Senin, 01 Mei 2017

Yang Media Tidak Katakan

Yang Media Tidak Katakan


Tidak ada yang lebih menarik bagi mahasiswa selain diskusi idealisme. Mungkin demikian teorinya, tetapi untuk generasi millenium, bahasanya akan lain, menjadi tidak ada yang lebih menarik bagi mahasiswa selain berselancar di media sosial, atau wifi gratis, atau view yang unik untuk selfie.

Walaupun demikian, percayalah masih ada mahasiswa yang mengaku tertarik dengan idealisme, mereka adalah kumpulan kecil dari mahasiswa yang berdiri di atas independensi. Berbicara tentang kebenaran, mencoba melawan ketidakadilan dengan jurnalisme, lalu menyejarah melalui sastra.

Berbicara tentang generasi millenium, mereka adalah generasi yang akan meneruskan negara ini, baik atau buruknya nanti, mereka yang akan menentukan. Tetapi berbagai tantangan global menggempur mereka dari sudut manapun, salah satunya media sosial. Mereka asik mengupload foto selfie, sementara tidak tahu bahwa dibelahan dunia lain terjadi perang. Mereka asik mengupload foto makanan yang tengah dibeli di cafe, sementara di sudut pulau lain bahkan untuk mendapat air bersih pun sulit.

Belum lagi akhir-akhir ini adu domba media tidak terelakkan lagi, mereka saling menjatuhkan sesama saudara setanah air hanya karena pemilihan pilkada di Ibu Kota. Saling mencela, menghina, menyindir, dan entah apa yang didapatkan dari melakukan hal-hal tersebut.

Hal itu tentu tidak terlepas dari banjir informasi yang dengan mudah didapatkan. Entah dari TV, koran, media sosial, dan lainnya. Tetapi sadarkah akan hal yang sebenarnya terjadi di negeri ini?

Berangkat dari hal-hal tersebut, tentunya sangat penting bagi kita untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di negeri ini, dan untuk itu, kita harusnya mengerti bagaimana memanfaatkan keterbukaan informasi tanpa termakan oleh informasi yang disuguhkan.

Maka, terbentuklah ide untuk mengadakan seminar yang bertema Analisis Framing Media: Yang Media Tidak Katakan.

Seminar tersebut terselenggara dengan lancar, dengan dua pemateri, yaitu Bapak Alex Sobur (Pakar Jurnalistik, Dosen Unisba) dan Muhammad Haeychal (Direktur Remotivi-Lembaga Kajian Media).

Analisis Framing Media itu sendiri sederhananya adalah menganalisis bagaimana media membingkai suatu berita. Berita tersebut tidaklah hoax atau fake, tetapi berita tersebut menggiring opini publik pada pesan yang ingin disampaikan.

Misalnya pemberitaan seputar pilpres tentang judul yang bertajuk: Paslon X menang di daerah pelacuran, berita tersebut seakan mengatakan bahwa yang memilih paslon x adalah pelacur, padahal banyak pula daerah lain yang memenangkannya, demikian pula dengan berita dari media lain yang bertajuk Paslon Y menang di rutan koruptor, seakan mengatakan yang memilih paslon y adalah para koruptor.

Siapa yang memback up? Tentu saja pemilik media yang pendukung salah satu paslon.

Framing media bukan terbatas hanya kepentingkan politik, tetapi ekonomi juga. Bentuk pemberitaan framing media pun berbagai jenis, penyebutan kata sifat dalam pemberitaan, juga termasuk framing media.

Maka, berhati-hatilah dalam menyerap informasi.

Inet Bean
1 Mei 2017
Yang Media Tidak Katakan
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

2 komentar

Tulis komentar
avatar
1 Mei 2017 pukul 13.45

Emang ngeri banget peran media dewasa ini. Ini bisa masuk kategori Gowzul Fikr (perang pemikiran) juga kan, mbak?

Reply
avatar
1 Mei 2017 pukul 22.19

Yang membelokkan fakta adalah media massa. Yah memang begitulah.

Reply

-Terima kasih telah berkunjung di blog ini. Silahkan tinggalkan kritik, saran untuk perkembangan.