Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 September 2017

Kerjarlah Dia

izwie.com
Menurutku kata cinta terlalu indah untuk diucapkan dengan bercanda. Jadi aku tidak suka pada siapapun yang bermain-main dengan kata itu. Itu bagiku, tentu saja siapapun juga boleh berbeda denganku.

Termasuk kamu, terserah jika kamu anggap itu biasa saja. Tapi tidak bagiku, maka ketika kamu bilang mencintainya, jangan pupuskan sepercik harapannya bahwa kata-katamu itu memang benar adanya menurutnya, jikapun tidak, mungkin belum.

Maka kerjarlah dia, dan pastikan dengan sepasti-pastinya dia juga mencintaimu, aku ini perempuan, jadi tidak mau menyakiti hati sesama perempuan, kamu sudah memutuskan untuk mengejarnya, jadi kejarlah.

Dan jangan menggodanya dengan sesuatu yang membuatnya merasa tidak pasti kepadamu, karena dia juga butuh kepastian, bukan hanya kamu.

Aku kira memang aku tidak berarti apa-apa buatmu, jadi aku sudah mengambil keputusan yang benar. Bukan karena aku cemburu, aku hanya tidak ingin menyakiti perasaan perempuan.

Aku pernah merasakan disakiti, jadi kukira tidak perlu perempuan itu merasa tersakiti juga. Jika dia tidak sekuat aku gimana? Ah, itu mengerikan, aku dengar perempuan kalau sakit hati bisa sampai bunuh diri. Dan aku tidak mau membunuh siapapun, walau secara tidak langsung sekalipun.

Dan kamu pun tak perlu mengkhawatirkanku, tapi apakah kamu mengkhawatirkanku? Kurasa tidak. Aku hanya ingin kamu tahu, aku baik-baik saja. Aku sudah pernah merasakannya, jauh lebih menyakitkan, jadi yang terjadi sekarang tidak ada apa-apanya.

Cinta selalu butuh kepastian, kamu membenci sesuatu yang tidak pasti, aku juga, makanya aku membiarkanmu mencari kepastian hatimu. Membantumu mencari kepastian hatimu.

Aku telah mencoba sesuatu yang seharusnya tidak perlu kucoba, tapi tidak perlu kusesali, setidaknya aku merasa lebih berani daripada kamu.

26 September 2017, ditulis Inet Bean saat sedang duduk.

Jumat, 22 September 2017

Intinya Saja

vemale.com

Pernahkah kamu seolah dipaksa menjadi peramal yang harus tahu apa saja maunya, tanpa dia katakan. Dan pernahkah, perbuatanmu serba salah dimatanya? Hanya dia yang seolah benar, hanya dia saja yang sibuk mengertimu, hanya dia saja yang berjuang.

Jika pernah, berarti kita senasib. Pernah dalam sehari dia tidak mengabariku, lalu untuk menunjukkan perhatianku, aku mengirim pesan dan menelponnya, tapi tidak ada balasan. Selang beberapa jam aku kembali menghubunginya.

Entah dia itu ke mana, apakah sedang amat sibuk dengan pekerjaannya atau apa. Paginya dia baru mengabariku, dan aku agak kesal karena dia baru mengabariku paginya. Memangnya semalam semenit saja tidak bisa menyempatkan untuk mengirim pesan padaku?

Dan alangkah terkejutnya aku, justru dia yang marah-marah padaku. Katanya aku seharusnya mengerti dia, katanya aku tidak perlu kesal padanya, katanya aku harus peka, katanya kalau dia tidak mengabari berarti sedang sibuk. Kenapa jadi aku yang jadi terdakwa sih?

Di lain waktu saat dia seharian tidak ada kabar, aku pun tidak menghubunginya sama sekali. Bukan karena aku marah padanya, tapi bukankah itu kemauannya? Paginya dia tidak mengabariku lagi.

Baru malamnya dia mengirim pesan padaku. Pesan yang menyebalkan. Dia menyalahkanku karena aku tidak menghubunginya. Damn!

Itu orang maunya apa sih? Kok kzl ya?

Jika kamu mengira dia itu perempuan, kamu salah. Dia seoarang laki-laki. Jadi, perempuan selalu benar itu bagiku mitos. Mitos tersebut sengaja dibesar-besarkan, justru agar terlihat bahwa laki-laki sesungguhnya yang selalu benar. Merekalah yang selalu tersiksa. Padahal sesungguhnya semua itu hanyalah relativitas.

Dan please. Siapapun kamu, laki-laki atau perempuan. Katakan intinya saja. Terlebih jika dia tidak peka. Pasanganmu bukan peramal. Tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu inginkan.

22 September 2017, Pekalongan kota spesial.

Jumat, 15 September 2017

Sejujurnya Aku Pecemburu

aceshowbis.

Saat kau bilang cinta, aku ingin hanya kepadaku saja kau katakan kata itu. Aku tidak suka jika kata cinta kau umbar begitu saja dengan perempuan lain, sekalipun itu sekadar becanda.

Bukan aku terlalu mengekang, kubiarkan kau becanda dengan perempuan manapun, tapi tidak perlu kau ucapkan dengan murah kata cinta, karena perempuan itu perasa, bagaimana jika dia pikir kau serius? Atau kau memang serius?

Saat kau bilang cinta, aku ingin kau membuktikannya dengan perilakumu, bukan sekadar berkata-kata saja, jika hanya berkata, banyak yang hanya bisa begitu. Lalu apa bedanya kau dengan laki-laki yang tidak serius itu?

Aku tidak memaksamu, tapi kau seharusnya sadar diri. Tidak perlu kukatakan, atau jika kau punya caramu sendiri, setidaknya katakan padaku bagaimana, biar aku yakin setidaknya, tidak perlu berlebihan. Aku selalu lebih suka yang sederhana. Entah, dengan bagaimana, terserah kau.

Saat kau bilang sayang, bisakah kau buktikan dengan setidaknya tidak membuatku berpikir negatif terhadapmu? Tidak perlu kau melaporkan tiap hari apa yang kau lakukan, jaga saja hatiku lewat apa-apa yang kau lakukan.

Apa aku berlebihan? Jika iya, kau tanyakan saja pada perempuan-perempuan. Bisa jadi mereka bahkan lebih menuntut dariku. Atau bahkan mereka akan kasihan padaku.

Saat kau bilang sayang, bisakah kau hanya bilang padaku saja? Tidak peduli itu bercanda, aku tidak suka kau bilang pada perempuan lain, karena sejujurnya aku pecemburu.

Aku tahu, cemburu hanya untuk orang-orang yang tidak yakin pada dirinya sendiri, tapi itulah yang terjadi, kadang aku tidak yakin pada diriku sendiri. Aku cemburu... aku cemburu... aku cemburu....

Jadi, siapkah kau begitu ketika memutuskan untuk bilang cinta padaku?

Seharusnya harus siap, bahkan semua pasangan memang harus menjaga hati pasangannya kan?

15 September 2017, ditulis Inet Bean saat sedang bingung mau nulis apa, di graha mahasiswa LPM Al-Mizan, ih kok aku kek aktivis ya sering nulis di sini?

Rabu, 13 September 2017

Dia yang Datang dan Berlalu Tanpa Pamit

http://www.animepjm.com

Kemarin aku melihatmu, pergi kondangan bersama perempuan, aku tidak tahu dia siapa kamu dan aku pun tidak mau tahu. Tapi kamu seakan menghindar untuk bertemu denganku, bertemu tatap saja seolah kamu takut.

Entah apa yang membuatmu seperti itu, kukira karena kamu dulu pernah meninggalkanku tanpa sepeser kata pun, hilang begitu saja, tertelan tempat, tertelan waktu, tertelan sikapmu.

Atau kamu merasa tidak enak hati, karena kamu datang bersama perempuan dan bertemu denganku? Hampir saja mata kita bertemu, namun kamu buru-buru mengalihkan tatapanmu, apakah kamu tidak berani menatapku? Kurasa itu wajar saja, kamu merasa bersalah bukan? Tapi kamu memanglah bersalah, dan pengecut.

Sebenarnya aku tidak mau kita seperti itu, aku ingin menyapamu, bersikap biasa saja, layaknya teman lama yang bertemu. Hanya sesederhana itu saja, tapi kamu bahkan minta maaf saja tidak berani, walau begitu, aku sudah memaafkanmu, karena aku pun berhak untuk bahagia.

Kamu pernah datang begitu saja setelah lama tak bersua, saat itu kita seru-seruan berchatting, juga kamu main ke rumahku, lalu tidak lama kamu mengajakku ke pasar malam. Di situ tiba-tiba kamu mengungkapkan perasaanmu.

Masih ingatkah? Mungkin kamu berusaha keras melupakannya, tapi aku tidak pernah lupa akan hal itu, dan bagiku tidak perlu kulupakan, untuk jaga-jaga, jika kamu datang, tak akan lagi aku tertipu.

Aku tidak menjawab perasaanmu saat itu juga, entah, walau dulu aku pernah menyukaimu, tapi kedekatan itu terlalu cepat bagiku. Dan selepas itu, kamu justru menghilang, tidak ada kabar lagi tentangmu.

Beberapa minggu kemudian aku melihatmu mengupload foto bersama perempuan, dan kalian saling berkomentar mesra, tambahkan teman-temanmu yang berkomentar menggoda. Dan aku jadi tahu, saat kamu mengungkapkan perasaanmu, sesungguhnya kamu sudah punya dia.

Mulai sekarang, jika kamu membaca ini, saat bertemu denganku, bersikaplah biasa saja. Karena aku pun menuliskan ini dengan biasa saja, tidak ada rasa marah dan kecewa beberapa tahun lalu. Rasa itu sudah menguap, habis. Hingga kering, dan tak ada lagi yang bisa kurasakan saat bertemu denganmu.


Terimakasih, sudah membuat hatiku semakin kuat.

13 September 2017, Ditulis Inet Bean ditengah keramaian muskam kampus Ijo.

Selasa, 31 Januari 2017

Jomblonesia

http://beritafox.blogspot.co.id/2014/04/tipe-jomblo-di-dunia-nyata.html
Bayangkan! Dalam dua hari ini, ada tiga orang yang menghina-dinaku atas nama status jombloku. Jangan-jangan mereka berkonspirasi agar aku menuliskan sesuatu tentang jomblo? Atau alam mengingatkan statusku yang jomblo agar tidak terlalu sering menonton film romance? Yang paling masuk akal adalah karena aku merasa tersindir. Sedikit.

Yang paling aneh, coba renungkan, yang aneh aku atau Emakku. Liburan ini saking bosennya Emak lihat aku tiap hari di rumah. Akhirnya dia bilang, “Kamu liburan nggak keluar? Misalnya sama pacar?”

“Enggak punya pacar,” jawabku.

“Ya cari lah”

“Cari di mana?”

“Di pesbuk, cari pacar sekarang mah gampang, kalo dulu susah.”

Di sini aku merasa waktu seketika berhenti. Beku. Nih Emak, anaknya duduk manis di rumah, malah disuruh pergi, ntar giliran mau pergi diprotes. Kadang menjadi anak itu sesulit ini. Mencoba patuh dan durhaka akan menjadi seperti berjalan di atas lapisan es di laut ketika musim semi akan tiba. Harus hati-hati melangkah, salah sedikit akan tenggelam.

Oke kembali ke jomblo. Secara harfiah, jomblo itu ya single, jadi gak usah merasa lebih keren deh dengan menyebut diri single. Pada hakikatnya sama aja, enggak punya pasangan.  Tapi kalau ngomongi soal jomblo, jadi ingat di suatu hari....

“Net kamu tuh dari lahir udah jomblo terus sekarang pun kok masih jomblo-jomblo aja sih?”

“Lihat sekeliling kita? Sejauh mata memandang sekolahan ini, sejenis dengan kita. Gimana bisa terjadi reaksi tarik menarik kalau semuanya bermuatan positif? Nih kalau diumpamakan batu baterai, jadi blunder, enggak bisa nyala kalau buat nyalain lampu.”

“Net, aku itu ngomongin jomblo, bukan batu baterai. Ingat, kita ini berada di jurusan IPS. Undang-undang di jurusan IPS, dilarang membuat ujaran yang bermuatan IPA!”

“Okey okey... maaf, terkadang otak Einsteinku keluar dengan begitu aja, masih liar, maklum lah, belum dijinakkan.”

“Sekali lagi kamu ngomong mengeluarkan ujaran bermuatan IPA....”

“Stop. Jadi begini, aku akan menjelaskan tentang jomblonesia dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bahwasanya kemerdekaan ialah hak segala jomblo. Melihat ketimpangan sosial yang terjadi di sekolah kita ini, tidak memungkinkan untuk dilakukannya mobilitas sosial yang menjurus kepada interaksi asmara. Melihat rakyat sekolah kita yang homogen. Lihatlah, kita terbentur oleh tembok yang melebihi tembok Berlin di China...”

“Jepang, Net!”

“China!”

“Jepang!”

“China!”

Okay, cukup flashbacknya. Pada akhirnya mereka asik berantem dan obrolan itu melupakan tujuan awalnya, yaitu jomblo. Obrolan itu mirip dengan dua hari ini yang menimpaku. Persamaannya kalo mereka bertengkar ngotot tembok Berlin ada di China atau Jepang, padahal kan mudah, Tembok Berlin ya ada di Berlin, iya kan? Dan kalo obrolan dua hari tentang jomblo, kita sama-sama jomblo dan sama-sama saling hina.

(Sebenernya persamaannya di mana Net?)

Sebenernya sih, aku juga ragu apa yang aku katakan. Piss.... ☺

Inet Bean
31 Januari 2017

Minggu, 01 Januari 2017

Happy New Year 2017

http://321happynewyear.com/happy-new-year-2017-greeting-cards-images-pictures-photos/

Hai, hai, hai pembaca Lemping Pena, happy new year... selamat tahun baru... selamat bulan baru dan yang paling penting selamat liburan. Ngomong-ngomong tentang liburan, tidak terhitung sudah berapa hari aku tidak posting di blog ini. Kalau boleh beralasan, itu karena banyaknya tugas-tugas kuliah yang menurut senior bisa menyebabkan efek samping ingin nikah.

Tapi kali ini aku bukan lagi mau bahas liburan, but tradisi tahun barunan. Buat aku pribadi sih tahun baru itu biasa aja, jangan bilang karena aku jomblo ya? Walaupun emang jomblo sih.

Di tahun baru ini, jika ada yang melewatkannya dengan menyalakan kembang api atau sekadar melihatnya, ada juga yang berkumpul dengan sanak saudara atau teman, ada pula yang memilih tahun barunan di alam mimpi. Aku malah menulis, yah menulis tulisan ini.

Aku terbangun pada jam sebelas dan tidak tahu kenapa rasanya jari-jariku merindukan bunyi tuts-tuts yang menurutku lebih merdu dari suara kembang api. Apakan ini yang dinamakan cinta?

Tulisan ini hanya sekadar ucapan selamat tahun baru sih, kepada blogku tercinta yang atas jasa-jasanya aku jadi banyak belajar darinya dan tentu saja ucapan tahun baru buat pembaca blog ini. Aku tidak akan memberikan harapan yang wow di tahun 2017 ini, tapi aku akan berusaha lebih menyempatkan waktu lagi untuk mengisi tulisan-tulisan di blog ini.

Kembali ke tradisi tahun baru, sebenarnya apa sih esensinya? Bukankah tahun baru masehi itu hanyalah pergantian angka akan perhitungan waktu menggunakan perputaran matahari sebagai titik referensi

Jadi, apa yang dirayakan? Apa yang membuat bahagia? Apa yang membuat harus ada sesuatu yang “spesial” untuk menyambutnya? Kita hanya menyambut waktu yang kebetulan terhitung awal perhitungan tahun saja. Jika tahun barunya besok atau minggu depan, tentu saja hari ini tidak menjadi spesial.

Tahun, bulan, hari, jam, menit, detik hanyalah penamaan perhitungan waktu yang semu. Ketika kita mencoba lebih ke dalam, maka ternyata semua itu hanyalah ilusi, kekosongan, kehampaan yang dingin.

Bukan berarti aku kontra terhadap tradisi tahun baru, hanya saja mungkin ini sekadar refleksi tahun baru ala Inet Bean, hewhewhew... benar-benar memuakkan, lebih asyik lihat kembang api sama pacar. Ya kan? Romantis dan menyenangkan, (Sebenernya bukan tradisi tahun barunya sih Net, tapi moment yang bisa dijadikan alasan untuk berduaan dan romantisnya) Eh, jangan-jangan esensi dari tradisi tahun baru itu?

Terlepas dari apapun itu esensinya, semoga dengan melejitnya Om Telolet Om di penghujung tahun 2016 ini, menyadarkan kita betapa sederhananya bahagia. Tidak perlu memaksakan diri untuk sekadar bahagia ya guys, karena bahagia itu yang membuat dirimu sendiri, ada di hati.

Kebahagiaan kita, kitalah yang menentukan, jadi jangan lupa bahagia... selamat tahun baru...

Inet Bean.
Pekalongan, 01 Januari 2017, 12:53.

Selasa, 22 November 2016

Saat Dosen Positif Tidak Masuk Kelas

https://plus.google.com/+muhammadrandiazmi/posts/5mwghgAKYiL
Oleh: Inet Bean

Saya hanya ingin menggambarkan saat dosen positif tidak masuk kelas. Hari ini saya ada kelas pagi, dan selalu saja walaupun saya tidak kesiangan, tapi saya selalu buru-buru saat berangkat. Teman saya bilang itu adalah semacam kutukan mahasiswa menjelang semester akhir.

Bahkan senior saya pernah bilang bahwa semester lima ibarat seseorang yang akan tenggelam. Megap-megap seperti ikan kekurangan oksigen. Entah maksudnya apa, mungkin perumpamaan itu dipengaruhi karena kampus kita terletak di pesisir.

Barangkali lima tahun ke depan saya sudah sukses dan akan merindukan saat-saat seperti ini, saat dosen tidak masuk kelas. Dan berterimakasih pada jari-jari yang telah menuliskan suasana tersebut.

Jadi apa yang dilakukan mahasiswa saat dosen positif tidak masuk kelas?

Mahasiswa aktivis akan segera cabut, minggu lalu teman saya bilang, “Syukurlah, bisa jaga stand.”
Dan bulan lalu saya sendiri yang mengatakan hal itu, gini-gini saya adalah aktivis kampus, walau kalau rapat jarang ikut. Mungkin lebih tepatnya, aktipis abal-abal, heuheu...

Mahasiswa selanjutnya adalah yang memanfaatkan kelas sebagai sarana berteduh. Aktivitasnya bermacam-macam, ada yang memenuhi tugas dosen, nonton drama korea, sampai sekadar untuk mengecek sosial media, dua tangan dengan dua hp.

Nah, ada pula mahasiswa agamis, dia menonton siaran dakwah ustadz Yusuf Mansur via You Tube, yang ini benar-benar kenyataan terjadi (emang yang lain gak benar-benar terjadi? Bukan begitu, kadang aku suka berlebihan)

Yang terakhir ya mahasiswa aneh yang mengamati suasana kelas saat dosen positif gak masuk, yaitu mahasiswa yang menuliskan tulisan ini. Heuheuheu...

Mungkin kalian akan berpikiran bahwa saya ini kurang kerjaan. Padahal tugas saya masih banyak, membuat RPP, Power Point, syuting menjadi pendongeng hingga tugas resume makalah satu semester.

Tapi entahlah, saya sedang ingin saja menuliskan hal ini. Bukankah mengerjakan keinginan adalah salah satu tanda seseorang menghargai hidupnya? Di awal pun saya sudah katakan bahwa saya hanya ingin...

NB: Gambar agak gak ada hubungannya dengan tulisan. Karena buru-buru mau masuk ke kelas selanjutnya.

Senin, 29 Agustus 2016

Penulis Baper? Aku atau Kamu juga?

Penulis Baper? Aku atau Kamu juga?

Sebenarnya aku hanya ingin menumpahkan apa yang kurasakan saja. Aku beri tahu, aku menulis ini, saat ini aku sedang di kantor sendirian. Jadi pas sekali momennya untuk menulis. Aku tidak berharap tulisan ini dibaca, tapi aku memang berniat hanya menuangkan perasaanku saja.

Hei siapapun kamu yang baca ini. Kamu tahu? bagaimana sebaiknya perasaan yang digunakan saat mau menulis? senang? sedih? kesal? atau galau?

Mungkin jika hanya untuk menulis sesuai yang dirasakan hati, akan sangat mudah jadinya. Tapi bagaimana jika kamu harus menulis sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan apa yang sedang dirasakan?

Tahu hakim kan? Seseorang yang bertugas menghakimi terdakwa di pengadilan. Nah, menghakimi dan menulis tidak jauh beda jika menyangkut perasaan yang dibutuhkan.

Seorang hakim ketika akan menghakimi, perasaannya tidak boleh sedang entah sangat bahagia, sangat sedih, apalagi sangat marah. Dengan kata lain, perasaannya netral, adem ayem, tentrem. 

Kenapa harus begitu? Karena hakim gak boleh BAPER saat menghakimi. Maka dari itu, hal tersebut untuk menghindari hakim baper ataupun sedia jaz hujan sebelum badai. Kan gak lucu juga andai hakim sedang sangat bahagia menghakimi, hukuman yang dijatuhkan ke terdakwa jadi lebih ringan. Begitu pula sebaliknya.

Oke, itu sekilas tentang hakim. Nah, bagaimana dengan penulis?

Penulis juga sama aturannya. Perasaannya saat menulis harus adem, ayem, tentrem. Karena jika tidak, akan seperti ini akibatnya. Tulisannya jadi baper.

Hei kakak2 yang baik, sebenarnya aku tuh sama sekali tidak bermaksud menunda-nunda deadline. Tapi lihatlah perasaanku? Sangat tidak menentu. Kadang pagi bahagia, siang sedih, sore sebel, malam kesel. Ah, udah kek bipolar aja.

Aku tahu tugasku banyak yang molor. Tugas di dunia kampus maupun dunia ODOP. Dan aku sadar akan hal itu. Makanya, aku hanya perlu sedikit waktu (baca: agak banyak) untuk merenung, membaca, dan kemudian menulis.

Oke kembali ke aturan perasaan menulis. Jadi intinya menulis itu harus dapat feelnya. Agar rasa itu ngalir di tulisan dan membuat rasa nyaman saat dibaca.

Cukup deh, aku mau pulang. Ini udah jam 03:59. Tadi kira-kira aku nulis dari jam setengah tiga, mohon maaf kalau ada tulisan yang tidak baku dan tidak aku Italic. Sampai jumpa...

29 Agustus 2016/ 04:02 PM

Jumat, 29 April 2016

Bukan Siapa Pun


Bagaimana aku menuliskannya ketika aku menulis, mereka justru menuduhku semakin jauh dari apa yang mereka kenal tentangku. Jika itu menyangkut diriku sendiri bukankah itu sudah menjadi hak privasiku? Namun kenapa mereka bertanya-tanya akan keputusanku? Jahatkah aku dengan perubahanku? Padahal aku tetap berfikir bagaimana cara untuk berfikir.

Membaca sudah menjadi kebutuhan hidupku. Sehari saja tidak membaca, aku merasa semakin kurus kering. Dan tidak berarti apa-apa. Karena hidupku tidak terlalu kaya, miskin pun tidak. Aku bahagia akan hidupku. Sederhana adalah posisi terbaik di dunia ini. Karena orang hebat hanya membutuhkan ruangan sunyi, bukan emas permata.

Dari itulah, aku tahu bagaimana yang benar dan salah. Masih dalam perspektif pendirianku. Kita dapat mencuri kebaikan dari buku-buku itu. Lalu menjadikan pelajaran bagi yang berseberangan. Membaca dan pegalaman, bukankah mereka adalah guru terbaik?

Jangan hanya membaca, lalu lepas dari aksara-aksara yang dirangkai itu. Ambilah cahaya darinya. Ya, aku telah menggabungkan pengalamanku dengan bacaanku. Hingga membuatku seperti sekarang ini, jilbabku lebih lebar. Aku menutup fisikku, namun tak menutup pikiranku.

Kenapa pandanganmu terlihat sinis? Apa yang kamu pikirkan tentangku? Anggaplah aku sepertimu, mungkin kau beralih gaya busanamu karena tren-tren masa kini. Sedangkan aku? aku lebih memilih beralih ke kesederhanaan, aku memakai apa yang membuatku nyaman. Bukan apa yang mereka inginkan. Jadi tidak ada hubungannya dengan aliran-aliran apa pun. Bukankah Dia tidak melihat apa yang kita pakai? Hanya Hati. Dan percayalah, hatiku belum tentu lebih bercahaya dari hatimu.

Aku ingat, seorang guru pernah berkata kepadaku sewaktu di Madrasah Aliyah Salafiyah, tepatnya pada siswi-siswinya. Di situ siswi memakai jilbab segi empat putih polos, berneci, dan tidak transparan, benar-benar sederhana.

“Jilbab seperti yang kalian pakai sudah bagus, sederhana dan menawan,” Ujar guru itu dengan senyum wibawa.

Kamu ingat kan? Aku hanya mengikuti apa yang dikatakan guru kita. Memakai apa yang kusebut rasa nyaman dan sederhana. Bukan karena dipengaruhi oleh siapapun. Tapi ini adalah hasil dari perenunganku melihat pengalaman dan tulisan-tulisan.

Namun aku tidak lantas menganggapmu aneh seperti sorot matamu padaku. Aku membuka lebar-lebar pikiranku tentang bagaimana para pemikir merenungkan perbedaan-perbedaan pendapat. Anggaplah itu sebuah kekayaan wawasan. Bukan suatu sekat-sekat yang mengikat.

Aku bukan sang pembawa emas dan gula-gula yang mencoba menawarkan kebahagiaan padamu. Bukan pula sang pembawa pedang dan belati yang melarangmu berbuat sesukamu. 

Aku bukanlah siapa-siapa. Hanya pengagum pikiran-pikiran Socrates, Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Ibnu Maskawih, Al-Ghazali, Muhammad Abduh, Nietzsche, Sigmund Freud, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu, hanya menuliskan nama-nama yang terlintas saat menuliskan tulisan ini.

Ketahuilah, mereka tidak akan membawamu pada kengerian. Karena Ilmu itu bagaikan cahaya dalam menunjukkan. Ingatkah ungkapan yang dulu kita temui pada mata pelajaran Balaghoh? Al-Ilmu Kannuuri Fil Hidayah.

Khikmah Al-Maula
29 April 2016

#OneDayOnePost

Rabu, 27 April 2016

Untukmu, Fika dan Aira


Hari ini tiba-tiba aku ingat Fika dan Aira. Mereka adalah teman seperjuanganku, teman angkatan 96ku, dan kini mereka telah meninggalkanku dari ODOP batch 2.  Tak pernah terbesit dalam fikiranku mereka akan keluar. Justru aku berpikir mereka pasti akan bertahan sampai akhir. Karena mereka terlihat semangat sekali. Kini aku merindukan keramaian grub yang ditimbulkan mereka.

Fika dan Aira. Mereka yang memulai dulu japri ke aku. Senang rasanya mereka langsung terasa akrab denganku. Pertama kali Fika membicarakan tentang tampilan grubnya, meminta saran padaku, padahal aku juga nihil pengetahuan tentang blog. Hingga semakin lama pertemanan kami semakin akrab. Pernah dia mengajak untuk membuat postingan dengan tema yang sama. Jadi, kita janjian untuk membuat puisi, ah Fika memang hebat dalam meramu puisi.

Tapi pada suatu pagi aku dikejutkan dengan keluarnya dia dari grub WA (WhatsApp). Ada apa dengan dia hingga memutuskan untuk keluar? Kenapa harus keluar? Kenapa sebelumnya tidak ada kabar? Dalam hati aku menyesalkan kepergiannya, ingin sekali memarahinya. Seenaknya saja keluar dari grub tanpa pamit, kalau pamit kan setidaknya aku bisa berusaha membuatnya berubah pikiran untuk tetap tinggal.

Lalu ku japri dia lewat WA, lama tak ada jawaban, aku PING BBMnya. Lumayan lama aku menunggu, Fika membalas via WA. Dan tahukah jawabannya? Masa’ katanya mau nyari angin sih? Gak ada jawaban yang lebih menyebalkan apa? Okelah, Fika itu emang sedikit misterius orangnya. Aku kulik-kulik juga pasti jatuhnya kita malah cengengesan. Fika mah gitu, katanya kalau sama aku gak bisa serius. Mungkin dia saking terpesonanya dengan keanggunanku. (Please, jangan tabok aku Fik…)

Kalau tentang Aira, ketika aku mengganti dp BBM dengan cover novel Gadis Jeruk, dia berkomentar, katanya dia juga udah baca tuh novel sekitar enam bulan yang lalu. Lalu kita bercatting ria tentang tentang novel itu. Dan ketika dia mengganti dp BBMnya dengan cover novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu, aku mengomentari juga punya novel itu. Ah, jadi dua novel itu yang membuat obrolan kita asik.

Hingga waktu terus bergulir, Aira tiba-tiba keluar juga dari grub. Aku merasakan kehilangan kembali, sama seperti saat Fika keluar. Kenapa mereka kompak sekali untuk keluar sih? Tega sekali mengurangi angkatan 96 di ODOP batch 2, kini angkatan 96 tidak sekuat dulu ketika mereka masih di grub. Sekarang angkatan emak-emak lah yang mendominasi. (Peace emak-emak…)

Setelah ku japri, Aira beralasan sesuai kesepakatan, setelah lima hari berturut-turut tidak posting berarti harus keluar dari grub. Aku sangat menyayangkan keputusannya. Aira bilang gak enak banget setelah keluar dari grub ODOP, galau katanya. Lalu kita saling menyemangati, tetap semangat menulis Aira...

Fika, Aira…., mungkin aku bisa merasakan apa yang kalian rasakan. Kesibukan yang melanda benar-benar tidak peduli pada kita, bahwa kita juga ingin menulis, terlepas dari kesibukan-kesibukan itu. Kalian hebat, mampu meluangkan waktu untuk menulis sejenak, terlepas dari kerangkeng mobilitas. Tetapi mereka semakin menghimpit waktu, hingga kita dibenturkan pada pilihan.

Aku tahu pilihan kalian sudah dipikirkan matang-matang. Menulis bisa dimana pun, maka tetap menulislah, hingga tulisan kita bertemu pada jodohnya…., dan kita tahu, bahwa jodoh pasti bertemu. Salam rindu dan kangen dariku, untuk kalian…

Khikmah Al-Maula
27 April 2016


#OneDayOnePost

Selasa, 26 April 2016

Apa Kata Nietzsche?


Lah Nietzsche aja gak kenal, ngapain juga dengerin kata Nietzsche? Dia siapa sih? Hayoh? Ada yang sudah tahu?

Bagi yang belum tahu, sekedar informasi, Nietzsche itu seorang filsuf dan sastrawan yang melegenda. Pemikirannya dikaji oleh para cendekia-cendekia. Kalau pengen tahu lebih banyak mending tanya sama google deh.

"Kalian sungguh menggelikan bagiku, wahai orang-orang masa kini! Terutama ketika kalian takjub pada diri kalian sendiri!" 

Itulah kata Nietzsche tentang fenomena-fenomena yang terjadi saat ini. Sangat pas dan menghentak sekali. Baru-baru ini dunia maya diramaikan dengan trend membuat meme, yang bertuliskan "dear mantan, maafkan aku yang dulu" disertai foto perbandingan antara dulu dan sekarang.

Jika dipandang dari psikologi. Itu adalah salah satu bentuk narsistik. Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narkissos (versi bahasa Latin: Narcissus), yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Tanpa sengaja ia menjulurkan tangannya, sehingga ia tenggelam dan tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis (en.wikipedia.com). Dan dalam istilah ilmiah disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD/Penyakit Kepribadian Narsisistik)

Nah, itulah sedikit sejarah narsis, yaitu perasaan cinta diri sendiri yang berlebihan. Kembali ke fenomena dear mantan, Mereka ingin eksistensi mereka diakui. Artinya mereka butuh perhatian, modus-modus yang tersirat dan tidak tersirat juga turut ada dalam individu-individu yang ikut trend itu. Seperti kata Nietzsche, mereka takjub pada diri sendiri.

Kita cari modus-modus yang mungkin ada. Pertama, sebagai afirmasi bahwa, "ini loh, aku yang sekarang lebih ganteng atau pun lebih cantik dari yang dulu, nyesel kan kamu pernah mutusin aku?" Jadi, besar kemungkinan mereka belum bisa move on dari masa lalu. Karena berusaha nunjukin bagaimana perubahannya, bahwa dirinya lebih baik dari yang dulu secara lahir. Entah secara psikis.

Kedua, dalam rangka mempromosiin diri. "Nih, aku sekarang keren. Kamu beruntung deh kalo jadi pacar aku sekarang." Jadi, mereka mempromosiin diri dengan memanfaatkan moment tersebut untuk mendapat perhatian. Walaupun mungkin dulunya gak punya pacar, tapi ngaku-ngaku aja punya pacar.

Ketiga, sekedar ikut-ikutan saja. Mereka yang ikut-ikutan saja cenderung jenis orang yang sekedar meramaikan trend tersebut. "Ini loh aku juga bisa buat meme gini, aku selalu up to date." Nah, mereka cenderung belum menemukan jati diri, sehingga dengan mudah ikut-ikutan saja, yang penting ngikutin trend masa kini.

Ada juga, yang memodivikasi hal tersebut dengan kekonyolan, sindiran, atau pun sesuatu yang menohok mereka yang membuat meme tersebut. Mereka ini golongan orang-orang kreatif yang tidak mau ikut-ikutan saja, tetapi berkarya yang berbeda.

Oke, sekian analisis dari otak kanan saya, apabila terdapat ketidaksinkronan dengan otak anda, itu semata-mata karena ketidakterlibatan otak kiri saya dalam pengerjaan tulisan ini. Dan segala hal yang menyangkut dengan imaginasi tidak dapat dipersalahkan. Maka dari itu tanpa penutup, saya akhiri tulisan ini.

Khikmah Al-Maula
26 April 2016

#OneDayOnePost

Rabu, 20 April 2016

Persepsi Cinta


 
ilustrasi by google image
Lihatlah dua burung merpati berwarna putih tengah berduaan. Mereka bersebelahan tanpa malu-malu. Ada pula dua burung merpati lainnya tengah terbang berkejaran menuju langit biru. Hari ini secara ajaib mereka berkumpul di taman bersama bunga-bunga musim semi.

Barangkali sekarang sedang musim kawin. Atau mereka sengaja menyindirku dengan kesendirianku duduk di bangku putih taman ini. Dua mawar merah darah memandangku sinis, aku tak tahu apa yang tengah mereka bisikkan. Tapi angin membawa alunan pesannya. Katanya aku seperti perenung yang kerap duduk di sini.

Di sebelahku persis, pohon apel menaungiku dalam keteduhan. Pohon apel satu-satunya di taman ini, tak ada apel yang menghiasi. Aku jadi ragu, masih pantaskah pohon apel disebut pohon apel ketika tidak pernah berbuah apel. Sepertinya pohon apel itu mandul, atau jangan-jangan karena kesendirian yang membuatnya memutuskan untuk tak berbuah.

Tiap inci dari taman ini tak luput dari pengamatanku. Tidak ada makhluk yang bernama manusia. Hanya para merpati yang sedang berduaan, bersenda gurau. Tawanya membuatku penasaran apa yang tengah mewarna di hatinya. Sedang aku hanya bisa menebak-nebak. Mungkinkah mereka bicara tentang cinta, pengorbanan, atau awan-awan masa lalu yang pernah mereka lampaui

Aku masih duduk sendiri, mengingat asa dan cinta yang pernah ditawarkan oleh sang filsuf. Hingga kini tak kumengerti perasaan macam apa yang sang filsuf tawarkan kepadaku. Hati yang membawaku pada kesepian . Untuk kesepian yang sebenarnya adalah tujuan kebersamaan.

Awan-awan itu membentuk mega mendung. Sekarang aku tak mengerti haruskah kubilang itu suatu tipuan mata? Jikalau fatamorgana belaka. Kenapa beberapa detik yang kesekian rinai terjatuh pelan di pipiku. Aku mencoba bertanya kepada hujan, dia tak menjawab. Sementara hujan semakin membasahi bunga-bunga musim semi.

Mendung itu perlahan menggelanyut di otakku. Tetes-tetesnya kini keluar melalui sudut mata. Namun tetesan itu lebur bersama hujan. Mereka tak pernah tahu aku juga punya hujan, karena hujanku telah menyatu dengan hujan alam semesta. 

Khikmah Al-Maula
20 April 2016

#OneDayOnePost

Jumat, 08 April 2016

5 Keunikan Warga ODOP batch 2


Begitu banyak fenomena-fenomena unik dan tidak biasa di dunia ini. Termasuk di desa ODOP batch 2. Beragam karakter kujumpai. Mulai dari yang emak-emak hingga para jomblo sejati. Mereka mempunyai karakter yang berbeda-beda dalam mengekspresikan ke-emak-emakan atau pun kejombloan.

Dari ragam keunikan yang ada. Maka inilah 5 keunikan warga ODOP batch 2 versi Lemping Pena corporation (apaan sih gaje). Oke, langsung saja cekidot..

Pertama, Warga terajin posting adalah Bang Gilang. Beri tepukan yang gemuruh pemirsah. Bang Gilang selalu pertama yang absen link. Tulisannya pun keren dan bisa bikin senyum-senyum sendiri. Kata Bang Gilang sih tiap baca tulisanku berasa baca tulisannya sendiri. Jangan-jangan kita… kembar? Gak mungkin deh, aku kan lebih muda. Atau kita kakak-adik yang terpisahkan? Tapi keknya gak memungkinkan deh atau kita… jodoh? Maksudnya jodoh jadi sahabat woy, jangan mikir yang macam-macam.

Benar-benar patut diberi jempol deh perjuangannya yang selalu absen pertama. Bagaimana tidak? Itu pasti perjuangan yang tidak mudah. Penuh dengan aral rintangan. Mungkin mata Bang Gilang selalu melirik jarum jam. Sebelum jam 12 tuh tulisan sudah rapi dan ketika alarm handphone berbunyi, jam weker mengeluarkan anak ayam. Refleks jari Bang Gilang memposting tulisannya.

Kalau aku jam 12 sih kalau gak masih ngerjain tugas, palingan udah bobok cantik. Tapi Bang Gilang dengan pengorbanannya masih menahan matanya agar tetap terjaga sebelum posting di blog. Angkat topi untukmu aku Bang. Benar-benar berat perjuanganmu. Pernah aku ceritanya pengen absen link yang pertama gitu. Setelah berjuang untuk jam 12 teng posting. Ternyata aku masih saja didahului, haha. Keknya aku gak bakat absen link yang pertama. Jadi, teruskan perjuanganmu Bang, Ayunda mendukungmu dari belakang. Merdeka!!!

Kedua, Warga terajin Blog Walking (BW) adalah Emak Lisa. Oke, beri tepukan yang gemuruh juga untuk Emak Lisa. Jadi, tiap aku BW, pasti tuh Emak Lisa udah komentar duluan dan itu seringnya yang pertama. Betapa hebatnya Bu Guru ODOP batch 2 yang satu ini. Di grup WA pun selalu stand by. tapi Emak Lisa ini tidak hanya rajin BW, dia juga rajin posting, seringnya dia absen link yang kedua setelah Bang Gilang. Tulisannya pun gak kalah keren, mendidik dengan cara yang segar.

Salut deh buat Emak Lisa. Kalau aku sih belum bisa tiap hari BW ke semua warga ODOP. Aku BW tuh disela-sela waktu luang aja. Gak bisa sekalian BW dalam satu waktu. Karena lagi-lagi kesibukan yang kerap melandaku. Sok sibuk banget deh, haha. Tapi aku sebisa mungkin untuk BW tiap hari. Karena BW itu menyenangkan. Aku bisa dapat inspirasi pula dari hasil kegiatan itu. Buat Emak Lisa, aku juga angkat topi buatmu. Salut pokoknya.

Fakta unik selanjutnya. Warga terkonsisten genre tulisan adalah Bang Frian, atau aku memanggilnya Bang Ian, mintanya dipanggil gitu. Konon katanya banyak yang bilang bahwa dia mirip dengan Zafran yang ada di film 5 cm atau Herjunot Ali. Bang Ian ini konsisten menuliskan tentang IT (Information Technology). Kerap memberikan tips-tips dalam mengubah atau membuat tampilan blog jadi keren. Bahkan dia menjadi tempat konsultasi warga ODOP batch 2 tiap menemukan ada masalah dalam blognya, termasuk aku.

Waktu aku mewawancarainya sih dia bilang sengaja hanya mau membahas seputar IT di blognya. Alasannya biar mbah google tidak bingung menentukan blognya itu spesies blog apa. Gak kek blogku yang gak jelas blog spesies apa. Aku mah belum bisa konsisten menulis satu jenis genre saja. Bang Ian bahkan katanya pengen jadi melebihi sang pionir Facebook, yaitu Mark Zuckerberg. Kita do’akan mudah-mudahan cita-citanya terkabul, kan bangga juga Indonesia punya anak muda yang cerdas dalam bidang IT.

Nah, selanjutnya. Warga tereligius terutama dalam tulisannya adalah Mba Miftahul Rohmah. Tulisannya selalu bernafaskan Islami. Membuat hati ini tercerahkan tiap baca postingannya. Keknya cocok deh dipanggil ustadzah Mifta. Udah cantik, sholehah, terus juga pinter karena sudah menamatkan di Poltekkes dan kini melanjutkan kuliah di Ungaran. Nah, cocok tuh dijadikan istri. Eh ko’ aku malah mempromosikan Mba Mifta sih. Maafkan aku mba…, hehe.

Dan yang membuatku senang adalah, mba Mifta juga berasal dari Pekalongan. Jadi bisalah kapan-kapan kita kopdar ya mba Mifta. Salut deh buat Mba Mifta yang tiap posting pasti menyebarkan tentang pengetahuan Islami. Lanjutkan perjuanganmu Mba!

Terakhir. Warga terabsurd dalam menulis adalah Khikmah Al-Maula alias Inet alias Ayunda alias Dinda. Nah loh, banyak bangetkan namaku? Dari nama aja absurd gitu. Aku sendiri bingung kenapa nama panggilanku banyak sekali. Jangan-jangan sebenarnya namaku adalah Aruna Chandra Kirana? Hayoh? Mau apa kamu?

Lagian PD banget sih memasukkan diri ke daftar unik. Sebenarnya aku ini hanya pelengkap saja lah biar jumlahnya 5. Tapi keknya aku tuh beneran absurd deh. Pernah Bang Gilang melontarkan pertanyaan yang tak kusangka-sangka keluar dari chattingan BBM. Katanya kalau aku dan Bang Gilang nikah anaknya bakal seabsurd apa? Haha, itu kan pertanyaan absurd banget.

Oke, cukup sekian ya, maaf belum bisa menulis satu persatu tentang warga-warga ODOP batch 2, dikarenakan kalau semua dibahas bakalan jadi buku. Dan semua memiliki ciri khas tersendiri kok, hanya karena keterbatasanku dalam mengamati sementara itu dulu yang dibahas. Barangkali akan ada keunikan-keunikan lain yang muncul kepermukaan. Nantikan Keunikan selanjutnya, Yeaa salam  ODOP!! Menulis setiap hari!

Khikmah Al-Maula
8 April 2016

#OneDayOnePost

  

Senin, 04 April 2016

Aku Mau Jadi Koruptor


Sudah ke sana-ke mari aku mencari kerjaan. Tapi tak kunjung menemukan. aku seorang sarjana pendidikan yang gak punya kerjaan alias nganggur. Alhasil setiap hari  hanya bengong saja sambil sesekali ikut meramaikan permainan para pengangguran. Kartu remi, tanpa uang tentunya.

Suatu hari saat aku sedang main kartu remi tetiba temanku menghampiriku. Dia juga tak jauh beda nasibnya denganku. Betapa kejam negeri ini pada seorang pemuda sepertiku.

“Ayo ikut aku San…” ucap Opick yang tiba-tiba sudah dibelakangku sambil setengah menyeret lenganku.
“Eh, mau kemana?” tanyaku penasaran.
“Ayolah ikut saja,” ujarnya.

Terpaksa aku mengikutinya. Kita berjalan melewati pasar. Kemudian masuk ke gedung tua. Sebenarnya aku mau diapakan si Opick pake masuk ke gedung tua yang bangunannya benar-benar sudah rusak di sana-sini.

***

“Hai semua, kenalkan, ini Bang Sandi, dia seorang sarjana pendidikan yang akan mengajar kalian,” Opik bicara dengan tenangnya, sementara aku masih kebingungan. Yang kulihat para anak jalanan, mereka kucel dan terlihat sangar. Usianya bervariatif kuperkirakan, mungkin kebanyakan usia SMP dan SMA. Jumlahnya lumayan banyak.

“Eh, maksudnya apa ini Pick?” aku berbisik.
“Udah, ikutin saja,” jawabnya berbisik pula.

“Bang Sandi akan menjelaskan apa itu pendidikan pada kalian,” ujar Opick.
“Emang pendidikan itu apa Bang?” salah satu dari mereka nyeletuk.
“Iya, apa itu pendidikan?” Mereka bersahut-sahutan bertanya.
“Oke, Jadi pendidikan itu adalah Suatu proses yang amat fundamentalis bagi keberlangsungan hidup,” Kulihat mereka terbengong.

Opick berbisik lagi, “Heh, pake bahasa yang mudah mereka pahami.”
“Oke anak-anak, jadi pendidikan itu amat sangat penting bagi kita semua,” jelas Opick.
“Memangnya mencopet butuh pendidikan?” Anak yang paling kecil bertanya.
Terang saja aku kaget dengan pertanyaannya, “Heh Pick, dia copet?” bisikku.
“Iya mereka copet,” jawabnya. Aku antara kaget tidak kaget sebenarnya.
.
“Oke, Jadi mencopetpun ada ilmunya, mencopet orang yang tidak berpendidikan akan sedikit hasilnya dibandingkan dengan mencopet orang yang berpendidikan,” terangku dengan gaya aneh, aku di situ pun rasanya menjadi kikuk.
“Ya, seperti para koruptor,” ucap Opick dengan polos.
“eh, ko’ jadi koruptor sih Pick?”tanyaku sambil menyikut tangannya.

“Wah hebat dong koruptor,” Anak berbaju hitam yang kulitnya tak kalah hitam menanggapi.
“Iya kalau gitu aku mau berpendidikan biar jadi koruptor, Hidup koruptor!!” Anak kecil yang tadi bertanya tentang pendidikan menimpali.
“Hidup koruptor!!!” Kontan semua yang ada di gedung ber-korr.

Aku hanya bisa salah tingkah dengan hati miris sekaligus tergelitik.
***
Sementara di tempat lain.

“Bagaimana Operasi Tangkap Tangannya Pak? Apakah mereka memang sudah terbukti melakukan suap?” tanya seorang wartawati cantik.
“Ya, kami sudah menangkap ada tiga oknum, bukti-bukti sudah kami kantongi. Tinggal pendalaman kasus saja,” jawabku dengan intonasi suara berwibawa.

“Bagaimana dengan kabar tentang uang USD 8000 Pak?” ujar wartawan lain.
“Kami menyitanya, namun masih dalam proses penyelidikan apakah itu adalah uang suap atau bukan.”

“Pasal apa yang akan dijeratkan Pak”
“Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP, Oke saya permisi dulu semua,” ucapku sambil melenggang pergi meninggalkan wartawan yang masih saja mengejarku.
***

Cerita pertama sebenarnya terinspirasi dari Film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Dan film itu benar-benar membuatku tertabok dengan jalan ceritanya. Sederhana namun begitu mampu membuat hati miris dengan apa yang terjadi pada negeri ini. Bahkan di akhir ceritanya membuatku terharu.

Karena tantangan ODOP minggu ini tentang membahas berita yang lagi booming, maka hal itu aku sandingkan dengan berita yang emang lagi anget. Sehangat kotoran burung yang jatuh mengenai kepala, haha iti sih pengalamanku waktu kecil. Jadi waktu itu aku sedang bermain kejar-kejaran, eh ada anget-anget menimpa rambutku, dan ternyata itulah pokoknya.

Oke kembali ke topik. Tentang pendidikan. Adakah yang salah pada pendidikan di Indonesia? Hingga mereka yang berpendidikan justru berbuat nista. Mencuri uang rakyat. Dengan kedudukan yang telah dicapainya berkat rakyat?

Mereka berpenampilan necis dengan gaya hidup hedonis. Jam tangan ratusan juta, mobil milyaran. Padahal satu bulan gajinya hanya sekitar kurang lebih 36 juta? Lalu ternyata itu adalah uang rakyat. Kemudian ketika di jalan dicopet. Nah barangkali itu yang namanya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Anak-anak yang hidupnya di jalanan. Hanya sebatang kara. Sejatinya mereka adalah tanggung jawab Negara. Namun kenyatannya uang mereka justru habis sebelum sampai pada mereka. Hingga anak-anak itu tak punya pilihan selain mencari uang sendiri. Dengan cara baik sampai pada yang tidak baik.

Jadi, semua ini salah siapa?

Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
(Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia)

Khikmah Al-Maula
4 April 2016


#OneDayOnePost