Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 September 2017

Dialog Inet dan Bean

Boredpanda
“Jauh lebih mudah bagi laki-laki sepertimu untuk memilih hidup bagaimana, daripada aku yang terlahir sebagai perempuan.”

“Kamu terlalu banyak berpikir”

“Karena perempuan makhluk pemikir”

“Perempuan makhluk perasa”

“Boleh aku bertanya?”

“Dan perempuan makhluk penanya”

“Jawab saja pertanyaanku”

“Pemaksa”

“Selalu banyak yang dipertimbangkan oleh perempuan. Aku sendiri bahkan merasa muak saat aku terlalu menjadi makhluk yang penimbang, pemikir, atau apapun itu. Mereka otomatis bekerja tanpa kusuruh.”

“Jadi apa pertanyaanmu?”

“Dapatkah aku menjadi laki-laki saja?”

“Dan kamu akan menyukai perempuan?”

“Aku tetap akan menyukai laki-laki”

“Dan adakah laki-laki yang menyukai laki-laki?”

“Ada”

“Homo?”

“Kamu menyukaiku bukan?”

“Iya, kamu yang sebagai perempuan. Aku mencintaimu dengan segala kerumitanmu, jika kamu rumit, akan kusederhanakan. Jika kamu ingin bebas, maka kamu memang harus bebas, terbanglah, jangan hanya di sangkar emasmu.”

“.....”

Nb: Inet (Perempuan), Bean (Laki-laki)


21 September 2017, Pekalongan yang hobi pawai.

Selasa, 12 September 2017

Bukan untukku, begitu pula bukan untuk Mereka

http://lifestyle.liputan6.com/read/2428669/unik-danau-danau-alami-ini-berbentuk-menyerupai-hati

Seperti daun yang pasrah dilarung air, menuju sungai, danau, laut, samudra, entah terbawa ke mana, aku tidak peduli, bahkan ke empang tempat engkong nongkrong di pagi hari pun, aku tidak peduli. Nyatanya hidup tak selalu berbau wangi, kadang-kadang bau busuk akan datang dengan atau tanpa ijin.

Aku berpikir, hidupku seharusnya memang lebih menyenangkan sekarang, aku selalu ingin hidup sepeti danau yang tenang, dalam, dan jernih. Setidaknya di mataku sendiri, begitulah diriku.

Tapi bukan soal perjalanan hidupku yang akan kubicarakan, melainkan tentang perasaanku yang seperti badut di acara ulang tahun ponakanku, atau di acara sunatan adik temanmu jika pernah kau lihat.

Lucu bukan? Badut-badut itu berusaha melucu dengan kesadaran penuh. Ah, bukankah itu adalah kerjaanya? Meski dari rumah dilepas dengan makian istri karena utang dan uang. Badut-badut tetap melucu, tidak peduli pada hati terdalamnya yang tengah berkecamuk.

Seperti itulah perasaanku. Perasaanku yang lucu. Lucu karena berusaha agar terlihat lucu. Jika tak kau pahami, marilah kita pahami bersama di paragraf selanjutnya, tapi aku tidak janji kau akan mendapatkan jawabannya. Karena aku lucu.

Ketika aku melihatnya sepintas, kurasa tidak ada yang spesial dari dia, seperti aku melihat wanita pada umumnya. Tapi suatu keadaan membuatku lebih dekat dengannya, dia tidak seperti wanita pada umumnya, tidak mainstream, lebih mendekati aneh sih.

“Aku sebal,” katanya.

“Kenapa?” kutanya.

“Gapapa, hehe.” Jawabnya, tapi sedetik kemudian cerita aja apa yang membuatnya sebal. Dan akhirnya meluncur pula kalimat ini pada ucapannnya, “Aku sebal, tapi ketiduran tadi.”

“Aneh, haha.”

“Ngantuk soalnya.”

Ah itulah, dia sukanya jadi manusia seutuhnya, walau sedang sebal sekalipun. Biasanya mah wanita kalau lagi sebal uring-uringan gak jelas. Ah, aku kan jadi suka, hehehe.

Iya, kurasa aku menyukainya, tapi untuk beberapa sebab, aku tidak ingin dia menyukaiku, dan aku juga tidak ingin siapapun disukainya. Egois? Ah itu kan urusanku, kalau dia mau suka aku atau orang lain, itu urusannya.

Sebab aku menginginkan hal itu? Besok atau lusa saja kutuliskan alasannya, sebab kopiku hampir dingin, tidak mungkin kubiarkan kopi mendingin, aku harus menyelamatannya agar tetap hangat di tubuhku

12 September 2017, ditulis Inet Bean saat sedang sebal.

Minggu, 13 Agustus 2017

Kadang Dunia Ini Memang Sialan

satugoresanpena.blogspot.com

Kadang dunia ini memang sialan. Di antara berjuta gadis kenapa harus kamu yang kucintai? Aku mengutuk sepenuh hatiku. Aku membenci sekaligus menikmati perasaan ini. Perlu kamu tahu, kamu adalah cinta pertamaku. Dan sialnya kamu sudah punya suami. Jika cupid atau dewa amor itu benar-benar ada, kenapa dia membuatku cinta pada perempuan yang sudah bersuami? Tidakkah itu hanya konspirasi jahat untuk menghancurkan hati?

Kenapa pula kamu muncul di depan mataku? Siapa yang menyuruhmu datang membawakan makanan untukku? Bukankah kamu bisa menolak ketika di suruh Ibuku untuk itu? Atau jangan-jangan kamu ini memang perempuan genit yang pandai menghancurkan hati lelaki. Aku tidak ingin berkata seperti itu, tapi separuh hatiku seakan mengiyakan, separuh lagi berkata cinta tidak pilih pandang. Begitu saja muncul, seperti kamu begitu saja muncul di depan mataku.

Di saat sepi, tanpa bisa kukendalikan, senyummu muncul begitu saja lantas menghilang ditelan kepahitan. Bayangan-bayangan kebahagiaan lalu muncul lagi, seakan aku bisa memelukmu, lalu menciummu dengan begitu halus, sehalus makhluk halus yang tak terlihat, iya kamu memang tidak terlihat lagi sekarang. Ah!

Aku bukanlah tipe perebut istri orang, tapi jika kamu memberikan kode seolah kamu memperbolehkan aku mendekatimu, apalagi di saat aku dimabuk cinta. Apa yang bisa kuperbuat? Aku rela memberikan apa-apa yang kamu inginkan, bahkan keperjakaanku saja aku rela berikan untukmu, asal kamu balas cintaku.

Nasibku ini seperti Rahwana yang mencintai Shinta. Jika kamu tahu, tidak ada cinta semenakjupkan cintanya Rahwana. Rama? Cintanya hanya seujung kuku cintanya Rahwana pada Shinta.

“Bagaimana dengan cintamu?” Tanyamu di suatu senja yang hujan.

“Cintaku padamu?”

“Iya.”

“Mungkin aku ini reinkarnasinya Rahwana, yang hanya bisa mencintai satu perempuan saja dalam hidupnya.”

“Menurutmu apa sejarah akan terulang?”

“Itu tergantung kamu.”

“Jadi kamu akan menculikku?”

“Tidak.”

“Kalau begitu itu tergantung kamu.”

“Tapi kalau kamu mau diculik, aku mau.”

Dan kamu hanya tertawa kecil, manis sekali. Boleh aku cicipi?

***
“Katakan apa yang kamu lakukan pada Istriku?” Desis suamimu padaku.

Aku belum menceritakan kenapa tiba-tiba suamimu menculikku. Ini lucu sekali. Aku menculikmu lalu suamimu menculikku. Saat itu aku sedang di kantorku, tiba-tiba suamimu yang polisi itu mencidukku bersama dua temannya. Aku di bawa ke ruang interogasi. Jika kamu melihat, lucu sekali wajahnya, merah dan melihatku dengan tatapan seakan jijik kepadaku.

Dan aku? Aku benar-benar bersikap biasa saja, semestinya aku biasanya, cool.

“Heh jawab brengsek!” Bentaknya.

“Dia sudah kembali padamu kan? Tanyakan ke dia.”

“Jawab bajingan!”

“Memangnya kenapa? Kamu akan jijik pada istrimu kalau sudah kuapa-apakan?”

“Sialan!!!”

Dia memukuliku bersama teman-temannya. Sampai aku hampir mati. Entah apa yang terjadi, aku siuman sudah di ruang rumah sakit. Orangtuaku bilang aku sudah seminggu koma. Bersamaan dengan aku sadar, aku hanya mengingatmu. Bagaimana keadaanmu? Apakah dia memukulimu? Seharusnya aku tidak mengatakan semua itu pada suamimu.

Sebelum aku pingsan. Dia sempat memaksaku berbicara akan pertanyaannya. Aku jelaskan. Bahwa dia pecinta yang gagal. Aku yakin kamu sudah menjelaskan apa yang kita lakukan. Duduk mengobrol tentang betapa kamu mencintai suamimu, meskipun dia begitu. Kamu hanya mencari romantis dariku. Tapi hatimu untuknya. Kamu hanya sedikit lelah dengannya, kamu ingin sejenak mengenang bagaimana perlakuan manisnya dulu padamu. Tapi seseorang yang sudah dimakan api cemburu seperti suamimu mana mau percaya begitu saja.


Aku bilang, bahwa dia adalah pecinta yang gagal. Dia hanya siap memiliki tanpa siap kehilangan. Seseorang yang siap memiliki harusnya siap kehilangan dulu. Dengan begitu, dia tidak akan menyia-nyiakan cinta. 

Inet Bean, 13-08-2017

Senin, 31 Juli 2017

Shopie Agape Razaq

http://www.yeoner.com/p/68146.html

Namaku Shopie Agape Razaq. Nama itu bukan nama sembarangan, kedua orang tuaku telah berkhalwat di kamar mereka selama setengah jam untuk akhirnya memutuskan nama tersebut. Sambil sesekali aku memengaruhi pikiran mereka dengan cara menangis saat nama yang cukup aneh terpikirkan untuk diberikan kepadaku.

Mereka sempat berpikir untuk menamaiku Plati. Diambil dari nama Plato, filsuf besar yang berasal dari Yunani. Mereka berpikir kalau akhiran i itu untuk nama perempuan. Dalam bahasa arab, anti yang berarti kamu untuk perempuan, dan dalam nama-nama pewayangan, huruf i pun biasa untuk nama anak perempuan, seperti Drupadi yang diambil dari nama ayahnya, Drupada, Madri yang berayah Madra.

Ah, itulah pikiran ngawur Ayahku. Untungnya Mama tidak menyetujuinya.  Mama kemudian mengusulkan untuk menamaiku Shopie, dan aku setuju dengan cara menyungingkan senyumku. Shopie itu artikan saja Filsafat. Mereka penggemar berat filsafat. Tetapi aku justru tidak terlalu suka. Memusingkan.

Sambungan namaku selanjutnya adalah Agape, kita artikan saja Cinta. Katanya aku ini melambangkan cinta mereka yang suci, dan Razaq itu nama Ayahku, biar keren aja kek orang-orang.

Itulah sedikit sejarah namaku. Tentang aku sendiri, kini aku sedang menyuruh sahabatku untuk menuliskan ini, masalahnya biar aku tidak lupa bagaimana caraku pertama kali bertemu dengannya. Aduh aku malu mengatakannya. Bertemu dia. Dia itu seorang cowo yang menggemaskan.

Baiklah, waktu itu sedang MOS SMA. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sebab aku telah mempersiapkan segalanya dengan sangat teliti, bahkan aku sampai di sekolah bertepatan Pak Satpam membuka gerbang, aku yang pertama, yes. Tapi cowo yang kumaksud bukan Pak Satpam ya?

Aku berjalan masuk setelah basa-basi menyapa Pak Satpam, tidak lama aku berjalan ada yang menyuruhku berenti. Kukira aku yang pertama, ternyata bukan. Ah!

“Stop!!!” katanya. Di depanku ada cowo, kira-kira lima meter jarakku dengannya, dia berpakaian dengan gaya sepertiku, gaya peserta MOS.

Aku melihatnya, dengan tatapan tanda tanya.

“Kamu hanya boleh menginjak warna merah.”

“Kenapa?”

“Sudah tradisi.”

“Tradisi?”

“Iya, cepatlah, lewati dengan hanya menginjak warna merah.”

Aspal itu diwarnai selang-seling. Merah di pinggir kanan, lalu dibaris selanjutnya di tengah, dan dibaris selanjutnya di pinggir kiri, dan selanjutnya tidak beraturan. Benar-benar merepotkan, tradisi macam apa itu?

Aku berjalan dengan hati-hati agar hanya menginjak warna merah dan menjaga keseimbangan tubuhku. Mirip permainan waktu kecil, jika didaerahku namanya jengklean. Panjang aspal yang diwarnai warna-warni itu sekitar empat meter.

“Hahaha, selamat...”
“Selamat apa?”

“Ternyata kamu bisa menari juga, Shopie.”

“Menari?”

“Ya, tadi aku mengajarimu menari.”

“Katamu tradisi?”

“Menari tradisi bukan?”

“Iya sih.”

“Yasudah.”
“Omong-omong namamu bagus, Shopie Agape Razaq.” Katanya, sambil tertawa kecil dan meninggalkanku termangu merasa dikibuli. Sial! Aku melihat peserta MOS lain mulai bermunculan, dan berjalan biasa saja melewati aspal berwarna-warni.

Sampai di sini dulu ya ceritanya, sahabatku yang menuliskan ini sudah ngantuk katannya. Perlu kuperkenalkan namanya tidak? Tapi dia bilang takut terkenal, jadi lain kali saja. Ini episode pertemuan pertama. Cieee haha... ohya, dia tahu namaku karena membaca name tage yang segede laptop. Sial! Dia tidak memakai name tage sepertiku. Aku jadi tidak tahu siapa dia.


NB: Terinspirasi dari gaya menulis Ayah Pidi Baiq, karena baru tiga hari yang lalu baca novelnya, dan terinspirasi dari Mr. Jostein Gaarder. Aduh, aku bingung tugasnya, jadi begini aja deh. Oke yah? 

#TugasFiksi6

Minggu, 23 Juli 2017

Bahasa-Bahasa Perempuan

https://decaires.wordpress.com/2011/07/03/perempuan-itu/

Malam adalah kamu. Malam yang dengan bulan, tapi bukan bulan biasa, yang lebih dari tujuh puluh tahun muncul sekali, sebab kamu muncul sekali setelah bumi merubah energi mulia menjadi kamu. Kamu yang dari air, dari binatang, lalu kamu.

Seperti saat bulan menjelma menjadi matahari pukul tujuh belas, kamu bertanya tentang sebab-musababnya, lalu kujawab dia hanya ingin melihatmu lebih dekat, sebab malam itu serupa malam seribu bulan. Tapi itu bukan yang kutuju, maka aku mengafirmasi. Bahwa dirimu serupa bulan yang menjelma matahari pukul tujuh belas, yang berwarna biru, yang diteman rasi bintang sqorpio.

“Tapi kenapa?” tanyamu.

Itu adalah bahasamu, bukan seperti bahasa-bahasa perempuan biasa. Sebab mereka terbiasa menonton sinetron dengan alur sangat manis tapi pahit, membaca novel romance tapi bohong, membeli karcis bioskop pada malam minggu yang fana. Kamu selalu tidak peduli pada asas feminisme, kemanja-manjaan, atau pada lipstik merah, bedak tahan air, alis sempurna, pipi yang seperti babi baru lahir.

Tentu saja, sejak Ayahmu berperan sebagai pedofil, hidupmu serupa boneka pemuas kemaluan pria, “tetapi bahkan dia tidak punya malu?” katamu. Aku tergelak. Mungkin kamu mau bilang ini adalah ironi yang tragis sekaligus bengis. Disebut apakah kemaluan jika malu telah dibakar habis oleh kebanalan?

Dia tidak punya malu, bahkan arwah-arwah takut padanya. Bagaimana mungkin rasa takut ada dalam ujung hidungnya? Kamu pernah meminjam buku yang berjudul Hari-hari Terakhir Socrates, lalu berpusing kedalamnya. Lalu selepas itu bahasamu lebih tidak seperti bahasa-bahasa perempuan biasa. Kamu berceloteh tentang kesucian. Pada akhirnya meluncur dari bibir mungilmu.

“Apa aku masih suci?” Bertanya pada bayang-bayangmu yang hitam, mengikuti tiap inci tubuhmu.

            Bahkan kamu lebih suci dari orang-orang yang mengaku suci, dari orang berkostum agama yang mengkomersilkannya, dari orang yang kehilangan imajinasinya. Sesuci cahaya embun pada bougenvil saat dramatis kita bertemu. Kamu tidak takut padaku. Tidak terlintas di benakmu bahwa mungkin saja kamu lepas dari lubang buaya satu dan terjerembab di lubang komodo. Aku baru saja kehilangan istri dan anak-anakku

            Aku bercerita padamu bahwa bagiku kehilangan istri tidak membuatku bersedih, justru ada hawa kelegaan yang mengalir dalam lubang di hatiku. Dua anakku turut menjadi korban kebengisan. Aku menemukan mereka saat aku pulang dari luar kota untuk membeli keperluan tokoku, istriku sudah kaku dalam keadaan telanjang, kedua anakku yang berusia tujuh dan dua tahun mati ketakutan, mata mereka menonjol hampir keluar. Mendadak darahku membeku, dan aku tidak mengingat apapun kecuali saat aku terbangun, aku sudah berada di rumah sakit.

            Sesaat setelah sadar, kutatap langit-langit rumah sakit yang putih, lalu tiba-tiba hawa kehilangan menggerayangi tubuhku. Setetes butiran bening jatuh begitu saja dari sudut mataku. Ingatanku kembali saat perjumpaan awal kita yang tidak romantis, yang membawa luka dari lingkaran nasib yang bengis.

            Di jembatan perbatasan antara kotamu dan kotaku, yang kini telah bertransformasi lebih modern dan berkelas. Kamu berdiri di salah satu sisi jembatan, memandang laut lepas. Ada kebekuan waktu yang membuatku sejenak melupakan masalahku. Masih kuingat dengan jelas kamu mengenakan dress berwarna gading dengan cardigan merah.

            Tiba-tiba kamu terisak. Dan seketika itu aku menyimpulkan, di sini kita mempunyai tujuan yang sama. Mengasingkan diri dari nasib yang tidak berpihak pada kita. Rasanya saat kau terisak ingin aku mendekat padamu, tapi itu tidak akan membuatmu lebih tenang, aku pernah membaca artikel bahwa dengan menangis bisa membuat hati menjadi lebih lega, walaupun tidak mengatasi masalah. Setidaknya kamu mempunyai kepuasan akan luapan dari emosimu.

#Tantangankelasfiksi4

Minggu, 16 Juli 2017

Tataplah

Image: Getty

Aku ingin menatapmu
Aku ingin kau tatap
Kekasih, tataplah aku, tataplah aku
Aku merindukan mata itu,
Mata yang membawaku ke seluruh alam semesta,
Membawaku larut ke dalam jiwa yang satu.

Sepuluh tahun bukan waktu yang lama untuk dapat melupakan mata itu. Bukan karena tidak ada lagi di dunia ini mata seindah mata itu. Berulang kali Zoey, sahabat terbaikku memerlihatkan foto-foto mata laki-laki untuk membuatku setidaknya berenti menyeritakan matamu. Kebiasaan ganjil yang Zoey lakukan sejak SMA dan terlanjur mendarah daging hingga sekarang. Kemarin dia bilang sudah memfoto mata orang tepat yang ke tiga juta.

Berawal dari niat baik untuk menolongku, Zoey malah mendapat “hobi” yang tidak lazim. Maksudku, mana ada orang selain Zoey yang hobi mengoleksi foto mata orang. Pigmen kornea mata yang didapat Zoey tentu sudah bermacam-macam, hitam, coklat, biru, hijau, ungu, dan sekarang dia sedang memburu pigmen mata yang berbeda, seseorang yang memiliki dua pigmen mata, entah aku lupa namanya.

Bahkan kemarin dia diundang di salah satu stasiun tv nasional, sejak dia kenal dengan instagram, dia selalu meng-upload foto-fotonya, instagramnya hanya berisi foto mata dari orang berbagai belahan dunia. Hanya karena itu, Zoey mendapat followers yang mengesankan, hampir seratus juta follower. Tentu saja followernya dari berbagai belahan dunia. Dia bekerja sebagai seorang wartawati internasional.

Ah, kenapa aku jadi cerita tentang Zoey banyak sekali. Tetapi setidaknya itu berawal dari kau, semua itu karena kau, jutaan mata yang didapat  Zoey, berawal dari tatapan matamu.

Zoey penasaran sekali ingin melihat dan tentu saja memfoto matamu. Dan, dia juga ingin berterimakasih padamu, ini lucu sekali. Karena dulu bahkan dia ingin aku melupakanmu, memarahimu meski kau tidak pernah dikenalnya. Zoey bahkan akan ke sini jika sekarang aku memberitahunya bahwa kau ada di sini, di depanku. Dia penasaran sekali, kenapa selama sepuluh tahun dia mencarikan mata untukku, tidak ada yang bisa membuatku berpaling dari matamu.

Ah, lagi-lagi aku banyak bicara tentang Zoey, seharusnya aku menceritakan tentangku, tapi apa yang harus kuceritakan? Aku rasa cerita tadi sudah cukup menjelaskan tentang aku selama kau pergi, atau sebaiknya aku cerita tentang masa kecil kita? Kau ingat, Ethan?

Dulu kita sering memermainkan permainan ini, saling tatap dan kau selalu kalah, lalu kita tertawa. Tapi buat apa aku ceritakan masa kecil kita? Bukankah itu kisah kita? Lalu buat apa aku ceritakan?

Ethan? Kenapa kau diam saja? baiklah, sekarang aku yang diam, giliran kau yang cerita Ethan.

Ethan?

Yasmin, bukankah dengan menatapku sejak tadi, kau sudah tahu apa saja yang terjadi denganku selama sepuluh tahun ini?

Inet Bean
16 Juli 2017

Selasa, 07 Maret 2017

Lelaki Kitab Kuning

http://www.andikafm.com/news/detail/8248/1

Senja itu adalah senja yang melelahkan. Dengan jalanan yang berdebu, bunga-bunga yang menguncup, dan deru motor yang bergegas meninggalkan kampus. Sementara itu, aku masih bergelut dengan beberapa teman demi tugas yang tak kunjung selesai.

Untuk sesaat aku tak melihat adanya sesuatu yang istimewa. Hanya lelaki yang rapi dan wangi. Yang aku tunggu darinya adalah  dia membacakan kitab kuning yang tidak berharokat, atau sebut saja arab gundul.

Setengah gila aku mencari-cari syarah kitab itu di internet, tetapi hasilnya nihil. Lelaki yang kini duduk tepat di hadapanku adalah satu-satunya harapanku, maksudku kami. Dia adalah senior di pesantren temanku, merangkap seniorku di kampus.

Kini dia mulai membaca kitab tanpa harokat yang berkertas kuning itu. Perkalimah, dengan kehati-hatian yang penuh, memadu-padankan dengan kaidah nahwu shorof, mentasrifkan kalimah demi kalimah.

Aku mengharokati sesuai dengan apa yang dibacakannya, saat dia agak kesulitan membaca, aku mengamatinya, pura-pura ikut merasakan kesulitannya. Dia bergumam tentang La nahi, mabni, masdar, sandaran per kalimah. Dan aku hanya memandangnya dengan pandangan berusaha mengerti apa yang digumamkannya.

Sedikit terbersit rasa kagum terhadapnya, bagiku orang yang pintar bukan hanya mereka yang pandai berhitung atau hafal rumus fisika dan kimia. Lelaki di hadapanku ini, aku mengakui kecerdasannya dalam ranah nahwu shorof. Meskipun dia selalu bersikap merendah.

Senja digeser oleh peraduan bulan. Terdengar lamat-lamat adzan maghrib. Kami pun bergegas ke mushola kampus. Di sana belum ada yang adzan. Sekali lagi aku dibuat terkagum hingga meleleh mendengan suara adzannya. Merdu, jernih, dan menyentuh. Rasanya ingin menangis.

Setelah dia adzan karena tidak ada yang adzan, dia melanjutkan dengan bersholawat. Masih dengan suara yang merdu, jernih, dan menyentuh. Beberapa menit kemudian, dia menjadi imam. Bacaannya begitu tartil dan jernih. Aku ingin menangis.

Ah Tuhan, jika Kau mau berbaik hati padaku. Aku ingin satu lelaki yang seperti dia. Halus perangainya, cerdas otaknya, dan merdu suaranya. Wajahnya yang teduh seolah menyempurnakan sosoknya.

Aku ingin berjumpa lagi, untuk sekadar bercakap-cakap. Tapi bagaimana caranya?

Jadi, kuserahkan segalanya pada-Mu, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

7 Maret 2017

Senin, 06 Februari 2017

Tempat Makan "Ngikut Aja"

Menurut nasehat lama, kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Nasehat lama itu benar sekali (gaya-gaya Tere Liye).

Liburan semester udah berakhir, hari ini awal masuk kuliah. Ah tak terasa, meskipun liburanku terkejawantahkan dalam bentuk pengangguran yang sukses.

Setiap liburan, seperti anak kuliahan pada umumnya, aku dan teman-teman merencanakan sebuah misi, yaitu berkunjung ke tempat yang sedang hits, untuk membuang sisa-sisa tekanan tugas yang sering mendera selama perkuliahan serta meremajakan wajah sebelum terlihat kerutan sebelum waktunya.

Akhirnya kami merapatkan di rumah salah satu di antara kami. Sambil menikmati soto dan minuman yang kami pesan.

“Eh, liburan yuk?” seru seorang teman dengan antusias, wajahnya berbinar seterang lampu neon lima watt.

“Yuk kemana nih?” aku menanggapi. Di susul yang lain dengan pertanyaan yang sama.

“Ke Kembang Langit, tempat yang sedang hits itu....”

“Setuju-setuju....” kami berkoor.

“Terus setelah itu ke Dieng yuk?”

“Iya, tapi kapan nih?”

“Setelah input KRS aja gimana?”

“Oke”

“Oke deal.”

Input KRS pun berlalu. Dan aku tidak sabar mau liburan, rasanya udah bener-bener butuh oksigen yang murni. Yang belum terjamah oleh tangan-tangan knalpot. Di facebook kami rame menagih janji kami, sayangnya semua mendadak jadi penagih janji, tanpa ada yang menepati.

“Gimana? Katanya mau liburan?”

“Iya, udah input nih, ayuk liburan....”

“Jadi nggak nih?”

Dan berakhir seperti itu sampai Kembang Langit berubah jadi Kembang Tanah. Begitulah kami, nggak ada yang mau menggalah jadi pemimpin, ya namanya juga wanita, lebih berbakat dipimpin daripada memimpin.

Tapi gapapa, bukankah kegagalan adalah awal dari keberhasilan? Nasehat lama itu benar sekali (Bang Tere muncul lagi), menjelang dua hari sebelum aktif kuliah, ada teman yang berulang tahun. Setelah mengejutkannya dengan kue, kami akhirnya bisa keluar dari rumah dalam rangka makan-makan gratis (Giliran gratisan pada bisa!)

“Mau makan di mana nih?” tanyaku.

“Terserah kalian, aku ngikut aja deh.” seru yang berulang tahun.

“Gimana?” tanyaku kepada yang lain.

“Aku ngikut aja.”

“Aku juga ngikut aja.”

“Iya aku juga ngikut aja deh.”

“Oke, begitu aja sampe tempat makan bernama “Ngikut Aja” ada yang buat!” Aku menggerutu.

“Emang ada tempat makan Ngikut Aja?”

“Ada, nanti aku yang punya.” Jawabku dengan senyum manis.

Inet Bean
6 Februari 2017

Kamis, 02 Februari 2017

Saat Ikrar Terucap

Saat Ikrar Terucap

Saat ikrar terucap, serupa perjalanan panjang dengan kepayahan dan keajaiban dalam mencapai puncak gunung. Semesta selalu membuka pintu-pintunya, membantu dengan segala keagungannya. Sungai, lumut, pepohonan, adalah petunjuk-petunjuk alami yang tak mampu berdusta. Sebentuk tekad dan jerih payah, adalah jalan terjal menuju surga di seberang.

Ketika terlihat peluh di keningmu, membuatku merasa gentar, angin keraguan berhembus pelan, mengsangsikan kemampuanku. Aku bertanya pada udara kosong, bagaimana jika nantinya hanya bermuara pada kegagalan, pada kekecewaan, pada penghianatan. Bagaimana jika hanya ucapan semu yang berikrar, bagaimana jika dan bagaimana jika.

Kau tersenyum. Bagaimana bisa kau tersenyum saat berpeluh? Aku yakin itu bukan sebuah senyum paksaan, bukan pula senyum penghianatan. Lalu apa yang membuat senyum mekar di wajahmu? Sedetik kemudian aku menangkap bayangan keceriaan di bola matamu. Orang-orang yang begitu saja melakukan apapun tanpa pamrih. Kini tanganmu menempel di dada. Hati nurani, bisikmu.

Bicarlah lagi, meski dengan berbisik akan kudengar. Aku begitu membutuhkan. Orang-orang selalu bilang motivasi itu penting. Memperbarui semangat selalu berhasil. Dan bagaimana aku bisa mendapatkannya?

Kau hanya tersenyum, menepuk pelan dadamu, berkali-kali. Jika kau bisa berbisik, kenapa lebih menyukai bahasa isyarat itu? Membuatku harus berpikir keras dan menirukan gerakan-gerakanmu, persis sama. Berulang-ulang, dalam keheningan.

Semakin lama, aku kepayahan. Hampir saja aku menyerah mengulang-ulang gerakan yang sama. Sementara itu peluh mulai bermunculan. Aku gemetar. Tak ada bisikan lagi darimu. Aku masih menunggu. Sebentar lagi tubuhku akan ambruk.

Tiba-tiba aku mendengar suara, bukan darimu, entah darimana. Suara itu semakin jelas kudengar, berulang-ulang. Aku ketakutan. Dan kau tampak tersenyum lebih indah dari awal. Peluhmu hilang, dan ternyata begitu juga dengan peluhku. Suara itu, suara itu semakin membuat tubuhku kembali tegak. Rasa lelah seketika lenyap bersama peluh-peluh yang menguap.

Begitulah aku tahu apa yang harus kulakukan. Tak ada lagi pertanyaan bagaimana jika, yang ada sekarang adalah kenapa tidak? Kenapa tidak? Kenapa tidak?

Kau masih dengan senyummu. Aku perlahan berjalan mundur, kau semakin kecil kemudian tak terlihat saat aku bergegas meninggalkan kamar. Ah ada sesuatu yang tertinggal. Aku kembali ke kamar, lalu tersenyum melihatmu.

“Kau pasti bisa,” bisikmu.

“Bercerminmu sudah lebih dari satu jam, bercermin lagi?” kata Ibu.

Inet Bean
2 Januari 2017

Minggu, 29 Januari 2017

ADA DI SANA (Menjadi Terbodoh)

https://inadwiana.wordpress.com/page/8/

Tidak ada tempat yang paling strategis untuk bersembunyi selain di cabang pohon kersen setinggi enam meter. Dalam keadaan biasa, Ia bisa menghabiskan buah berwarna merah merona itu seperti gemintang yang dilahab gugusan awan mendung. ‘Bersembunyi, kenapa aku harus bersembunyi dari keluargaku sendiri?’ ucap batinnya, lalu tertawa yang lebih terdengar seperti menyeringai.

Di titik ini, adalah suatu kematian bagi dirinya sekaligus kelahiran yang baru. Sambil menengadahkan wajahnya ke langit, ia bertekad, tidak ada yang bisa menghalanginya, dalam desahan yang panjang, ada janji yang terpahat.

“Udah kuduga kamu di sini, turun woy... dicari Zombi tuh, orangtua seluruh negeri ini juga nyari kamu!”

Bagas malas menanggapi, ia menyesali satu hal. Satu-satunya yang tahu tempat persembunyiannya adalah Danis, sepupu yang merangkap jadi sahabatnya.

“Aku gak mau ketemu Zombi lagi!” teriak Bagas.

“Biar gimana pun dia orangtuamu.”

“Zombi gak akan bisa jadi orangtua!”

“Tapi dia bukan Zombi beneran.”

“Bahkan Zombi beneran gak sekejam dia.”

“Terserah lah!”

Hening. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Danis terduduk di bawah pohon kersen, mata Bagas melirik ke bawah. Sementara itu bulan mulai menggeser matahari. Seperti tergesernya ego mereka kemudian.

“Aku....” ucap mereka bersamaan.

“Kamu dulu aja,” kejar Bagas.

“Kamu aja, Gas.”

Bagas turun, duduk beralaskan daun-daun kering di sebelah Danis. Ia mendesah pelan, “Maaf,” ucapnya, “Ada berita apa aja?”

Danis meninju pelan lengan Bagas, tersenyum, “Aku juga minta maaf, rencana kita berhasil, nilaimu nol, benar-benar sempurna menjadi terbodoh. Lucu sekali, anak tercerdas mendapat nilai nol di Tes Ilmuan dan semua benar-benar belomba bodoh-bodohan.” Mereka tertawa. “Jadi rencana selanjutnya?”

Bagas membayangkan, pasti sekarang Zombi sedang kalang kabut mencarinya. Zombi adalah panggilan dari dia untuk ayahnya, tentu saja itu ia lakukan di belakang ayahnya. Dia memberi gelar Zombi karena menurut Bagas, sikap ayahnya seperti Zombi, semua ekspresi dipukul rata di wajahnya. Dan alasan paling utama, ayahnya tidak berperasaan, memaksa anak didiknya menjadi zombi intelektual. Ayah Bagas adalah Presiden Tes Ilmuan Negeri dan menjabat sebagai kepala sekolah terbaik di Negeri ini.

“Kita harus pastikan nggak ada yang masuk dalam Tes itu, semuanya benar-benar bernilai bodoh. Kita harus beritahu orang tua anak-anak cerdas yang lulus seleksi dari tahun-tahun yang lalu. Mereka nggak tahu nasib anaknya gimana, mereka hanya bangga bahwa anaknya masuk Tes Ilmuan, tanpa tahu anak-anaknya dijadikan kelinci percobaan.”

“Kita manfaatkan kemarahan massa pada pemerintah? Caranya?”

“Harus ada bukti.”
***
“Hei... jangan pesimis gitu dong, biar gimana pun kamu kan jadi siswa yang mendapat nilai terbanyak di Tes Ilmuan...”

“Gimana nggak pesimis, kalau aku nantinya bakalan mati? Lagian apa yang mau dibanggakan dari mendapat nilai terbaik, diantara semua yang sengaja berusaha mendapat nilai buruk. Lebih parah lagi itu dari seluruh Negri.” Gagas mendesah, perempuan mungil yang biasanya lincah itu kini tak ubahnya kain kucel yang teronggok tak berdaya.

“Aku hanya mau hibur kamu....” Sisi menunduk. “Maaf ya, kalau saja aku ngasih tahu lebih awal....”

“Udahlah, Si...” Gagas menyunggingkan senyum. “Si... benar nggak sih semua itu? Jadi aku bakalan jadi kelinci percobaan untuk ambisi membuat manusia hidup abadi?”

“Pasti ada jalan keluar Gas, aku bakalan bantu kamu sampai titik darah penghabisan!” Sisi berorasi layaknya pahlawan kemerdekaan.

“Lebay.” Gagas menerbangkan bantal ke wajah Sisi. Dan perang bantal pun tak terelakkan.

Malam sudah terlalu malam. Mereka memejamkan mata tanpa tertidur. Menebak-nebak sesuatu yang akan terjadi ketika Gagas pergi memenuhi undangan awal dari Presiden Tes Ilmuan Negeri.


Sementara itu Presiden Tes Ilmuan Negeri memarahi semua staf, dari 29 provinsi, hanya ada satu nilai tertinggi. Itu sangat mengecewakan jika dibandingan dengan tahun-tahun sebelumnya yang tiap provinsi ada satu yang terpilih.

Inet Bean
29 Januari 2017