Senin, 11 September 2017

Kepuasan antara jadi Objek Foto dan Fotografer

Kepuasan antara jadi Objek Foto dan Fotografer

http://tipsfotografi.net/fotografer-harus-punya-flare.html

Di jaman sekarang, swafoto atau selfie sepertinya sudah menjadi kewajiban ketika ada acara tertentu atau sedang ada moment yang berkesan, bahkan adapula yang menjadikan swafoto sebagai obat, tiga kali sehari. Jika tidak swafoto dalam sehari, terasa ada yang salah dalam hidupnya.

Tetapi yang miris, sekarang swafoto tidak dilakukan ketika sedang bahagia saja, beberapa pernah kujumpai, abg yang swafoto saat dia sedang menangis, lalu diposting dengan caption tentang putus cinta yang memilukan, jujur saja postingan seperti itu membuat mataku pedih, dan buru-buru ingin mengenyahkannya dari beranda facebook-ku jika saja bisa.

Jadi, secara tidak langsung, swafoto dilakukan demi kepuasan hati, mereka melakukannya untuk mengungkapkan apa yang dirasakan, termasuk kepiluan hati dan disebarkan di media sosial. Hal itu bisa jadi adalah suatu bahaya psikologi.

Seperti pemuda Inggris yang depresi akibat sering berswafoto. Ia terobsesi untuk terlihat fotogenic, bahkan dalam sepuluh jam sudah 200 foto yang dia ambil, akibat dari tidak terpenuhi keinginannya, dia ingin mengakhiri hidupnya.

Beberapa bahaya psikologi dari hobi swafoto yang perlu diwaspadai yaitu gangguan penyakit mental, krisis kepercayaan diri, kepribadian narsis dan kecanduan. bahkan psikiater pemerintah Thailand telah mengimbau kepada pemuda-pemudinya agar tidak melakukan swafoto, karena bertambahnya pemuda galau yang membuat jumlah calon pemimpin generasi baru berkurang.

So, kurangilah berswafoto. Sebelum kecanduan hai pembaca blog lemping pena.
Lantas bagaimana soal kepuasan menjadi fotografer? Ah ini akan ku-share berdasarkan pengalaman pribadi saja, karena jujur saja aku lebih suka mengambil foto dari pada diambil foto. Aku sadar diri, aku ini tidak fotogenic, aku selalu pede dengan bilang kenyataannya lebih bagus daripada fotoku yang diambil tapi dalam hati bilangnya, heuheu.

Makanya aku lebih suka mengambil foto saja, tak jarang di beberapa acara, aku mendadak jadi fotografer, entah karena orang lebih berminat di foto, sehingga jika menjadi fotografer otomatis tidak difoto, atau karena memang aku yang bisa mengoperasikan kamera LDR, eh DSLR maksudku, padahal jujur saja aku tidak terlalu bisa mengerti pengaturannya, tapi setidaknya aku lumayan berwawasan soal mengambil angle, atau sukarela saja jadi fotografer, toh aku suka.

Saat mengambil foto, dan itu bagus, seperti ada kepuasan tersendiri, seperti mengabadikan moment istimewa, seperti menghasilkan seni yang estetik. Apasih? Aku bicara apa coba? Pahamkah? Untuk memahami, kamu coba saja sesekali jadi fotografer, ingat, tangkap moment istimewa, biasanya foto yang seakan bisa berbicara.


11 September 2017. Catatan Inet Bean.

referensi: http://doktersehat.com/hobi-selfie-waspadai-bahaya-psikologi-ini/

Testimoni pemateri yang puas atas foto yang kuambil, haha
agak narsis dikit gapapa yah.
Foto ini berbicara gak menurut kamu? Maksudku seperti menjelaskan ketiga objek sedang melakukan kegiatannya sendiri-sendiri.

Kepuasan antara jadi Objek Foto dan Fotografer
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Suka dengan postingan di atas? Silakan berlangganan postingan terbaru langsung via email.

6 komentar

Tulis komentar
avatar
11 September 2017 pukul 07.09

Hhaaa... ajarin LDR an net eh pake DSLR maksudnya 😂😂

Reply
avatar
11 September 2017 pukul 12.35

Terkadang foto bisa mewakili kata-kata. Keren, Inet :)

Reply
avatar
11 September 2017 pukul 12.56

Keduanya bisa tak share mbak Cian... wkwkwk

Reply
avatar
11 September 2017 pukul 12.56

Makasih, foto jurnalistik namanya, Bun, hehe

Reply
avatar
11 September 2017 pukul 14.53

hahaha kalau aku fotoin orang sengaja di blur-in biar gak di suruh motoin lagi wkwkwk

Reply
avatar
11 September 2017 pukul 20.11

Wah cerdik sekali Kaka, macam kancil, wkwkwk

Reply

-Terima kasih telah berkunjung di blog ini. Silahkan tinggalkan kritik, saran untuk perkembangan.