Kamis, 24 November 2016

Saat Waktu Hanya Ilusi

Saat Waktu Hanya Ilusi


http://resepmasakanmaut.blogspot.co.id/2016/09/resep-cara-membuat-tempe-mendoan-khas-super-enak-lezat.html


Oleh: Inet Bean

Saat waktu hanya ilusi ketika kita duduk di bawah kejinggaan cahaya mentari, menyerupai lensa yang memotret sebagian tubuh dari arah timur. Sementara deburan ombak seumpama penambah kesyahduan penghapus waktu.

Masih ada satu-dua penjual es kelapa muda, gorengan, mie ayam hingga bakso yang belum menunjukkan tanda-tanda bergeming. Demi melihat raut kelelahan seorang kakek yang setia menunggu pembeli, kau mengajakku ke sana.

Kita berjalan bersisihan, kau memegang tanganku, mengisi di antara jari-jariku, erat. Seakan kau bilang ‘aku akan terus menggenggam tanganmu, sampai kapanpun.’

Lagi pula  kita sudah tahu masalah pada diri kita masing-masing. Penyebab kau pergi dan kenapa aku membiarkanmu pergi begitu saja. Tetapi itu hanya casing luar saja, di belakang itu kita tak kuasa menahan sepi yang sesak.

“Mbah, taseh enten mendoane?” Kau memikirkan mungkin saja kakek itu akan lebih fasih berbahasa Jawa.

“Nggeh, niki taseh,” jawab kakek, tersenyum ramah, tampak guratan-guratan yang seakan berbicara bahwa tiap guratan mewakili tiap zaman. “Sekedap, tak goreng riyen nggeh?”

“Nggeh, Mbah...” Kita membalas senyuman ramahnya

Dari percakapan antara kau dan kakek, aku mengetahui. Namanya Suryadi, biasanya dipanggil Mbah Di. Dulu ia berjualan bersama istrinya, namun sejak dua tahun lalu Mbah Di berjualan sendiri lantaran istrinya meninggal, sementara anak satu-satunya telah menikah dan merantau bersama suaminya di Ibu Kota.

Kau dan Mbah Di sudah tampak akrab walau baru bertemu, seakan kawan lama yang baru berjumpa. Sementara itu aku hanya menyimak, sesekali ikut tersenyum saat keduanya tertawa, memerhatikan jemari Mbah Di yang begitu cekatan membuat mendoan.

Mbah Di  menenggelamkan tempe kira-kira berukuran lima kali lima sentimeter ke wadah berisi adonan dari tepung, daun bawang, garam, dan rempah-rempah lainnya. Dan mengangkatnya untuk kemudian di tenggelamkan dalam minyak goreng panas di wajan.

Tidak perlu menunggu lama, mendoan dan teh panas sudah tersaji di hadapan kita. Karena mendoan memang tidak perlu sampai kering, seakan setengah matang.

“Kau tahu? dulu, Ibuku berasal dari Kota Mendoan,” Kau mengambil satu mendoan yang masih menguarkan kepul asap. ”Kenapa ya? Aku seperti tidak asing dengan Mbah Di? Apakah karena keramahannya atau jangan-jangan dia kakekku?”

Aku tersedak, sementara itu Mbah Di hanya tersenyum ramah seperti tadi, entah dia mendengar pertanyaanmu atau tidak.

#TantanganCerpenKuliner
24 November 2016



Saat Waktu Hanya Ilusi
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

4 komentar

Tulis komentar
avatar
24 November 2016 pukul 20.03

eh, mendoang tuh bahasa mana sih net? di solo kita nyebutnya mendoan, ga pake "g".

Reply
avatar
24 November 2016 pukul 20.40

Pekalongan sih, tapi mungkin kupingku aja yang agak soak, ahahaha

Reply
avatar
24 November 2016 pukul 23.11

mendoan enak di makan hangat2 pa lagi saat cuaca dingin, uhmmm..yummyyyy

Reply
avatar
24 November 2016 pukul 23.13

mendoan enak di makan hangat2 pa lagi saat cuaca dingin, uhmmm..yummyyyy

Reply

-Terima kasih telah berkunjung di blog ini. Silahkan tinggalkan kritik, saran untuk perkembangan.