lahir diantara mereka yang datang secara tetiba, lalu pergi tanpa pamit
Belum pernah kutemui pelangi mengukir indah diantara fajar dan senja
Namun kau kah pelangi yang tertutup malam
Pelangi yang melingkari bulan, cahayanya terbias sinar bulan
Jika selimut salju dapat meleleh, maka selimut pelangi lah menyejukkan
Aku tahu kau bukanlah Jack Frost, dan aku bukan Elsa

Ketika Sandman mati, maka yang ada hanyalah Black Pitch
Dunia hitam di dalam maupun di luar mimpi
Dapatkah cinta melawanya? Kau bilang
Sandman bisa kembali hidup. Hanya dengan keyakinan dan kepastian
Mimpi-mimpi buruk itu menjadi mimpi buruknya sendiri
Sedangkan mimpi-mimpi indah kembali mewarnai
Hanya dengan sebuah keyakinan.

Aku tahu, ketika gelap mataku menjadi terbatas, bahkan kabut terasa sempurna membuat kesendirianku semakin dalam
Lalu kau datang dengan sekarung cahaya yang kau tangkap untukku
Dan biarkan waktu menjadi sintesis akan potongan-potongan puzzle yang terserak
Di suatu pagi aku menorehkan mimpi-mimpiku diantara bintang dan bulan
Lalu ternyata bumi mengisyaratkan padamu
Kau tahu mimpi-mimpi itu, tapi bagaimana aku tahu mimpi-mimpimu?

Datanglah untuk rindu-rindu yang masih tercecer
Saat kepastian cinta mengukir dalam balutan naungan nirwana
Untuk kemudian mengamini
Di fajar kedua, ketika gelap masih menyelimuti
Tetapi senyumku sempurna merekah…

Khikmah Al-Maula
22 April 2016

#OneDayOnePost

Senin, 22 Februari 2016

Nirwana dalam Malam


Malam menghapus nestapa menjadi nirwana
Selimut magis senantiasa bertengger di tiap-tiap sudut
Hitam tak menghianati definisi materinya
Tangga tertinggi ada pada ketiadaan warna

Jika bianglala hanya fatamorgana
Malam tak pernah sekedar membayang
Segala kemunafikan tenggelam seketika
Ketika sang malam menjemput
Bukankah malam dan bulan selalu menjadi perpaduan hebat?

Bulanku, sudah kau sampaikan segala resah hatiku?
Aku masih menunggu, senantiasa menunggu
Harapku dia juga menunggu
Menunggu yang tak sempat sampai pada secuil rindu
Entah dia tengah di sisi yang mana

Adakah yang lebih memesona saat dua jiwa saling menunggu?
Tiada saling bersua ataupun menyapa
Hanya di kedalaman hati merengek kepada-Nya

Sabtu, 13 Februari 2016

Hipnotis hijau

Absurditas: Khikmah Al-Maula

Sajak untuk hijaumu dan pertama keakuanku
Bergumul dengan tanah merah basah licin menanjak
Angkuh kau menantang sang penantang
Menuju dekat lamat rasi-rasi gemintang balutan hitam pekat
Rasi scorpio bercahaya diantara rasi-rasi gemintang
Menunggu sang surya ke-emasan muncul
Dingin sungguh menjadi hawa hangat membara
Mengulang denganmu…
Imajiku tersentak
Tertinggal sudah hatiku dibukit dipsi

Lagi, semakin menggigil dalam suatu perjumpaan kedua
Semangat kau bilang untuk hijau
Nafas tersengal bersama keluarnya bulir-bulir bening
Kali ini lebih tinggi dan semakin menanjak
Dedaunan, ranting-ranting, semak belukar, tanah basah sambut senyuman
Oksigen menipis bersama ketinggian
Langkah terjal gontai menguap tergantikan alam udara segar
Senyumu kembali untukku
Tak biasanya, sepi
Kenapa hanya aku dan hijau saja sekarang
Terasa damai dan inginku tercapai menikmati negeri di atas awan
Itu bukan lautan berombak, hanya gulungan awan di bawah kaki

Dingin, sayup, embun meregup tubuh
Rintik halus memecah kesunyian mendung pagi

Tersadar oleh rinai.

Kala Masa

Absurditas: Khikmah Al-Maula

Duduk diatas angkringan kelam
Rembulan itu masih seperti yang lalu
Mengais sisa-sisa kejayaannya dalam rona bianglala
Meski tak tahu akan rahasia diamnya
Sepenggal keajaiban yang sekali lagi terasa pantas untuk tampak
Masih mengulum senyum pandangan sendu
Demi memungut kisah mozaik padang pasir

Sesenggukan temani sembunyi dan muncul
Terpancar sama kala masa jadi dua
Mencoba berdialog dengan pencipta
Sudikah mengulang masa yang jauh tertinggal
Masih dengan mata sayu tanda lelah pandangan ke bumi
Jawaban semakin kalut dalam selimut hitam
Tak ada selain menunggu titah selanjutnya menuju akhir masa

Aku masih bersandar pada angkringan
Mengamati hiasan kecil malam di atas sana
Mencoba menerawang dibalik rona putih balutan hitam
Tampak masih anggun walau tak kan kembali kala masa jadi dua.