Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 September 2017

Dialog Inet dan Bean

Boredpanda
“Jauh lebih mudah bagi laki-laki sepertimu untuk memilih hidup bagaimana, daripada aku yang terlahir sebagai perempuan.”

“Kamu terlalu banyak berpikir”

“Karena perempuan makhluk pemikir”

“Perempuan makhluk perasa”

“Boleh aku bertanya?”

“Dan perempuan makhluk penanya”

“Jawab saja pertanyaanku”

“Pemaksa”

“Selalu banyak yang dipertimbangkan oleh perempuan. Aku sendiri bahkan merasa muak saat aku terlalu menjadi makhluk yang penimbang, pemikir, atau apapun itu. Mereka otomatis bekerja tanpa kusuruh.”

“Jadi apa pertanyaanmu?”

“Dapatkah aku menjadi laki-laki saja?”

“Dan kamu akan menyukai perempuan?”

“Aku tetap akan menyukai laki-laki”

“Dan adakah laki-laki yang menyukai laki-laki?”

“Ada”

“Homo?”

“Kamu menyukaiku bukan?”

“Iya, kamu yang sebagai perempuan. Aku mencintaimu dengan segala kerumitanmu, jika kamu rumit, akan kusederhanakan. Jika kamu ingin bebas, maka kamu memang harus bebas, terbanglah, jangan hanya di sangkar emasmu.”

“.....”

Nb: Inet (Perempuan), Bean (Laki-laki)


21 September 2017, Pekalongan yang hobi pawai.

Selasa, 12 September 2017

Bukan untukku, begitu pula bukan untuk Mereka

http://lifestyle.liputan6.com/read/2428669/unik-danau-danau-alami-ini-berbentuk-menyerupai-hati

Seperti daun yang pasrah dilarung air, menuju sungai, danau, laut, samudra, entah terbawa ke mana, aku tidak peduli, bahkan ke empang tempat engkong nongkrong di pagi hari pun, aku tidak peduli. Nyatanya hidup tak selalu berbau wangi, kadang-kadang bau busuk akan datang dengan atau tanpa ijin.

Aku berpikir, hidupku seharusnya memang lebih menyenangkan sekarang, aku selalu ingin hidup sepeti danau yang tenang, dalam, dan jernih. Setidaknya di mataku sendiri, begitulah diriku.

Tapi bukan soal perjalanan hidupku yang akan kubicarakan, melainkan tentang perasaanku yang seperti badut di acara ulang tahun ponakanku, atau di acara sunatan adik temanmu jika pernah kau lihat.

Lucu bukan? Badut-badut itu berusaha melucu dengan kesadaran penuh. Ah, bukankah itu adalah kerjaanya? Meski dari rumah dilepas dengan makian istri karena utang dan uang. Badut-badut tetap melucu, tidak peduli pada hati terdalamnya yang tengah berkecamuk.

Seperti itulah perasaanku. Perasaanku yang lucu. Lucu karena berusaha agar terlihat lucu. Jika tak kau pahami, marilah kita pahami bersama di paragraf selanjutnya, tapi aku tidak janji kau akan mendapatkan jawabannya. Karena aku lucu.

Ketika aku melihatnya sepintas, kurasa tidak ada yang spesial dari dia, seperti aku melihat wanita pada umumnya. Tapi suatu keadaan membuatku lebih dekat dengannya, dia tidak seperti wanita pada umumnya, tidak mainstream, lebih mendekati aneh sih.

“Aku sebal,” katanya.

“Kenapa?” kutanya.

“Gapapa, hehe.” Jawabnya, tapi sedetik kemudian cerita aja apa yang membuatnya sebal. Dan akhirnya meluncur pula kalimat ini pada ucapannnya, “Aku sebal, tapi ketiduran tadi.”

“Aneh, haha.”

“Ngantuk soalnya.”

Ah itulah, dia sukanya jadi manusia seutuhnya, walau sedang sebal sekalipun. Biasanya mah wanita kalau lagi sebal uring-uringan gak jelas. Ah, aku kan jadi suka, hehehe.

Iya, kurasa aku menyukainya, tapi untuk beberapa sebab, aku tidak ingin dia menyukaiku, dan aku juga tidak ingin siapapun disukainya. Egois? Ah itu kan urusanku, kalau dia mau suka aku atau orang lain, itu urusannya.

Sebab aku menginginkan hal itu? Besok atau lusa saja kutuliskan alasannya, sebab kopiku hampir dingin, tidak mungkin kubiarkan kopi mendingin, aku harus menyelamatannya agar tetap hangat di tubuhku

12 September 2017, ditulis Inet Bean saat sedang sebal.

Minggu, 13 Agustus 2017

Kadang Dunia Ini Memang Sialan

satugoresanpena.blogspot.com

Kadang dunia ini memang sialan. Di antara berjuta gadis kenapa harus kamu yang kucintai? Aku mengutuk sepenuh hatiku. Aku membenci sekaligus menikmati perasaan ini. Perlu kamu tahu, kamu adalah cinta pertamaku. Dan sialnya kamu sudah punya suami. Jika cupid atau dewa amor itu benar-benar ada, kenapa dia membuatku cinta pada perempuan yang sudah bersuami? Tidakkah itu hanya konspirasi jahat untuk menghancurkan hati?

Kenapa pula kamu muncul di depan mataku? Siapa yang menyuruhmu datang membawakan makanan untukku? Bukankah kamu bisa menolak ketika di suruh Ibuku untuk itu? Atau jangan-jangan kamu ini memang perempuan genit yang pandai menghancurkan hati lelaki. Aku tidak ingin berkata seperti itu, tapi separuh hatiku seakan mengiyakan, separuh lagi berkata cinta tidak pilih pandang. Begitu saja muncul, seperti kamu begitu saja muncul di depan mataku.

Di saat sepi, tanpa bisa kukendalikan, senyummu muncul begitu saja lantas menghilang ditelan kepahitan. Bayangan-bayangan kebahagiaan lalu muncul lagi, seakan aku bisa memelukmu, lalu menciummu dengan begitu halus, sehalus makhluk halus yang tak terlihat, iya kamu memang tidak terlihat lagi sekarang. Ah!

Aku bukanlah tipe perebut istri orang, tapi jika kamu memberikan kode seolah kamu memperbolehkan aku mendekatimu, apalagi di saat aku dimabuk cinta. Apa yang bisa kuperbuat? Aku rela memberikan apa-apa yang kamu inginkan, bahkan keperjakaanku saja aku rela berikan untukmu, asal kamu balas cintaku.

Nasibku ini seperti Rahwana yang mencintai Shinta. Jika kamu tahu, tidak ada cinta semenakjupkan cintanya Rahwana. Rama? Cintanya hanya seujung kuku cintanya Rahwana pada Shinta.

“Bagaimana dengan cintamu?” Tanyamu di suatu senja yang hujan.

“Cintaku padamu?”

“Iya.”

“Mungkin aku ini reinkarnasinya Rahwana, yang hanya bisa mencintai satu perempuan saja dalam hidupnya.”

“Menurutmu apa sejarah akan terulang?”

“Itu tergantung kamu.”

“Jadi kamu akan menculikku?”

“Tidak.”

“Kalau begitu itu tergantung kamu.”

“Tapi kalau kamu mau diculik, aku mau.”

Dan kamu hanya tertawa kecil, manis sekali. Boleh aku cicipi?

***
“Katakan apa yang kamu lakukan pada Istriku?” Desis suamimu padaku.

Aku belum menceritakan kenapa tiba-tiba suamimu menculikku. Ini lucu sekali. Aku menculikmu lalu suamimu menculikku. Saat itu aku sedang di kantorku, tiba-tiba suamimu yang polisi itu mencidukku bersama dua temannya. Aku di bawa ke ruang interogasi. Jika kamu melihat, lucu sekali wajahnya, merah dan melihatku dengan tatapan seakan jijik kepadaku.

Dan aku? Aku benar-benar bersikap biasa saja, semestinya aku biasanya, cool.

“Heh jawab brengsek!” Bentaknya.

“Dia sudah kembali padamu kan? Tanyakan ke dia.”

“Jawab bajingan!”

“Memangnya kenapa? Kamu akan jijik pada istrimu kalau sudah kuapa-apakan?”

“Sialan!!!”

Dia memukuliku bersama teman-temannya. Sampai aku hampir mati. Entah apa yang terjadi, aku siuman sudah di ruang rumah sakit. Orangtuaku bilang aku sudah seminggu koma. Bersamaan dengan aku sadar, aku hanya mengingatmu. Bagaimana keadaanmu? Apakah dia memukulimu? Seharusnya aku tidak mengatakan semua itu pada suamimu.

Sebelum aku pingsan. Dia sempat memaksaku berbicara akan pertanyaannya. Aku jelaskan. Bahwa dia pecinta yang gagal. Aku yakin kamu sudah menjelaskan apa yang kita lakukan. Duduk mengobrol tentang betapa kamu mencintai suamimu, meskipun dia begitu. Kamu hanya mencari romantis dariku. Tapi hatimu untuknya. Kamu hanya sedikit lelah dengannya, kamu ingin sejenak mengenang bagaimana perlakuan manisnya dulu padamu. Tapi seseorang yang sudah dimakan api cemburu seperti suamimu mana mau percaya begitu saja.


Aku bilang, bahwa dia adalah pecinta yang gagal. Dia hanya siap memiliki tanpa siap kehilangan. Seseorang yang siap memiliki harusnya siap kehilangan dulu. Dengan begitu, dia tidak akan menyia-nyiakan cinta. 

Inet Bean, 13-08-2017

Senin, 31 Juli 2017

Shopie Agape Razaq

http://www.yeoner.com/p/68146.html

Namaku Shopie Agape Razaq. Nama itu bukan nama sembarangan, kedua orang tuaku telah berkhalwat di kamar mereka selama setengah jam untuk akhirnya memutuskan nama tersebut. Sambil sesekali aku memengaruhi pikiran mereka dengan cara menangis saat nama yang cukup aneh terpikirkan untuk diberikan kepadaku.

Mereka sempat berpikir untuk menamaiku Plati. Diambil dari nama Plato, filsuf besar yang berasal dari Yunani. Mereka berpikir kalau akhiran i itu untuk nama perempuan. Dalam bahasa arab, anti yang berarti kamu untuk perempuan, dan dalam nama-nama pewayangan, huruf i pun biasa untuk nama anak perempuan, seperti Drupadi yang diambil dari nama ayahnya, Drupada, Madri yang berayah Madra.

Ah, itulah pikiran ngawur Ayahku. Untungnya Mama tidak menyetujuinya.  Mama kemudian mengusulkan untuk menamaiku Shopie, dan aku setuju dengan cara menyungingkan senyumku. Shopie itu artikan saja Filsafat. Mereka penggemar berat filsafat. Tetapi aku justru tidak terlalu suka. Memusingkan.

Sambungan namaku selanjutnya adalah Agape, kita artikan saja Cinta. Katanya aku ini melambangkan cinta mereka yang suci, dan Razaq itu nama Ayahku, biar keren aja kek orang-orang.

Itulah sedikit sejarah namaku. Tentang aku sendiri, kini aku sedang menyuruh sahabatku untuk menuliskan ini, masalahnya biar aku tidak lupa bagaimana caraku pertama kali bertemu dengannya. Aduh aku malu mengatakannya. Bertemu dia. Dia itu seorang cowo yang menggemaskan.

Baiklah, waktu itu sedang MOS SMA. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sebab aku telah mempersiapkan segalanya dengan sangat teliti, bahkan aku sampai di sekolah bertepatan Pak Satpam membuka gerbang, aku yang pertama, yes. Tapi cowo yang kumaksud bukan Pak Satpam ya?

Aku berjalan masuk setelah basa-basi menyapa Pak Satpam, tidak lama aku berjalan ada yang menyuruhku berenti. Kukira aku yang pertama, ternyata bukan. Ah!

“Stop!!!” katanya. Di depanku ada cowo, kira-kira lima meter jarakku dengannya, dia berpakaian dengan gaya sepertiku, gaya peserta MOS.

Aku melihatnya, dengan tatapan tanda tanya.

“Kamu hanya boleh menginjak warna merah.”

“Kenapa?”

“Sudah tradisi.”

“Tradisi?”

“Iya, cepatlah, lewati dengan hanya menginjak warna merah.”

Aspal itu diwarnai selang-seling. Merah di pinggir kanan, lalu dibaris selanjutnya di tengah, dan dibaris selanjutnya di pinggir kiri, dan selanjutnya tidak beraturan. Benar-benar merepotkan, tradisi macam apa itu?

Aku berjalan dengan hati-hati agar hanya menginjak warna merah dan menjaga keseimbangan tubuhku. Mirip permainan waktu kecil, jika didaerahku namanya jengklean. Panjang aspal yang diwarnai warna-warni itu sekitar empat meter.

“Hahaha, selamat...”
“Selamat apa?”

“Ternyata kamu bisa menari juga, Shopie.”

“Menari?”

“Ya, tadi aku mengajarimu menari.”

“Katamu tradisi?”

“Menari tradisi bukan?”

“Iya sih.”

“Yasudah.”
“Omong-omong namamu bagus, Shopie Agape Razaq.” Katanya, sambil tertawa kecil dan meninggalkanku termangu merasa dikibuli. Sial! Aku melihat peserta MOS lain mulai bermunculan, dan berjalan biasa saja melewati aspal berwarna-warni.

Sampai di sini dulu ya ceritanya, sahabatku yang menuliskan ini sudah ngantuk katannya. Perlu kuperkenalkan namanya tidak? Tapi dia bilang takut terkenal, jadi lain kali saja. Ini episode pertemuan pertama. Cieee haha... ohya, dia tahu namaku karena membaca name tage yang segede laptop. Sial! Dia tidak memakai name tage sepertiku. Aku jadi tidak tahu siapa dia.


NB: Terinspirasi dari gaya menulis Ayah Pidi Baiq, karena baru tiga hari yang lalu baca novelnya, dan terinspirasi dari Mr. Jostein Gaarder. Aduh, aku bingung tugasnya, jadi begini aja deh. Oke yah? 

#TugasFiksi6

Minggu, 23 Juli 2017

Bahasa-Bahasa Perempuan

https://decaires.wordpress.com/2011/07/03/perempuan-itu/

Malam adalah kamu. Malam yang dengan bulan, tapi bukan bulan biasa, yang lebih dari tujuh puluh tahun muncul sekali, sebab kamu muncul sekali setelah bumi merubah energi mulia menjadi kamu. Kamu yang dari air, dari binatang, lalu kamu.

Seperti saat bulan menjelma menjadi matahari pukul tujuh belas, kamu bertanya tentang sebab-musababnya, lalu kujawab dia hanya ingin melihatmu lebih dekat, sebab malam itu serupa malam seribu bulan. Tapi itu bukan yang kutuju, maka aku mengafirmasi. Bahwa dirimu serupa bulan yang menjelma matahari pukul tujuh belas, yang berwarna biru, yang diteman rasi bintang sqorpio.

“Tapi kenapa?” tanyamu.

Itu adalah bahasamu, bukan seperti bahasa-bahasa perempuan biasa. Sebab mereka terbiasa menonton sinetron dengan alur sangat manis tapi pahit, membaca novel romance tapi bohong, membeli karcis bioskop pada malam minggu yang fana. Kamu selalu tidak peduli pada asas feminisme, kemanja-manjaan, atau pada lipstik merah, bedak tahan air, alis sempurna, pipi yang seperti babi baru lahir.

Tentu saja, sejak Ayahmu berperan sebagai pedofil, hidupmu serupa boneka pemuas kemaluan pria, “tetapi bahkan dia tidak punya malu?” katamu. Aku tergelak. Mungkin kamu mau bilang ini adalah ironi yang tragis sekaligus bengis. Disebut apakah kemaluan jika malu telah dibakar habis oleh kebanalan?

Dia tidak punya malu, bahkan arwah-arwah takut padanya. Bagaimana mungkin rasa takut ada dalam ujung hidungnya? Kamu pernah meminjam buku yang berjudul Hari-hari Terakhir Socrates, lalu berpusing kedalamnya. Lalu selepas itu bahasamu lebih tidak seperti bahasa-bahasa perempuan biasa. Kamu berceloteh tentang kesucian. Pada akhirnya meluncur dari bibir mungilmu.

“Apa aku masih suci?” Bertanya pada bayang-bayangmu yang hitam, mengikuti tiap inci tubuhmu.

            Bahkan kamu lebih suci dari orang-orang yang mengaku suci, dari orang berkostum agama yang mengkomersilkannya, dari orang yang kehilangan imajinasinya. Sesuci cahaya embun pada bougenvil saat dramatis kita bertemu. Kamu tidak takut padaku. Tidak terlintas di benakmu bahwa mungkin saja kamu lepas dari lubang buaya satu dan terjerembab di lubang komodo. Aku baru saja kehilangan istri dan anak-anakku

            Aku bercerita padamu bahwa bagiku kehilangan istri tidak membuatku bersedih, justru ada hawa kelegaan yang mengalir dalam lubang di hatiku. Dua anakku turut menjadi korban kebengisan. Aku menemukan mereka saat aku pulang dari luar kota untuk membeli keperluan tokoku, istriku sudah kaku dalam keadaan telanjang, kedua anakku yang berusia tujuh dan dua tahun mati ketakutan, mata mereka menonjol hampir keluar. Mendadak darahku membeku, dan aku tidak mengingat apapun kecuali saat aku terbangun, aku sudah berada di rumah sakit.

            Sesaat setelah sadar, kutatap langit-langit rumah sakit yang putih, lalu tiba-tiba hawa kehilangan menggerayangi tubuhku. Setetes butiran bening jatuh begitu saja dari sudut mataku. Ingatanku kembali saat perjumpaan awal kita yang tidak romantis, yang membawa luka dari lingkaran nasib yang bengis.

            Di jembatan perbatasan antara kotamu dan kotaku, yang kini telah bertransformasi lebih modern dan berkelas. Kamu berdiri di salah satu sisi jembatan, memandang laut lepas. Ada kebekuan waktu yang membuatku sejenak melupakan masalahku. Masih kuingat dengan jelas kamu mengenakan dress berwarna gading dengan cardigan merah.

            Tiba-tiba kamu terisak. Dan seketika itu aku menyimpulkan, di sini kita mempunyai tujuan yang sama. Mengasingkan diri dari nasib yang tidak berpihak pada kita. Rasanya saat kau terisak ingin aku mendekat padamu, tapi itu tidak akan membuatmu lebih tenang, aku pernah membaca artikel bahwa dengan menangis bisa membuat hati menjadi lebih lega, walaupun tidak mengatasi masalah. Setidaknya kamu mempunyai kepuasan akan luapan dari emosimu.

#Tantangankelasfiksi4