Jumat, 26 Mei 2017

Habib Luthfi

Habib Luthfi


Siapa yang tak kenal Habib Luthfi? Tentu saja banyak yang belum kenal beliau, boleh jadi malah mendengar namanya pun baru kali ini. Tapi beliau pasti dikenal anak kecil yang menyenandungkan sholawat nabi, remaja-remaja yang cinta maulid Nabi, orang dewasa yang hobi mengunjungi majelis Rasulullah, dan tentu saja ulama-ulama, hingga ulama luar negeri.

Habib Luthfi adalah alim ulama asal Pekalongan, beliau sosok ulama berhati teduh, tatapan matanya tajam tetapi menentramkan, ucapannya berserasian dengan petuah Baginda Nabi Muhammad SAW, perangainya memanusiakan manusia, dan yang tak kalah penting cinta tanah air.

Tetapi siapa yang peduli selama masih ada ulama yang tiap hari diberitakan tv? Entah itu pemberitaan negatif atau positif, tetap saja itu ulama. Apa saja yang dilakukannya selalu benar. Begitulah sebagian orang berfikir. Ulama selalu benar. Benarkan? Bukankah yang Maha Benar adalah Tuhan? Bahkan Rasulullah yang dijamin perangainya pernah berlaku kurang baik hingga mendapat teguran dari Allah. Ingatkah saat Allah menegur Nabi dengan menurunkan surat Abasa yang artinya Bermuka Masam?

Jadi ungkapan ulama selalu benar tidak bisa diterima oleh akal. Ulama juga adalah manusia yang mempunyai nafsu dan iman, yang tentu saja dapat berbuat khilaf. Percaya pada ulama itu dianjurkan, tetapi manusia diberi akal, agar tahu membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Jadi percayalah selama ucapannya berserasian dengan Rasulullah, tetapi ingkarilah jika ada sesuatu sebab yang melatarbelakanginya. Sebab, masih banyak ulama yang bisa dijadikan panutan.

Pada orang-orang yang merasa kehilangan sosok ulama dan membutuhkan sosok ulama untuk diikuti, maka kuperkenalkan ulama sederhana yang ceramahnya menyejukkan, menyatukan, sekaligus menentramkan. Beliau adalah Habib Luthfi bin Yahya.

Memang beliau tidak riwa-riwi masuk tv, tapi tanyakan pada tetanggamu yang sering menghadiri majelis maulid Nabi, pasti beliau tahu, bahkan mengidolakan sosoknya. Jika beliau mau, beliau bisa muncul di tv setiap waktu, itu mudah saja. Beliau ini ketua perkumpulan ulama internasional (mudahnya bisa dikatakan seperti itu), sudah dua kali beliau mengadakan perkumpulan ulama internasional, jika beliau mau, pasti konferensi itu dengan mudah akan ditayangkan di tv.

Apalagi mengerahkan massa? Itu sangat mudah, setiap kali beliau diundang dalam acara maulid, dihadiri sekitar seribu orang, kalikan dengan setiap malam tiada henti beliau selalu diundang untuk menjadi penceramah dalam acara maulid, maka jumlahnya akan sangat banyak. Itu mudah sekali bagi beliau, satu kali saja perintah, tidak ada yang menolaknya.

Tetapi Abah (Panggilan akrab untuk beliau) adalah sosok ulama sederhana, mana mau beliau begitu? Bagi beliau yang terpenting adalah kesatuan NKRI, NKRI Harga mati, cinta tanah air, beliau mewarisi perangai ulama Indonesia yang menjadi kontribusi bagi kemerdekaan negeri ini, Hubbul Wathon Minal Iman, begitu jargon yang dilantangkan KH. Hasyim Asy’ari, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Maka, lihatlah, beliau begitu menghargai pemimpin negeri ini, begitu pula sebaliknya.



Tahukan? Negara akan maju jika pemimpinnya amanah, ulamanya mendukung pemerintah, dan tentu saja rakyatnya mendukung pemimpinnya. Maka, negeri akan aman, bahkan maju. Tetapi lihatlah negeri ini, terpecah, seolah ada dua golongan, yang sebenarnya mereka adalah satu.


Jika saja, penduduk negeri ini kenal pada sosok ulama sekeren, sehumanis, secerdas, sealim, seulama (dan sese yang lain) beliau. Pasti kalimat berikut bukan angkan kosong; Alangkah indah negeri ini.

1 Ramadhan 1438 H.
Habib Luthfi
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

1 komentar:

Tulis komentar
avatar
26 Mei 2017 pukul 23.14

Sangat bermanfaat Mbak ... terima kasih. Ditunggu tulisan selanjutnya. 😊

Reply

-Terima kasih telah berkunjung di blog ini. Silahkan tinggalkan kritik, saran untuk perkembangan.